Pentjoeri Hati

Gedung Kesenian Jakarta, 7 Agustus 2010 malam, tampak lebih sumringah daripada biasanya. Lelaki (Saga Siersa) dan perempuan (Erisca Saravati) yang masing-masing mengenakan cheong sam dan changshan dengan make-up ala Opera China berdialog dengan bahasa China. Mereka wara-wiri di tengah penonton yang menunggu di selasar GKJ, menunggu gong ketiga—tanda ruang pertunjukan boleh dimasuki—dibunyikan.

Sebelumnya, telah tampil Tari Ngarojeng di teras GKJ. Ramai? Pasti. Dan, gong ketiga berbunyi pukul 20.00. Pentjoeri Hati oleh Teater Bejana dimainkan di atas panggung yang di bagian kanan-kirinya sudah ditenggeri spanduk-spanduk bergambar naga serta berbulir-bulir lampion di plafon gedung pertunjukan.

Ber-setting tahun 1930-an, ruang tamu rumah keluarga Yauw Kong Lo (keluarga Peter) dan Tjee Kim Gin (keluarga Lientjetje) bergantian memenuhi panggung. Sembari disisipi narasi berupa nyanyian ala Opera China dan dialog Melayu Tionghoa, alur cerita berjalan. Dimulai dengan pertentangan orangtua Peter  (Derry Oktami) terhadap hubungannya dengan Lientjetje (Felencia) dari Keluarga Tjee Kim Gin.

Tuan Kong Lo: “Peter, lo masih berani juga berhubungan dengan Lientjetje? Apa lo nggak tahu apa yang papa dan mama tidak setuju?”

Peter: “Betul, dulu ia hanya seorang tukang tauco. Tapi sekarang, dia sudah jadi salah satu saudagar terhormat, serta tidak sombong, tidak suka membanggakan kekayaan, hidup sederhana, bisa berlaku rendah pada segala golongan.”

Dan, ketika orangtuanya sama sekali bergeming, Peter hanya punya satu jalan keluar, yaitu bersandiwara, berpura-pura menjadi pencuri perhiasan milik Lientjetje. Akibatnya, kasus sampai ke tangan polisi Belanda dan Peter jadi buron. Kalau sudah begini, Tuan Kong Lo (Didi Hasyim) dan istri (U’ut Aswadi) mau tidak mau juga hanya punya satu jalan keluar untuk menolong anaknya dari jeratan bui, yaitu menikahkan Peter dengan Lientjetje agar tuduhan hilang.

Tuan Kong Lo: “Sebenarnya, Owe tidak setuju Peter berhubungan dengan Lintjetje. Tapi, keadaannya sudah tidak enak begini… Owe akan menikahkan Peter dengan Lientjetje.”

Saya dari awal sudah terhibur dengan karakter-karakter para pemainnya, terutama Oentoeng (Joseph Viar Suhendar), pembantu keluarga Kong Lo. Ditambah lagi kemeriahan dari Kie Swan Kim (Christianus Yanto), Ny. Tjee Kim Gin (Liilis Ireng), Tjee Kim Gin (Iphie Lubis), Ki Pasangin (Ireng Sutarno), Mak Cepot & Siti (Dewi Indah Jaya), Sam (Diky Soemarno), serta Josh (Hendro Merah Jambu). Membuat seisi GKJ ketawa renyah. Dengan konsep drama-komedi, pementasan ini cukup enak ditonton, lepas dari banyak artikulasi yang meleset di sana-sini. Musik dari Mahagenta di telinga saya berhasil menyempurnakan ‘kemasan’ Tionghoa.

Semakin girang saya ketika tahu-tahu di penghujung pementasan, saat diceritakan di hari pernikahan Peter dan Lientjetje, dari pintu depan ruang pertunjukan muncul berturut-turut tarian Ngarojeng, liong, terakhir barongsai. Saya bisa pulang dan tidur nyenyak malam ini.

3 Comments Add yours

  1. angga says:

    saya dateng yang hari Minggu. seru sih. bener banget, saya paling suka pas ada liong, barongsai, sama tari-tari itu. it tastes different.

  2. putrikatak says:

    Saya rindu menonton dan menikmati teater… Lebih rindu lagi ikut sibuk di dalamnya. tret😦

    1. atre says:

      hyuk, at least nonton hyukkk. nonton barenggg…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s