Obasute: Gestur dan Mimik Cukup

Lighting black out. Gemerisik pakaian orang-orang yang baru datang masih terasa. Mereka pelan memadati Teater Luwes IKJ yang Senin malam itu, 26 Juli 2010, dijadwalkan menggelar lakon Obasute (Membuang Nenek) yang dibawakan Teater Harpon asal Jepang pimpinan Hara Tomohiko.

Saya sudah tenang di posisi. Sambil menunggu panggung beraktivitas, saya membaca booklet dengan bantuan penerangan dari ponsel; mengenali siapa-siapa yang akan tampil melakon dan sedikit sinopsis sekadar memancing penasaran.

Beberapa menit kemudian, ketika lalu-lalang orang mulai sepi, lampu panggung yang kekuningan pucat menyala. Di panggung utama yang kosong (atau bahasa teknisnya, ber-setting minimalis), tergeletak perempuan berkimono biru, Hana Si Cucu (Ando Ayuko). Lalu, dari arah penonton, seorang berseragam coklat tanah menghampiri Hana. Ia hanya pengembara. Sama sekali tidak kenal dengan tradisi Obasute yang baru saja dialami Hana.

Memangnya apa itu Obasute? Mulailah Hana mengulang masa lalu. Beralih ke panggung kecil di depan panggung utama, Hana bersama Baba (si nenek, diperankan Hara Tomohiko) menghabiskan banyak waktu bercerita, menari-nari, dan bersenda-gurau di bawah pohon tsubaki merah—bunga yang hanya mekar ketika musim dingin. Sampai akhirnya, Baba sadar, tradisi harus dijalankan; tradisi yang mengharuskan seorang nenek meninggalkan keluarga untuk pergi ke Gunung Obasute Yama, tidak kembali lagi. Semua demi kebaikan keluarga, untuk mengurangi beban persediaan makanan.

Sadar kalau waktu untuk Obasute tiba, Baba sengaja menghabiskan satu hari seharian bermain-main dengan Hana, masih di bawah pohon tsubaki. Sampai kemudian, hari berakhir dan Baba pamit kepada Hana untuk pergi ke gunung diantar Anak Baba (Gatot Prabowo) dengan cara digendong. Bagian perpisahan ini semakin terdengar pilu dengan iringan nyanyian dari Owaki Kaoru yang bersuara sopran. Ini bagian paling sedih, saya pikir.

Scene berganti dengan pemandangan Anak Baba yang menggendong (harfiah) Baba dari panggung utama sebelah kiri, membaur ke penonton, lalu tiba di panggung utama sebelah kanan. Menurut tradisi, Baba boleh kembali ke keluarga kalau ia bisa tertawa. Karena itu, Anak Baba mencoba menari, bernyanyi, dan menirukan gerakan-gerakan lucu untuk membuat Baba tertawa. Usaha yang sia-sia. Baba menjauh pergi, tidak mau kembali. Sampai mereka berpisah di tengah gunung; Anak Baba pulang dan Baba melanjutkan perjalanan sampai puncak gunung, ditemani serangga-serangga yang menghibur selama perjalanan. Bagian riang ini diiringi petikan gitar dan nyanyian renyah dari Chiku Toshiaki. Cerita diakhiri dengan dramatis ketika Baba menaiki tangga setinggi atap, yang menandakan bahwa Baba sudah sampai di tujuan; maksudnya bisa puncak gunung, atau nirwana. Bebas.

Menonton pertunjukan ini, semestinya yang saya rasakan adalah kendala bahasa. Sebab, bahasa yang digunakan sebagian besar bahasa Jepang. Hanya sedikit bahasa Indonesia, hanya part Anak Baba. Dan, di antara banyak orang yang memenuhi ruang pertunjukan, saya adalah salah satu penonton yang sama sekali tidak mengerti bahasa Jepang. Tapi, anehnya, hal itu sama sekali bukan masalah. Berkat kekuatan gestur dan mimik dari (utamanya) Hara Tomohiko dan Ando Ayuko, rasanya bahasa tubuh mereka sudah sangat bercerita tanpa saya harus paham apa dialog yang diucap.

Tensi pertunjukan menurun justru ketika Anak Baba yang diperankan mahasiswa IKJ, Gatot Prabowo, muncul dengan dialog menggunakan bahasa Indonesia. Masalah sama sekali bukan ada pada bahasanya, yang jelas. Saya malahan terganggu dengan pembawaan karakter yang dimainkannya. Dengan intonasi selayaknya orasi, menjadikan tokoh yang satu ini tidak saya favoritkan. Tapi, Owaki Kaoru dan Chiku Toshiaki menutup lubang itu. Mereka bernyanyi dengan sepenuh jiwa, menyempurnakan pertunjukan. Ya, saya pikir, pertunjukan 70 menit ini menguras emosi. Yang pasti, segala keinginan Hara Tomohiko yang ingin menjadikan pertunjukan ini mengharukan benar berhasil. Setidaknya, saya pulang dengan perasaan tidak karuan, saking harunya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s