Menikmati Kehidupan di Kampung Cibeo, Baduy Dalam

Sudah banyak cerita atau rumor yang beredar soal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di Baduy Dalam. Nah, berkat perjalanan ke/di Cibeo, saya dengan senang hati merasakan segala pengalaman yang boleh dan mengetahui apa yang tidak itu. Bahkan, segala aturan adat yang sama sekali belum pernah saya baca sebelumnya.

Setelah pada malam harinya beperjalanan selama 3 jam jalan kaki dari Nangerang, pagi ini (10/10/10) saya terbangun di Cibeo dengan perasaan bahagia. Dan, pagi ini dimulailah beberapa ritual yang boleh dilakukan di kampung Baduy Dalam; berkegiatan di sungai.

Pertama, mandi. Sejak sebelum ada niatan ke kampung ini pun, saya sudah tahu kalau mandi, sikat gigi, atau cuci-cuci tidak boleh menggunakan yang namanya sabun, pasta gigi, dan sebangsanya itu. Tapi, yang saya tidak tahu adalah perihal tata cara berkegiatan antara laki-laki dan perempuan di sungai.

Sedari awal saya berpikir, bagaimana bisa mandi di sungai bertelanjang diri tanpa malu dilihat orang yang lain jenis kelamin. Lalu saya menduga-duga, apakah memang bertelanjang diri di depan yang berlainan jenis kelamin merupakan hal yang sudah sangat biasa di Baduy? Tapi lalu kini saya tidak perlu lagi menduga-duga, karena saya ada di Baduy.

Saya tanya pada Ibu Surjaya mengenai hal ini. Jawabnya, kegiatan antara laki-laki dan perempuan di sungai itu terpisah. Maksudnya, para lelaki biasa mandi di bagian sungai sisi ini, lalu para perempuan akan mengambil tempat di sisi yang satunya lagi. Jadi, kegiatan vital itu murni terpisah.

Pengetahuan kedua, mengenai puun (pemimpin adat). Saya pikir, puun akan menjadi “duta” untuk menyambut para tamu yang datang ke wilayahnya. Saya pikir, ketika berada di kampung Baduy, kita akan dianjurkan untuk berkunjung ke rumah puun dan bersilaturahmi–seperti yang biasa dilakukan di Kampung Ciptagelar, Sukabumi. Tapi, tidak begitu kenyataannya.

Rumah puun sama sekali tidak boleh dikunjungi. Bahkan, untuk bisa melihatnya saja, harus dari jarak tertentu, tidak boleh terlalu dekat.

Ketika saya tanya Pak Erwin, guide lokal, ia hanya menjawab, “Ini termasuk peraturan adat.” Dan, katanya pula, hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat atau bertemu dengan puun, bahkan di saat-saat tidak disengaja.

Alhasil, selama tiga hari dua malam di Cibeo, saya sama sekali tidak bertemu puun Cibeo. Padahal, menurut warga Cibeo sendiri, puun sama seperti rakyat biasa, yang juga ke ladang. Hanya saja, sebagian besar waktunya adalah pergi ke kota untuk mengurusi urusan kampung. Ah ya, pantas.

Hal selanjutnya yang saya baru tahu adalah soal ternak di Baduy Dalam. Bahwa ternyata ada beberapa hewan yang boleh hidup di kampung-kampung di Baduy Dalam, dan ada yang tidak. Ada pula yang boleh dimakan, dan ada yang tidak.

Hewan-hewan yang boleh dipelihara di Baduy Dalam adalah ayam, anjing, dan kucing. Sementara yang tidak boleh adalah kerbau, sapi, dan kambing. Lalu, untuk yang boleh dimakan adalah ayam atau ikan. Sisanya yang tadi saya sebutkan, yaitu anjing dan kucing, dilarang.

Yang menarik soal makanan adalah kasus singkong. Di Baduy Dalam, singkong tidak boleh ditanam, tapi ia boleh dimakan, hanya saja bahannya (singkongnya) dibeli dari luar Baduy Dalam. Aneh, tapi ya begitulah.

Soal lain adalah soal rambut dan pakaian. Jika berpapasan dengan laki-laki Baduy Dalam, yang paling menonjol adalah koncer atau telekung yang terikat di kepala. Tapi, coba perhatikan lebih seksama apa yang ada di balik ikat kepala mereka.

Semua laki-laki di Baduy Dalam berambut panjang. Sejatinya, mereka tidak diperkenankan untuk memotong rambut, sebagai salah satu peraturan adat yang harus dipatuhi.

Lalu, soal pakaian. Mengenai ini, hal yang saya tahu adalah bahwa pakaian Baduy Dalam adalah harus berwarna putih dan Baduy Luar identik dengan pakaian berwarna hitam. Kenyataannya tidak sehitam-putih itu. Masyarakat di kampung-kampung Baduy Dalam yang saya temui adalah mengenakan kain katun berwarna putih atau hitam kebiruan bernama jamang, dengan bawahan berupa kain hitam tenunan bermotif garis yang disebut samping aros.

Untuk ikat kepala, yang boleh digunakan adalah romal berwarna putih atau hitam. Sementara di Baduy Luar, yang banyak digunakan adalah celana poleng (celana pendek berwarna hitam) dan atasan batik khas Baduy Luar berwarna biru dengan macam-macam motif, seperti hariang, genjer, memble, atau merong.

Di luar celana poleng dan batik, sudah banyak pula orang-orang Baduy Luar yang telah mengenakan kaus modern, atau untuk wanita, mengenakan tank top katun serta kebaya berwarna-warni, misalnya cokelat tua dan biru tua.

Semua hal memang sudah lebih longgar di Baduy Luar. Dan, sedikit demi sedikit kelonggaran itu juga akan mampir ke Baduy Dalam, menurut saya. Tapi, dari sekian banyak aturan, aturan adat yang paling membuat saya melongo adalah masalah larangan listrik dan pendidikan di Baduy Dalam.

Lepas dari segala manfaatnya yang bejibun, dua hal yang bagi masyarakat di luar Baduy adalah hal yang vital dan fatal tersebut malah dilarang oleh aturan adat. Alhasil, masyarakat Baduy lebih memilih untuk hidup dalam gelap, dalam kesederhanaan, dan dalam kebutaan terhadap ilmu.

Ah, baru juga tiga hari saya tinggal di Cibeo, sudah begitu banyak keragaman yang saya serap. Segala kepatuhan terhadap adat dan ketegasan sikap mereka yang memilih menjauhkan diri dari konsep “modern” membuat saya angkat topi tinggi-tinggi. Betapa mereka kelihatan bahagia-bahagia saja meski hidup dalam kesederhanaan. Kapan-kapan, ingin sekali saya kembali lagi ke sini untuk mengenal lebih dalam Baduy dan segala isinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s