Demam Fingerboard

Gara-gara orang ini…

Saya jadi suka main-main ini…

Fingerboard. Mainnya seperti semacam skateboard hanya saja pakai jari, lebih tepatnya hanya pakai dua jari; telunjuk dan jari tengah. Mustahil? Wah, sama sekali tidak. Agak sulit memang awalnya, yang ada si fingerboard terpelanting jatuh ke lantai, ke belakang lemari, atau ke bawah meja. Tapi kalau sudah terbiasa, mau 50-50, nosegrind, grind, apa pun bisa jadi mudah.

Di kantor saya, masih gara-gara lelaki di atas tadi yang punya nama Zulfiq Ardi Nugroho–atau panggil aja Upik, bisa juga dipanggil pedut (perut gendut, karena perutnya memang buncit. pisss, Pik). Kalau si Upik, sudah sejak kuliah main fingerboard. Kesukaannya dari kuliah itu dibawa ke kantor. Dan, memang nggak cuma saya saja yang tertarik, ada anak-anak lain yang jadi mulai main lagi setelah lama vakuum, atau malah baru mengenal fingerboard. Sebut saja Bayu dan Medi. Track-nya? Ya, meja-meja memanjang di kantor bisa jadi track. Meja pantry juga bisa diberdayakan.

Lucu saja, ada satu lagi mainan di kantor pencegah bosan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s