Ada Hari Ini, Tiada Esok

Apa arti kehilangan bagi Anda? Kehilangan yang permanen, maksud saya. Alias ditinggal mati. Jujur, sampai detik ketika menulis ini, saya belum pernah merasakan ditinggal mati oleh orang-orang terdekat. Paling-paling baru kakek yang meninggal ketika (itu juga) saat saya masih 3 bulan.

Sadar bahwa nanti akan ada saatnya ditinggalkan permanen oleh orang-orang terdekat, saya masih belum tahu apa saya siap atau tidak siap. Toh, permasalahannya bukan masalah kesiapan saya, kan. Masalahnya adalah bagaimana mengatasi ketidaksiapan itu. Karena kalau bicara soal kematian, sama saja seperti bicara soal pernikahan atau perpisahan, manusia tidak akan pernah siap—siap yang benar-benar utuh—untuk menghadapi itu.

Kenapa tiba-tiba saya kepikiran bicara soal kematian? Utamanya, soal kematian yang mendadak; tidak perlu lewat masa-masa sakit atau berjejak soal tanda-tanda (firasat). Mendadak yang betul-betul. Ini bermula ketika saya membuka wall seorang teman di Facebook. Namanya Indah Rukmi. Di dinding buku mukanya itu, ada satu foto; Indah dan suami di pelaminan yang didampingi seorang lelaki muda. Caption-nya soal pertemuan terakhirnya dengan seorang teman—yang kebetulan ber-tag. Bisa ditebak, saya langsung klik tautan itu, dan tibalah saya di dinding temannya Indah itu; yang sama sekali tidak saya kenal.

Di sini, perasaan saya runtuh. Runtuh karena ternyata temannya Indah itu baru saja meninggal di usia yang masih semuda itu; kisaran di bawah 30 kalau saya boleh tebak. Pertemuan terakhir yang dimaksud Indah bukan karena perpisahan jarak yang sebegitu jauh, tapi memang terpisah dimensi, dipisahkan maut. Ia meninggal.

Kenapa saya jadi sebegitu cengeng membaca dinding temannya Indah ini? Kenapa kematian jadi sebegitu menyedihkan tiba-tiba buat saya yang biasanya menganggap mati hanya suatu awal? Mungkin karena saya baru sangat sadar, bahwa bagi tiap-tiap orang, kematian bisa jadi momok. Bukan bagi yang meninggalkan, tapi bagi yang ditinggalkan. Bahwa bisa jadi sangat memedihkan jika kita dengan sangat mendadak ditinggal orang terdekat tanpa ada ‘pesan’ apa-apa. Nah, temannya Indah ini meninggal dengan sangat mendadak. Terakhir, ia update status Facebook-nya pada Jumat. Dan, tiba-tiba beberapa hari kemudian, ia meninggal karena kecelakaan parah.

Iya, iya, saya tahu kalau perihal jodoh, maut, dan rezeki sudah diatur Allah. Hanya Ia yang tahu kepastian ketiga hal itu. Tapi tetap saja, ketika banyak orang yang mengucap bela sungkawa dengan menaut nama orang ini, saya masih juga sendu tidak jelas. Baru sangat jernih berpikir betapa mati itu begitu dekat.

Dan, di sinilah saya tiba pada kesadaran bahwa betapa meninggal-ditinggal itu persoalan yang sudah jadi sangat biasa bagi banyak orang. Tapi, tidak pernah jadi biasa bagi orang yang mengenal orang-orang yang meninggal/ditinggal. Tidak akan pernah bisa, rasanya.

*teruntuk: orang-orang kuat di luar sana yang sangat tabah menghadapi kehilangan dan kepergian orang-orang terkasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s