[Fiksi] Dia Menyayangi Saya dalam Diam

Di sela jarum jam yang sangat jarang berdetak bersamaan, saya dan Ibu hidup. Tidur kami sudah jarang punya mimpi yang sama. Bagi saya, tidur dan mimpi adalah barang langka. Sementara Ibu bilang, tidur dan mimpi adalah kewajiban.

Di antara halaman-halaman buku yang berjarak, saya dan Ibu tinggal. Berbicara sudah jadi barang mahal, apalagi berbagi.

Tapi, di balik itu semua, saya tahu cinta Ibu tidak boleh diragukan–sama halnya cinta saya untuk Ibu. Seperti malam ini, ketika tubuh saya terkapar dicincang-cincang rutinitas, dalam keadaan setengah sadar saya melihat Ibu menatap dalam wajah saya yang setengah tertidur. “Kenapa begitu letih, Nak?” katanya sayup-sayup terdengar.

Entah, apa saya salah dengar atau tidak, tapi setelah Ibu pergi meninggalkan tempat saya berbaring, saya malah tidak lagi mengantuk. Karena ada satu kesadaran kuat yang membangunkan yang hampir-hampir saya lupa. Bahwa, beliau Ibu saya. Dan, seorang Ibu akan selalu mengawasi juga mencintai anaknya, dalam diam, dalam doa.

Menyayangimu, Mama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s