Merelakan Senja: Kesekian

“Jangan bawa-bawa nama Landung di sini. Jangan lagi. Dia sudah sama sekali tidak ada,” bisik saya kepada lelaki bertubuh kurus yang berdiri kuyu di hadapan saya.

Siapa Landung? Ia adalah nama yang selalu bergaung setiap kali ada kata “senja” melintas. Serupa kopi yang selalu bisa membuat saya tenang kembali saat saya dalam keadaan paling mengantuk sekalipun. Pun bisa kadang-kadang menjelma tiramisu paling wangi yang ada di dunia. Itu dulu. Sebuah perasaan yang rasanya sudah usang sekali.

Dan, dia sudah berlalu. Jangan lagi kamu pikir dia gangguan. Karena toh dia juga sudah tidak ingin lagi mengganggu. Kami masing-masing sudah bisu soal “kekamian” kami. Karena toh yang menjadi saat ini dan masa depan saya adalah kamu. Jika belakangan saya diganggu mimpi soal dia, maafkan saya. Mimpi ini tidak pernah saya inginkan. Mimpi ini tidak pernah saya bisa atur. Iya, kamu bisa memberi pernyataan bahwa dia memang belum hilang dari pikiran. Bisa jadi. Saya tidak pernah membantah itu. Tapi, ada hal yang lebih penting daripada sekadar mengurusi masa lalu yang sudah sobek-sobek. Yaitu, menjalin simpul yang kuat untuk ‘bekal’ hidup di masa depan. Dan, saya sudah tahu dengan siapa saya ingin menyimpul. Saya juga sudah punya jawaban dengan siapa saya ingin berada, nanti di masa depan dan dimulai dengan saat ini. Ya, matahari sudah terbit. Maka itu, tidak akan ada lagi senja.

“Jika tiga tahun lalu kamu bertanya soal siapa yang akan saya jadikan segala-galanya untuk saya, bisa jadi jawabannya berbeda. Tapi, jika kamu tanya sekarang, yang ada di urat syaraf saya hanya kamu,” bilang saya menutup perbincangan untuk kemudian menutup pintu kelahi di belakang.

2 Comments Add yours

  1. rie76 says:

    Bener-bener dalem deh…Tapi, mungkin adalah sebuah kewajaran bagi seorang lelaki, bila harus terus menerus merasa terganggu dengan ‘masa lalu’ dari pasangannya ya. Nggak tau gimana, kayaknya lelaki umumnya selalu ingin jadi yang terbaik, kalau tidak bisa menjadi yang pertama. Sehingga, ‘kembali terkait’ kembali ke masa lalu…adalah sebuah hal yang cukup menyakitkan sepertinya…

    Nggak tau mesti gimana..but it just like that…

  2. maya says:

    gw suka banget baca-baca postingan di blog loe yang bagian-bagian ky begini. yang ky cerpen2 gini. apa y? loe curhat tapi loe bs bikin itu jadi universal gitu.

    gw jg punya kisah cinta pertama, anyway. emang jd kisah paling nggak bs banget dilupain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s