The Address Movie

Tempo hari, saya diperlihatkan oleh seorang teman, Mahargyo Jati, sebuah film karya temannya, Harvan Agustriansyah. Saya sama sekali tidak kenal siapa Harvan ini. Yang hanya saya tahu, lelaki ini (pernah) kuliah di jurusan film IKJ. Soal ia sudah lulus atau belum, kerja di mana, tinggal di mana, saya sama sekali tidak tahu. Tapi, saya jadi ingin tahu setelah nonton film karyanya ini.

Judulnya The Address. Saya pikir film yang durasinya cuma sekitar 7 menit ini menarik sekali. Subjektif? Bagaimana bisa? Toh saya sama sekali tidak kenal orang yang membuat film ini? Jadi, kenapa ini bisa menarik? Pertama, film ini merupakan proyek Harvan untuk Film Expo Asia 2010. Kalau dari cerita Nunug, Harvan mendapat dana sekitar Rp10 juta untuk film dan biaya hidupnya selama 2 bulan lebih di Thailand. Ini adalah kontes film pendek yang digelar National Federation of Thai Film Associations yang meminta tema soal kecintaan rakyat Thailand terhadap rajanya.

Setelah googling-googling kecil, saya tahu ternyata Harvan tidak sendiri membuat proyek ini. Ada beberapa nama lain, seperti Pisanu Panyasheewin, Yunus Patawari, Nikko Syoni Tanzil. Mereka membawahi tim bernama Bajingsay Film.

Syuting film ini juga di Thailand dengan para pemain dari Thailand dan satu orang talent orang asing (berkulit hitam). Soal para cast, untuk satu keluarga Thailand itu (satu ayah muda, satu ibu muda, dan satu anak perempuan balita), semua disiapkan pihak Thailand. Seharusnya, cast untuk si pemeran utama, si pria berkulit hitam, ini pun disiapkan pihak sana. Hanya saja, tidak ada yang cocok. Jadi, akhirnya ia random mencari di Thailand dan menemukan seorang laki-laki muda berstatus mahasiswa yang mau mengambil peran ini. Behind the scene-nya saja sudah menarik, bukan begitu ya?

Apa yang ada di bayangan kamu ketika mendengar tema yang diminta? Jujur, awal saya diberi tahu Nunug, saya langsung membayangkan segala macam ritual dan tradisi Thailand. Tapi, The Address totally jauh dari sangkaan. Cerita dimulai ketika sebuah keluarga; ayah, ibu, dan anak perempuan berkostum tradisional Thailand; ketinggalan tuk-tuk (sejenis tronton, angkutan umum). Mereka hendak ke mana, itu tidak diceritakan. Mereka cuma berdialog kecil, “Wah kita terlambat.” Tapi, alih-alih terburu-buru mencari alternatif transportasi yang lain, mereka malah duduk di pinggiran jalan.

Sementara, di scene yang berbeda, seorang turis sibuk bertanya-tanya kepada penduduk setempat soal sebuah alamat yang tertera di kertas yang dia pegang. Ia berbahasa Thailand, tapi alamat itu tetap tidak ketemu karena ternyata digambarkan (kemudian) kalau alamat itu tersembunyi di antara toko-toko. Semua orang yang si negro itu mintai tolong menggeleng tidak tahu. Sampai akhirnya, ia bertemu sebuah keluarga yang tadi ketinggalan angkot yang sekarang sedang duduk-duduk di tepian jalan. Mungkin, tertebak, keluarga itu akhirnya mengantarkan si kulit hitam mencari-cari alamat; jalan kaki, ke sana-ke sini. Digambarkan membagi diri jadi dua tim: si ayah dan anak perempuan, lalu si istri dan si kulit hitam.

Oke, sampai sini, saya masih ‘mengharap’ akan ada ritual atau tradisi kerajaan Thailand yang muncul. Tapi, yang ada di hadapan saya hanya mereka berempat yang celangak-celinguk di sepanjang jalan, mencari-cari alamat. Tanpa bicara, tanpa dialog. Hanya mencari. Sampai akhirnya, tim satu (ayah dan anak) menemukan sebuah kafe kecil nyempil yang cocok dengan alamat di kertas itu. Mereka menemukan alamatnya. Dan, muka turis itu berubah girang karena ternyata itu adalah tempat ia bisa bertemu teman-temannya untuk sekadar minum-berkumpul. Aih, sama sekali tidak ada penting-pentingnya. Dan, saking sibuknya dengan teman-temannya di dalam kafe, sang turis tadi meninggalkan keluarga tadi di luar kafe. Sampai akhirnya, teman-teman orang asing itu menyuruhnya untuk mengajak keluarga itu masuk dan mengajaknya istirahat serta minum. Tapi, ketika ia keluar kafe, keluarga itu sudah tidak ada. Mereka tanpa pamrih. Mereka ikhlas. Dan, itu tergambar dengan apik sekali.

Satu hal, orang asing itu bahkan lupa untuk memperkenalkan diri atau mengenal sekadar nama keluarga tadi. Di sinilah rasa cinta terhadap Thailand tercermin. Masyarakat Thailand, saking cintanya pada raja, mereka akan menjaga nama baik sang raja dengan menolong turis yang kesulitan. Agar Thailand tetap dikenal bernama baik, begitu mungkin. Hanya begitu saja. Iya, tapi saya pikir menarik. The Address.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s