Menikmati Pemandangan dari Puncak Menara Suar Cikoneng

Setelah hari sebelumnya seharian hanya leyeh-leyeh di kamar Hotel Sol Elite Marbella, hari ini saya bertekad melunasi rundown yang ada di buku catatan. Jadwalnya adalah Menara Suar Cikoneng dan Karang Bolong. Mengenai destinasi yang pertama, sama sekali saya belum tahu apa-apa soalnya. Tapi, untuk yang kedua, saya pernah mendengar, walau tetap belum pernah juga mampir. Anyer yang selama ini saya akrabi hanya cottage dan Pantai Anyer, Carita, Pasir Putih, serta Matahari. Selebihnya, tidak.

Sekitar pukul 09.00, 8 Oktober 2010, saya baru bangun. Sendirian. Bella ada di kamarnya sendiri, yang letaknya hanya disisip satu kamar. Sementara, pendamping dan driver saya ada di penginapan-entah-apa-namanya di seberang Sol Elite. Semua orang kesiangan. Mungkin, semua orang tidur begitu larut. Melihat hari sudah terang, saya sendiri bergegas; mandi dan rapi-rapi.

Untung, hari ini cenderung lebih cerah dibanding kemarin. Awan-awan sudah tidak hitam, tapi putih gemuk-gemuk. Langit juga tidak gelap, tapi biru sebiru yang dia bisa. Xenia maroon meluncur dari parkiran Sol Elite menuju ke destinasi awal kami; Menara Suar Cikoneng. Berbekal peta dan tanya-tanya warga setempat, dari jarak sekitar 100 meter, sebuah menara suar sudah kelihatan gagah menjulang. Ada sekitar 1 jam perjalanan Sol Elite-Menara Cikoneng. Tidak terlalu lama, dan tidak ada macet juga.

Memasuki pelataran si menara, kami disambut si penjaga menara suar. Tak seberapa lama setelah memasuki tempat parkir, saya pribadi agak kikuk dengan suasana di sana. Sepi, tidak ada tempat parkir khusus, dan si menara menyatu dengan penginapan berbentuk rumah panggung yang beraksen kayu di sekitarannya. Biaya parkir: Rp20.000. Mahal juga, pikir saya. Tapi, tidak apa lah. Hitung-hitung untuk pemeliharaan menara suar ini.

Di depan Menara Suar Cikoneng, terdapat semacam “tugu” yang berisikan tulisan dengan bahasa Belanda. Ya, Menara Suar Cikoneng ini memang dibangun pada zaman kependudukan Belanda di Indonesia periode pemerintahan ZMW Willem III, tepatnya pada 1885. Menara suar setinggi 60 meter ini dibangun tak lama setelah letupan Gunung Krakatau pada 1883 yang menyebabkan tsunami sampai ke Anyer. Menara ini dimaksudkan agar wong londo bisa menyelamatkan diri ke sini jika tsunami besar terjadi lagi. Semua sejarah ini ada di tugu yang saya sebut tadi. Saya bisa mengerti artinya setelah si penjaga menara suar menerjemahkannya untuk saya.

Belum juga memasuki menara gagah yang berwarna putih itu, saya sudah excited berlebih. Setelah kelar bincang-bincang di depan menara dengan si penjaga suar, kami akhirnya diizinkan masuk, setelah sebelumnya membayar tiket Rp10.000. Ketika memasuki menara suar, bau yang langsung tercium adalah bau apek, lembap. Menara suar ini seluruhnya dibangun dari besi baja yang tebal, sampai 35 cm. Di bagian tengahnya, ada pancang-pancang tegak berdiri dan di menengok ke kiri dari pintu masuk, ada anak tangga yang menunggu untuk kita naiki.

Beruntung saya punya perasaan gempita yang bergejolak. Ini membantu ‘pendakian’ saya menaiki sekitar 280-an anak tangga–kalau saya tidak salah hitung–sampai akhirnya di puncak menara. Dan, berhubung saya memang selalu lebih suka mendaki daripada menurun, saya sampai lebih dulu di ketinggian 60 meter, di puncak Menara Suar Cikoneng, daripada Bella, Aa Maman, dan Arief. Hal pertama yang terasa adalah panas. Sebab, kala itu hari sudah masuk tengah hari PAS. Lebih panas lagi karena di puncak, tidak lagi besi baja yang menjadi dinding, tapi kaca-kaca yang bebercak kotor di sana-sini. Tapi, ada yang bikin saya lupa pada panas; bola lampu 1.000 W dan 100 V. Wow. Terbayang kilasan di otak saya, setiap malam, berawal dari bola lampu inilah segala cahaya. Di setiap hal besar berasal dari hal kecil, saya yakin.

Lalu, apa lagi yang saya dapat di puncak menara ini? Keindahan mutlak. Di sebelah timur, hamparan sawah yang hijau di kawasan Banten Selatan yang meneduhkan mata. Dan, di sebelah barat, Selat Sunda serta gigiran pantai menjadi yang paling kelihatan. Apa cukup puas sampai di situ? Ya, nggak-lah. Setelah diulik, ternyata pintu yang ada di puncak menara bisa dibuka. Jadi, kita bisa keluar dari menara dan berdiri di tepian bagian luar menara. Dari sini, berpuas-puaslah menikmati pemandangan yang ciamik dari Pantai Anyer dan Selat Sunda.

Tidak ada batasan lama atau tidaknya untuk menikmati puncak Menara Suar Cikoneng. Tapi, karena timing yang salah (alias kepanasan), kami ‘turun gunung’ sejam setelah tiba. Dan, segera, kami lanjut menuju Karang Bolong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s