Dari Kampung Cibeo ke Kaduketuk, Dari Baduy Dalam ke Baduy Luar

Setiap tamu yang berkunjung ke Baduy Dalam, tidak boleh lebih dari dua malam menginap. Dan, jadilah saya, setelah dua malam di Cibeo, pada 11 Oktober 2010, harus meninggalkan Cibeo untuk selanjutnya berdiam selama dua malam lagi di Kaduketuk, Baduy Luar.

Tidak seperti ketika perjalanan datang ke Cibeo yang dilakukan malam-malam, kali ini, saya, Bella (partner), Arif (pendamping), dan Pak Erwin (pemandu lokal) keluar Cibeo pagi-pagi sekali. Tanpa mandi (total tidak mandi 3 hari), saya segera menggendol carrier dengan perasaan yang langsung tidak karuan. Maklum, saat itu, tubuh saya sedang tidak sehat. Masuk angin yang keterlaluan, lebih tepatnya, karena angin malam di Cibeo yang luar biasa menusuk pas dua malam berada di kampung itu.

Membawa carrier 45 liter terisi penuh melewati medan di Baduy yang naik-turun bukit, saya sempat takut juga tidak akan kuat sampai tujuan. Tapi, apa pun harus dicoba. Maka, pada sekitar pukul 07.00 kami berangkat, setelah sebelumnya sarapan pisang goreng ala Baduy dan semangkuk bakmi instan rasa Kari Ayam.

Dari Cibeo, rombongan mulai bergerak. Keadaan kampung sepi minta ampun. Bahkan, saya tidak sempat pamit kepada Bapak Surjaya (tuan rumah) dan anak-anaknya; Kang Juli dan Kang Sanip. Yang tersisa di rumah ini hanyalah si ibu yang tidak ke ladang karena sengaja ingin melepas kepulangan kami, dan Sarinah, anak perempuan bungsu Pak Surjaya.

Setelah bersedih-sedih sejenak, kami berjalan pelan-pelan menerabas pagi. Saya berjalan dengan begitu diam seraya merasakan ulu hati yang perih dan perut yang mual. Yang lain juga sunyi, mungkin karena sindrom pagi yang masih mereka rasakan, kecuali Pak Erwin yang masih bisa berkelakar walaupun pagi itu dia puasa.

Oh iya, untuk masalah kepercayaan, masyarakat Baduy masih menganut Sunda Wiwitan. Intinya adalah mereka begitu hormat dan memuja nenek moyang. Hari libur mereka bekerja di ladang adalah setiap tanggal 15 dan 30 setiap bulannya. Itu sudah diatur dalam aturan adat.

Sambil mendengar cerita, tahu-tahu kami tiba di Kampung Cipaler. Kampung itu sepi. Karena itu, kami terus saja melanjutkan perjalanan. Sampai setelahnya, kami menemukan Jembatan Tembayan yang di bawahnya mengalir Sungai Ciujung. Rasanya saya familiar dengan nama sungai ini. Dan lalu, Pak Erwin cerita. Menurutnya, dulu sungai ini adalah salah satu pelabuhan besar, tempat bersandarnya kapal-kapal pedagang dari seluruh dunia. Saya memandang sungai yang tidak bisa dibilang luas ini dan menatap dengan kagum.

Melewati Jembatan Tembayan, saya, Arif, dan Bella mulai bersuara. Dan, ketika sampai di kampung berikutnya, Kampung Cicakal, kami istirahat sejenak. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.30.

Kebetulan, aktivitas di kampung ini agak berbeda dari kampung-kampung lainnya yang sepi amat sangat. Kampung Cicakal sedang mengadakan pelebaran kampung. Oleh sebab itu, banyak lelaki yang lalu lalang kelihatan di kampung. Ada yang sedang memotong bambu, memasang bilik, merajut tirai-ijuk untuk atap, dan lain-lain.

Para perempuan di Cikakal juga tidak semuanya ke ladang. Beberapa bolak-balik mengangkut kayu bakar, ada pula yang menenun di rumah. “Ini sudah Baduy Luar, Neng Atre. Kalau mau foto sudah tidak apa-apa,” kata Pak Erwin. Wah, saya sontak bersemangat, meski masih juga mual-mual.

Sekitar setengah jam beristirahat, kami melanjutkan perjalanan. Betapa senang ketika sudah bisa memotret. Perjalanan jadi tidak terlalu membosankan. Beruntungnya ketika beberapa kali ada orang-orang Baduy Dalam sedang melintas di kampung Baduy Luar, saya bisa memotret mereka.

Tak berapa lama, kami tiba di Kampung Gajeboh. Di sini, Pak Erwin memutuskan istirahat dan berbuka puasa. Di rumah Mi’dii, Pak Erwin membuka bekal dan mulai makan nasi dengan lauk (hanya) garam. Biasanya, untuk bekal begitu, lauknya adalah ikan asin. Tapi, kebetulan karena belum lama Pak Erwin baru saja digigit ular, jadi ia belum diperbolehkan makan ikan asin. Garam-lah yang jadi penggantinya.

Tak terasa, setelah Pak Erwin kelar dengan buka puasanya, hari sudah terik, padahal baru pukul 10.00. Perjalanan pasti akan lebih berat karena terik matahari ini. Dan benar saja, setelah Kampung Gajeboh I, kami harus melintasi jalur di puncak bukit. Alamak, panas menggila. Tapi, mau istirahat pun tidak mungkin karena seluruh kawasan begitu gersang, tidak ada tempat berteduh. Jalan satu-satunya ya kami memang harus terus berjalan.

Sampai beberapa jam kemudian, kami tiba di Kampung Gajeboh II dan kami beristirahat kembali di rumah warga yang juga adalah warung. Saya pesan Teh Botol, yang lain air mineral. Aih, lega. Di sebelah warung, ada seorang wanita sangat manula–mengenakan kain dan baju dalaman (semacam tank top)–yang sedang menenun. Usianya kata Pak Erwin sudah lebih dari 100 tahun. Wah, luar biasa, dia masih segar.

Sempat saya tertarik untuk bincang-bincang dengannya, tapi sayang, sang nenek sibuk bolak-balik masuk rumah dan yang paling parah, saya tidak mengerti bahasa yang dia pakai; bahasa Sunda-Banten.

Akhirnya, perjalanan harus diteruskan. “Sebentar lagi sampai,” kata Pak Erwin. Ya, ya, semangat, kata saya pada diri sendiri. Untungnya, track perjalanan kembali memasuki hutan dan tidak lagi digempur panas di puncak bukit. Dan, tak seberapa lama, kami sudah sampai di Kaduketuk, tepatnya di rumah Pak Erwin, tempat kami akan menginap selama dua malam mendatang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s