Sensasi Melihat Letusan Anak Gunung Krakatau dari Dekat

Apa yang Anda tahu tentang Anak Krakatau? Ini sedikit info tentangnya. Anak Krakatau adalah pulau yang terbentuk akibat kegiatan vulkanik yang terus-menerus setelah letusan besar pada 27 Agustus 1883 di Gunung Krakatau.

Selain pada akhirnya membentuk pulau baru (Anak Krakatau), letusan Krakatau kala itu memporak-porandakan Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Sertung hingga hanya tersisa sepersekian bagian kecil saja. Yang paling “pol”, letusan itu malah membuat dua pulau yang terletak paling dekat dengan Krakatau, Pulau Danan dan Pulau Perbuatan, sama sekali lenyap. Dan, dengan bangga saya kali ini ingin menceritakan pengalaman saya menjejakkan kaki di Anak Krakatau pada 7 Oktober 2010. Ahuuuyyyy!

Saya tahu dan sudah juga mendengar kisah dari Pak Idris (tour guide khusus destinasi Krakatau) bahwa Anak Krakatau sedang aktif. Sering aktif belakangan ini, lebih tepatnya. Wah, semakin bergairah saja saya mendengar itu. Tapi, nyatanya kegairahan saya harus diuji lebih dulu oleh perjalanan menuju ke TKP menggunakan kapal cepat dari Carita, Banten. Perjalanan menghabiskan waktu sekitar satu setengah jam.

Di atas kapal cepat, ada saya, Bella, Donat, Aa’ Maman, Pak Idris yang sejak dari Carita sudah mengenakan helm, seorang remaja pria yang adalah cucu Pak Idris, dan si nakhoda. Dari awal duduk di speedboat (bahkan sebelum si speedboat meluncur), perasaan saya sudah tidak enak. Saya tahu perjalanan satu setengah jam ke depan bakal berat. Kenapa? Karena laut sedang pasang dan ombak sedang tinggi-tingginya. Itu artinya, laju speedboat menuju Krakatau (yang ternyata sudah masuk ke wilayah provinsi Lampung, bukan lagi Banten) akan melawan ombak. Yang artinya lagi, si speedboat akan berkelahi dengan air pasang dan kita yang ada di atas kapal akan terpental-pental dan lompat-lompat saking kerasnya ‘benturan’. Tapi, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bermual-mual dahulu, bergirang-girang pas sudah di Krakatau.

Dan, hyak, singkat kata, perjalanan satu setengah jam dengan speedboat itu ‘dihiasi’ mual-mual dan muntah-muntah dua kali. Pelaku: saya. Sementara yang lain sukses menahan mual. Saran saya, kalau memang tidak tahan naik speedboat, minum saja obat tidur agar lelap sepanjang perjalanan. Minum antimo? Sumpah, antimo kurang berdampak, setidaknya pada saya.

Akhirnya, setelah menerjang ombak, kami sampai di Anak Krakatau, pulau dengan pantai berpasir hitam. Kondisi saya saat itu: lemas dan pucat. Tapi, melihat letupan asap, debu, dan batu kecil yang menguar-nguar dari kawah gunung, semangat saya timbul lagi. Sambutan yang sangat manis, benak saya.

“Tuh, Neng, lihat,” kata Pak Idris yang menemani saya dan rombongan mulai dari Carita, “lagi aktif.” Segera setelah semua anggota tim menengok ke arah yang sama–yaitu puncak gunung–, seolah di-set ke mode yang sama, kami bergegas menuju puncak. Dan, ha-ha, ternyata jaraknya tidak sedekat yang saya kira. Dari pantai, asap dan gunungnya sudah terlihat tebal dan besar. Tapi, ternyata, butuh waktu sampai sejam untuk sampai di puncak Anak Krakatau.

Selama menuju puncak, yang ada di sekeliling kami hanya pasir vulkanik berwarna hitam dan pepohonan pakis di beberapa titik. Hanya pohon pakis-lah yang bisa hidup di daerah ini, kata Pak Idris. Dan, selama perjalanan itu, Anak Krakatau beberapa kali berganti-ganti ‘mood’: tenang, menyembur, tenang lagi, menyembur lagi.

Ketika sampai di tengah-tengah pendakian, Pak Idris kembali memperingatkan bahwa belakangan Anak Krakatau kerap menyemburkan isi perutnya. Maka itu, ia sangat tidak menyarankan untuk mendaki sampai puncak. Tapi, ya, kami berpikir, “Kapan lagi bisa ke sini dan melihat indahnya Anak Krakatau?” Sudah bisa ditebak, kami tetap kekeuh akan ke puncak Anak Krakatau.

Pendakian agak sulit karena tingkat kemiringan medan daki lumayan miring; sekitar 45 derajat. Ditambah lagi, kami begitu rentan tergelincir karena pijakan kami hanya pasir-pasir vulkanik hitam dan batu-batu. Hati-hati, batu-batu ini juga bisa menipu. Tidak semua batu ajeg atau mapan. Banyak batu yang posisinya gampang runtuh dan rontok. Maka itu, ketika memilih pijakan, jangan langsung menyerahkan beban tubuh Anda di kaki. Coba dulu mengentak-entakkan kaki pelan-pelan ke pijakan pilihan Anda. Kalau dirasa mapan, baru serahkan beban tubuh Anda di kaki dan melangkahlah. Itu sekadar tips dari saya.

Dan, usai sejam, kami sampai di titik terdekat dari kawah Anak Krakatau. Jaraknya hanya kurang dari 100 meter, bersejajaran. Dan, dari atas sana, kita bisa melihat Krakatau yang puncaknya tertutup awan. Kelihatan juga Pulau Panjang dari kejauhan yang agak tertutup kabut.

Sempat agak kecewa ketika sampai di puncak, semua semburan hilang. Tapi, setelah beberapa menit stay di puncak dan sesi foto-foto dengan background Anak Krakatau tanpa asap dan semburan batu, si gunung bereaksi kembali. Ia mulai ‘kentut’ lagi. Kecewa kami berubah. Tidak disangka, bukannya berubah senang gembira, tapi kami malah panik. Sebab, batu-batu yang berlompatan ternyata lumayan besar, sekepalan tangan.

Dengan sama tergesanya seperti ketika mendaki, saya dan rombongan terburu-buru ketika turun dari puncak Anak Krakatau. Kali ini, tanpa kesenangan. Sebab, ternyata, ini lebih berbahaya dari yang kami sadari. Segera, kami menuruni gunung dengan mengambil jalan menyerong. Lebih aman dan lebih tidak mudah tergelincir daripada mengambil jalan menurun-lurus.

Di sini saya baru ngeh. Mungkin ini sebabnya Pak Idris sudah mewanti-wanti agar kami hati-hati. Ini juga yang menyebabkan Pak Idris mengulang-ulang peringatan. Ketahuan juga alasan Pak Idris yang dari Carita sudah mengenakan helm.

Saya jadi ingin memberi Anda tips lain. Bahwa percayalah pada apa yang dikatakan guide Anda. Mereka jauh lebih tahu soal sikon dan konsekuensi, daripada kita, para wisatawan, yang hanya mengandalkan nafsu serta kegairahan. Noted?

Info:
Paket Krakatau Tour: Rp2.500.000 (speedboat, lunch box, snorkeling, dan air mineral). Hubungi: 0852 1644 8250 (Pak Iyan).

*bahasa Inggris untuk Gunung Krakatau

…Ikuti perjalanan (masih) di kawasan Krakatau bagian II: Snorkeling dalam postingan selanjutnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s