Snorkeling di Krakatau

Apa rasanya snorkeling di wilayah Gunung Krakatau?

Setelah beranjak dari Anak Gunung Krakatau (AGK), kami menuju pulau di sebelah Anak Gunung Krakatau. Jaraknya hanya sekitar 15 menit dari AGK. Tujuan kami ke pulau tak berpenghuni ini hanya singgah sejenak, membuka lunch box sambil ditemani pasir bersih putih dan debur ombak.

Menunya sederhana saja; ayam panggang, lalap, nasi, dan sambal pedas-manis. Tapi, rasanya makan siang saya kala itu jadi luar biasa nikmat karena di kejauhan, Anak Gunung Krakatau terlihat cantik. Pengalaman yang berbeda.

Hari sudah masuk pukul 14.00 ketika kami kelar makan dan siap-siap beralih ke destinasi selanjutnya. Speedboat kembali terjang-terjangan dengan ombak. Sampai akhirnya puluhan menit setelahnya, kami sampai di kawasan laut berair hijau jernih yang di kedalamannya kelihatan terumbu karang besar-besar. Inilah Pulau Rakata.

Pulau Rakata adalah sebuah pulau yang masuk dalam wilayah Lampung di Selat Sunda.

Ini pengalaman pertama snorkeling untuk Arif (pendamping), Aa Maman (driver), dan Bella, partner saya. Jadi lucu saja suasana yang terbentuk karena mereka kegirangan. Untuk kasus Bella, malah ada nada kepanikan di dalam suaranya. Karena katanya dia tidak bisa berenang, karena katanya dia ngeri dilepas di lautan bebas seperti ini, karena katanya dia masih takut-takut untuk menenggelamkan kepalanya, karena juga katanya dia masih belum terbiasa dengan cara bernapas menggunakan mulut.

Bella memang selalu lucu. Tapi, di balik kepolosan dan segala ketakutannya, saya tahu Bella punya keberanian-ingin-mencoba yang begitu besar dan tekad yang kuat. Kalau sudah begitu, rasa takut pasti segera hilang. Makanya, saya tenang-tenang saja. Cukup diceburkan sebentar di lautan, lalu dilatih ana-ini, dan see, akhirnya Bella sudah mulai bisa dilepas sendiri.

Bagaimana dengan Arif dan Aa Maman? Mereka cepat belajar, dan cepat juga hilangnya. Maksudnya, saking asyiknya tahu-tahu mereka sudah jauh sekali dari speedboat. Tidak kelihatan.

Sementara saya, di sela harus menemani Bella dan menenangkannya, saya masih punya waktu sendiri untuk menikmati alam bawah laut di sekitaran Krakatau itu. Terumbu karangnya besar-besar dan di beberapa bagian ada yang terlalu dekat dengan permukaan laut. Sehingga, kalau tidak hati-hati bisa saja kaki kita menendang dan merusaknya. Di bagian lain yang lebih dalam, terumbu karang yang muncul berbeda warna dari yang tadi hampir menonjol ke permukaan. Kali ini berwarna lebih tua, cokelat tua lebih tepatnya. Dan, sesekali, ada ikan ulu-ulu yang bergerombol dan ikan-ikan lain yang saking banyaknya sampai saya tidak tahu apa saja namanya. Sangat berwarna-warni.

Tidak terasa tahu-tahu sudah sore. Guide kami mengingatkan kalau sudah waktunya pulang. Setelah naik speedboat, kami baru sadar ternyata sudah jam 5 sore. Segera setelah semua naik ke kapal dan ganti baju, kami segera balik ke Carita. Perjalanan pulang tidak terlalu menyusahkan buat saya. Tidak terlalu memabukkan. Bukan karena ombak sudah akur dengan si speedboat. Tapi, karena sepanjang perjalanan, satu setengah jam perjalanan, saya tidur dengan pulasnya. Asyiknya.

Rasanya, saya harus segera punya sertifikat diving. Sebab, pemandangan bawah laut bikin nagih, layaknya candu. Dan, satu lagi, saya harus segera punya kamera underwater. Harus! Noted!

Sampai jumpa lagi, Krakatoa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s