(Men-) Celat

Pernahkah merasa tidak berada di tempat tubuh berada? Tubuh di sini, tapi jiwa mencelat entah ada di mana; di suatu tempat yang benar-benar kita inginkan. Aneh, saya merasa seperti itu sekarang. Setidaknya, beberapa menit yang lalu sebelum saya menuliskannya sebagai upaya men-distract mencelatnya jiwa saya.

Tadi, saya sedang menyeruput kopi anget di meja kantor ini. Di sekeliling saya ada beberapa orang, tapi sunyi. Suara mereka tidak kedengaran, yang ada hanya denting-denting instrumen dan geletar suara Adelle keluar dari headphone yang siaga di dua kuping saya. Saya masih tetap di meja, meneguk santai kopi saya, sampai tahu-tahu saya melihat diri saya sendiri terduduk di sebuah pantai perawan bersama seorang lelaki entah siapa. Berdua saja, bertiga jika Senja mau dihitung.

Lelaki itu tidak berwajah, tapi rasanya dia begitu saya damba-damba. Kami sama-sama menggenggam gelas. Saya dengan kopi anget saya, dan dia dengan kopi dinginnya. Sama sekali tidak ada bicara, berdua sibuk minum kopi sembari saling lirik saling senyum cantik. Seolah, kami bicara melalui bahasa yang hanya kami saja yang tahu. Lalu, di senyum kesekian lelaki entah siapa itu, saya terlempar kembali ke meja saya. Tidak ada pantai, tidak ada senja, yang ada hanya kopi anget dan PC di depan mata saya.

Pernahkan merasa jiwa mencelat macam itu? Mungkin, itu hanya bengong-bengong biasa. Tidak ada yang istimewa. Tapi rasanya, angin pantai tadi masih siup-siup terasa membelai-belai tengkuk saya. Nah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s