Berangkat ke Pulau Peucang, Taman Nasional Ujung Kulon

Untuk trip TNUK, saya, Bella, Arif, dan driver kami, A’ Maman, mengawalinya dengan singgah di Balai Nasional TNUK di Labuan, Banten, pada 4 Oktober 2010. Perjalanan Jakarta-Labuan bisa ditempuh sekitar 4 jam. Urusan di Balai Nasional ini penting untuk mengurus perizinan sekaligus ‘menjemput’ pemandu untuk kemudahan tur di taman nasional.

Kelar di Labuan, kami beranjak ke daerah Sumur. Diiringi hujan deras, Pak Yayus, guide TNUK untuk kami, mulai memandu perjalanan 2 jam ini. Di Sumur, kami langsung menemui Pak Sarkoni, pemilik kapal.

Sayang, karena cuaca buruk dan terlalu malam (tiba pukul 18.30), kami harus menunda penyeberangan menuju Pulau Peucang, TNUK. Mencari-cari penginapan, Rhino-lah yang kami pilih. Lumayan, harga per malam Rp450.000 untuk satu rumah; tiga kamar tidur, dua kamar mandi, dan ruang tamu. Baru keesokannya, sekitar pukul 07.00, dengan kapal kayu, kami mengarungi Selat Sunda yang kala itu tenang, hingga 3 jam kemudian sampai di Peucang.

 

Pulau Peucang

Sesampainya di pulau ini, kami disambut “gerbang” bertuliskan Taman Nasional Ujung Kulon Pulau Peucang dan bangunan-bangunan kayu yang berdiri berdekatan. Ini adalah kawasan penginapan satu-satunya di pulau ini, yang sekaligus tempat para staf TNUK bermukim. Satu catatan, meskipun di siang hari tidak ada listrik, tapi khusus untuk malam hari, terdapat generator yang menyediakan pasokan listrik.

Selain pasir putih dan air laut yang biru, keseruan lain di Peucang adalah kita bisa berakrab-akrab dengan monyet, peucang (sejenis rusa), dan babi hutan yang bisa diajak main di halaman penginapan—itupun kalau bernyali. Sementara, ular serta beburungan bisa ditemui ketika jungle trekking. Kesenangan belum selesai sampai di sini.

 

Tanjung Layar

Masih di hari yang sama, dari Peucang, rombongan beranjak ke Tanjung Layar setelah jam makan siang. Butuh kurang dari sejam untuk sampai ke pulau ini dengan kapal kayu. Sial bagi kami, hujan lagi-lagi turun. Padahal, jadwal kali ini adalah trekking ke mercu suar dan penjara peninggalan Belanda, serta karang besar-besar yang berbentuk layar di ujung pulau.

Bisa ditebak, track Tanjung Layar jadi basah dan berlumpur. “Waktu zaman Belanda, jalanan ini rapi,” kata Pak Yayus menerangkan. “Karang dan bebatuan ini (menunjuk ke pinggir kanan-kiri jalan) dulunya pembatas jalan. Jadi seperti membentuk jalan setapak.” Tapi, yang saya lihat sekarang, bebatuan serta karang berserakan di mana-mana, tidak lagi membentuk jalanan.

Lalu, jika biasanya muncul beberapa satwa liar, seperti banteng atau rusa, pada kesempatan itu, hanya tonggeret (semacam jangkrik) yang menemani kami dari kejauhan. Meski begitu, semua tidak sia-sia. Perjalanan berlumpur itu dibayar tunai oleh sensasi berdebar-debar di bangunan bekas penjara dan menara suar yang dicapai setelah sejam trekking. Puncaknya, karang-karang besar dan debur ombak di pesisir padang rumput dihidangkan di depan mata.

 

Cidaon

Sudah menjelang pukul 16.00, tapi masih ada waktu sebentar untuk mampir di destinasi selanjutnya, Cidaon. Jaraknya sekitar 30 menit dari Tanjung Layar. Apa yang kami kejar di pulau ini? Banteng!

Dari pantai, hanya butuh 10 menit untuk sampai ke padang tempat para banteng berkumpul. Saya melihat mereka hanya dari jarak 50 meter! Takut? Tidak. Hanya adrenalin naik sepersekian persen.

“Kalau tiba-tiba mereka menyerang, semua langsung naik ke menara itu, ya,” wanti-wanti Pak Yayus sambil menunjuk menara kayu.

Satu hal yang mengganggu benak saya, banyak tulang berserakan di mana-mana. “Ini tulang banteng,” Pak Yayus bercerita tanpa diminta. “Di sini, banteng yang mati tidak dikubur, karena dagingnya punya manfaat; untuk makanan babi hutan atau rusa.” Menarik.

Dalam perjalanan pulang menuju dermaga Cidaon, Pak Yayus bersuara lagi, “Nah, lihat tumbuhan itu, yang buahnya kuning-kuning itu? Itu namanya cidaon.” Oh, karena tumbuhan ini banyak sekali, makanya pulau ini disebut Cidaon.

Tepat pukul 18.00, kami segera beranjak kembali ke Pulau Peucang. Sampai di Peucang sejam kemudian. Inginnya langsung istirahat, tapi melihat pemandangan di luar penginapan, kami batal tidur. Peucang-peucang yang kalau siang hanya dua-tiga ekor yang muncul, kala malam mereka bergerombol menampakkan diri di halaman penginapan. Bagai berada di kebun binatang milik pribadi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s