Mereka Gila! Gilakah?

Kemarin itu, dalam perjalanan Pasar Minggu-Lebak Bulus, saya bersinggungan dengan tiga orang kurang berakal sehat. Bersinggungan dalam artian tidak cuma memandangi mereka dari jarak sekian. Tapi, saya sempat jadi sasaran perhatian mereka. Aneh, tiga orang kurang waras dalam satu hari?

Pertama, di bis yang saya tumpangi. Ada seorang bapak, berambut ikal beruban dengan panjang sebahu yang duduk di barisan kursi paling belakang. Diam saja dia dengan wajah datarnya, memandang ke arah lurus ke depan. Kosong, tanpa objek. Sementara saya yang tidak kebagian kursi, berdiri di depannya dengan posisi menyerong dari pandangannya. Dari ekor mata saya, kelihatan setiap gerakannya yang minim itu. Dia hanya sesekali bernapas dengan bahu terangkat. Dari mana saya tahu dia kurang waras? Karena tatapan kosongnya? Tidak cuma itu. Dari penampilannya (pakaiannya yang robek sana-sini) dan misuh-misuh kondektur kepada supir. Sampai saat bis ini keluar tol di daerah Pondok Indah, lelaki itu berdiri, menuju pintu (tepat di depan saya berdiri sejak awal), lalu dia menatap saya, dan terbahak sekitar beberapa menitan. Saya? Kaku dan mati langkah.

Kedua, di daerah sekitaran Terminal Lebak Bulus. Karena bis yang saya tumpangi memilih ngetem di SPBU sebelah kantor Female Magazine, jadi saya memilih pula untuk turun dan jalan kaki sampai Pasar Jumat. Dan, saat jalan di trotoar sebelum perempatan Pasar Jumat, perempuan berkaus merah dan bercelana kargo hijau muda menyerempet. Dia bilang, “Misi, Mbak.” Saya pikir masih normal, dan saya cuma punya kesan, perempuan paruh baya ini cuma temperamental dan nggak sabaran. Tapi, ternyata setelah dia mendahului saya, dia berbalik arah dan memukul tas cangklong saya keras-keras. “Wah, stres,” saya bilang.

Lalu, naiklah saya angkot merah menuju kantor. Orang kurang waras yang terakhir memang tidak ‘bersentuhan’ dengan saya. Saya hanya menatap dia dari dalam angkot, menatap laki-laki juga paruh baya berambut awut-awutan beruban dengan kaus polo lusuh cabik-cabik. Dia berdiri di pinggiran semacam sungai kecil di depan komplek Lebak Lestari Indah. Ini mungkin biasa. Tapi, dia berdiri sembari memainkan ‘burung kecil’-nya di balik celana. Dengan muka yang “biasa saja” (seolah apa yang dilakukannya wajar), dia masih terus memainkan permainan yang tampaknya asyik buat dia. Di depan banyak anak SMP yang baru kelar jam sekolah; perempuan dan laki-laki. Ini gila, saya pikir.

Dan, begitu saya sampai kantor, terpikir, kenapa semakin banyak orang “menggila” (menjadi gila)? Kenapa juga begitu banyak orang gila yang saya temui hari ini? Aneh, dan menyita pikiran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s