Hayang Ngojay, Kak, Hayang Ngojay!

Kamis lalu, 23 September ’10, seorang kawan, Dewa namanya, bilang, “Aku di Cidadap sekarang, Tre. Mampir.” Respons saya, “Cidadap, Kang?” Ia belum juga sadar kalau saya lupa soal cerita-cerita di daerah bernama Cidadap. Baru segar lagi pikiran saya ketika dia bilang, “Pangandaran tah, Pangandaran.”

Memori langsung terpental ke era sekian tahun lalu; 2004. Momen: trauma coping anak-anak pasca tsunami. Daerah: seputaran Pangandaran, semacam desa Batu Karas, Kampung Jawa, Karang Jaladri, dan salah satunya Cidadap. Orang-orang yang terlibat kebanyakan mahasiswa UI sebagai volunteer (saya salah satunya), sedikit mahasiswa YAI, Gunadarma, BSI, dan bekerja sama dengan Wanadri untuk kesiapan perlengkapan lapangan. Dari sini saya kenal Kang Dewa yang di awal tadi saya sebut-sebut.

Sudah enam tahun lewat, ya. Sama sekali tidak terasa. “Dapet salam, Tre, dari pemilik rumah yang sekarang aku inepin.” Wah, apa iya mereka kenal saya, saya sontak tanya ke Kang Dewa. Dan, ternyata, mereka mengenali wajah saya dari foto-foto sewaktu trauma coping dulu–foto-foto yang selalu disimpan Kang Dewa di laptop-nya. Mereka bukan orang lain. Dulu, rumah mereka sempat jadi basecamp kami. Oh…

Dulu, program yang berjalan hingga berbulan-bulan itu sempat bikin kami (semua yang terlibat) begitu akrab dengan panorama, anak-anak, serta langit Pangandaran. Setiap hari, pagi sampai jelang sore, seharian kami membikin anak-anak dari desa-desa di kisaran Pangandaran untuk main-main di tepi pantai. Mulai dari games ice breaking, nyanyi ramai-ramai, menggambar-mewarnai, sampai bisa flying fox sepuas hati. Gratis. Misi kami memang, menggembirakan hati anak-anak Pangandaran yang shock karena tertimpa bencana tsunami, mengobati rasa kehilangan mereka yang orangtua, saudara, keluarganya meninggal karena bencana itu, dan sekaligus mencoba mengobati trauma mereka terhadap laut/pantai.

Ah, rasanya baru kemarin para sukarelawan tidur bergelimpangan di basecamp yang berpindah-pindah; biasanya rumah paling memadai di antara rumah-rumah lain yang hancur rata dengan tanah di setiap desa. Masih jelas juga ingatan saya ketika kami mendirikan tenda tepat di tepi pantai, malam-malam, memandangi langit Pangandaran yang begitu dekat dan penuh bintang, seraya mencamil jagung bakar. Atau, ngobrol ngalor-ngidul dan sekadar ongkang-ongkang kaki serta gagitaran di depan api unggun, saking tidak ada lagi kegiatan lain yang bisa dikerjakan–di daerah yang minim sinyal pula.

Aeh, apa kabar anak-anak itu ya? Ada yang bernama Ajij. Dulu itu ia masih 1 SMP, bertekad kuat ingin terus sekolah sekuat dia mampu. Anak lelaki manis yang paling saya idolakan sepanjang saya di sana. Hingga setahun berselang, saya masih suka telepon dan kami sms-an, sampai akhirnya nomor ponsel ibunya sudah tidak bisa lagi dihubungi. Di mana dia sekarang? Saya masih punya utang janji, berkunjung ke Pangandaran sekali lagi, mengunjungi dia dan anak-anak lainnya. Entah kapan bisa dilunasi *sedih*

Firman, anak lelaki berkulit agak terbakar yang kalau bicara selalu ceplas-ceplos. Hari terakhir trauma coping di desanya, saya diajak main sepeda bareng anak-anak lainnya keliling desa. Masih segar rasanya kerikil-kerikil yang saya lewati kala itu, serta senyum lepas mereka yang meremehkan keberanian saya untuk ngebut menyusul mereka. Tengah bolong sepedahan keliling desa? Bagian ini cukup bikin saya jadi hideung pisan. Tapi, tak apa lah, saya toh girang luar biasa.

Ada juga beberapa anak perempuan yang sayang saya lupa namanya. Mereka sengaja memberi saya macam-macam hanya agar saya ingat pada mereka, mulai dari kalung tali bandul matahari sampai kantung receh hitam, yang masih ada sampai sekarang.

Ah, rindu sekali jadinya. Ingin tahu kabar mereka tapi mereka sama sekali tidak bisa dihubungi. Sementara mereka, bisa saja mereka menghubungi saya selalu karena saya tidak ganti nomor ponsel. Tapi, mereka sendiri hilang kabar. Ya, semoga mereka baik, sekolahnya baik, segalanya baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s