Pak Ahmadi: Rela Jalan Kaki Beratus Km untuk Dagang

Seiring perkembangan zaman, apa iya kampung-kampung di Baduy Dalam tetap bisa kukuh dan tegas menjaga kemurnian aturan adat mereka? Kalau saya, kurang yakin. Kenapa? Unsur modern sudah mendesak masuk, menurut saya. Salah satunya melalui Pak Ahmadi.

Ketika pada 11 Oktober 2010 siang berkeliling Cibeo, kaget juga saya melihat ada gelaran jajanan di salah satu rumah warga. Refleks, saya mengitari pandangan, mencari tahu siapa yang berjualan di sini. Sedang tidak ada orang yang menjaga dagangan itu.

Saya mendekat, mencoba melihat-lihat apa saja yang dijajakan si pedagang yang belum saya ketahui sama sekali identitasnya. Oh, rupanya, yang dijual adalah kebutuhan sehari-hari seperti mie instan (hanya tersedia Sarimi dan Mie Sedaap), gula putih, teh celup, kopi bubuk Kapal Api, serta sisanya adalah jajanan anak-anak, sebut saja permen lolipop tradisional yang dibuat dari gula merah dan kacang, wafer serupa Oreo tapi bermerek Oriorio, rempeyek yang sudah dikemas dalam plastik-plastik, Gerry Wafer, dan banyak lagi snack yang sebelumnya tidak pernah saya lihat keberadaannya di Jakarta.

“Siapa yang jualan di sini, Pak?” tanya saya akhirnya kepada Bapak Erwin, pendamping lokal tim saya.

“Pak Ahmadi.”

Tak berapa lama Pak Erwin menjawab, tiba-tiba Pak Ahmadi muncul dari dalam rumah Pak Yardi, rumah warga yang terasnya ia gunakan untuk menggelar dagangan.

Saya langsung mengangguk, tersenyum, sok akrab kepada Pak Ahmadi. Ia adalah lelaki tak seberapa tua, kalau dikisar-kisar, usianya mungkin sekitaran 50 tahunan. Mengenakan jaket parasut hitam dan celana bahan abu-abu, serta kaus putih sebagai dalaman jaket, ia duduk tenang merapikan dagangannya. Dalam bahasa Indonesia kesunda-sundaan, ia bersuara, “Beli apa?” Oh, hm, saya kaget, karena memang tidak berniat membeli apa-apa. Tapi, karena ditodong begitu dan sekaligus ingin bertanya lebih lanjut pada Pak Ahmadi, akhirnya saya membeli wafer plagiat Oreo seharga Rp500, kopi sachet Kapal Api untuk keluarga Pak Erwin sepuluh buah @ Rp1.000, serta permen gula merah kacang seharga Rp1.000.

Sambil mengulum-ngulum si permen lolipop ala Baduy itu, saya melipir duduk di sebelah Pak Ahmadi. Masih dengan gaya sok akrab dan (mungkin malu-maluin), saya mulai tanya-tanya soal asal, rumah, dan beberapa hal seputar pekerjaannya ini. Untung saja, Pak Ahmadi tipikal orang yang terbuka, bisa berbagi, dan tidak masalah menghadapi pertanyaan yang banyak. Pas lah, dalam hati saya.

Pak Ahmadi tinggal di Desa Kalidahtar, di luar Baduy (bukan Baduy Luar). Saya sempat berinisiatif untuk googling soal desa ini, tapi ternyata tidak ada. Desa ini sebuah desa yang kecil barangkali? Bisa jadi. Yang jelas, perjalanan dari Kalidahtar menuju Cibeo ini bisa sekitar 7 jam dengan jalan kaki. Alamak, saya langsung membayangkan perjalanan saya dari Nangerang menuju Cibeo malam sebelumnya yang sungguh meletihkan. Melihat muka saya yang pias, Pak Ahmadi hanya senyum-senyum kecil, “Sudah biasa, Neng. Kalau hampir setiap hari jalan kaki begitu, pasti nggak terasa cape lagi.”

Masih mengemut-ngemut permen gula merah yang ternyata enak itu, saya mendengarkan cerita Pak Ahmadi. Kalau memang ternyata kemalaman, Pak Ahmadi biasa menginap di rumah Pak Yardi ini. Tapi, menaati peraturan, orang luar (di luar orang Baduy Dalam) hanya boleh menginap satu malam, maksimal dua malam kalau memang keadaannya memaksa.

Pak Erwin nimbrung dalam percakapan dan turut bercerita. “Dulu itu pernah kejadian ada pedagang yang diusir. Gara-garanya ya dia nggak mau pergi dari sini (Cibeo maksudnya). Sudah lebih dari dua malam dia menginap dan nggak mau keluar. Ya sudah, awalnya ketua kampung (disebut pembersih) yang berusaha ngomong ke orang itu. Tapi, dia tetap meremehkan, nggak mau pergi. Orang itu pikir aturan adat di kampung ini main-main. Akhirnya, yang turun tangan sampai Polsek (mungkin pihak kepolisian setempat, maksud Pak Erwin). Dia baru keluar dan dipenjara 3 tahun.” Wah, kaget saya mendengarnya.

Pak Ahmadi hanya senyum-senyum dan lalu bicara bahasa Sunda pada Pak Yardi yang kebetulan siang itu sedang kedapatan tugas ronda kampung, yaitu menjaga kampung ketika semua orang pergi ke ladang. Tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang pasti, mereka menampakkan wajah senang.

Seiring pembicaraan saya dan Pak Ahmadi, muncul beberapa anak-anak yang datang untuk jajan. Ini juga saya kaget. Ternyata, anak Baduy Dalam sudah kenal yang namanya jajanan modern (wafer, permen, dan lain-lainnya itu). “Banyak laku, Pak?” Lumayan, kata Pak Ahmadi dengan suara yang setengah berbisik. “Si Sarinah (adik Pak Erwin) juga sudah kenal jajan, Neng. Kalau Pak Ahmadi jualan, dia pasti jajan bolak-balik,” kata Pak Erwin.

Pak Ahmadi mulai mengambil posisi rebahan di teras rumah Pak Yardi. Hm, rasanya sudah tidak sopan kalau masih mengajaknya ngobrol-ngobrol. Terakhir, Pak Ahmadi cerita bahwa yang suka jualan di sini bukan cuma dia. Ada juga pedagang-pedagang lain yang barang dagangannya lain jenis. Biasanya, pedagang khusus beras berasal dari Kroya. Sementara untuk ikan asin, biasanya dari Nangerang.

Melihat Pak Ahmadi sudah mulai enak dengan posisi berbaringnya dan lolipop kacang saya juga sudah hampir habis, rasanya saya memang sudah harus pamit. Setelah mengucap terima kasih atas obrol-obrolnya, saya bersama Pak Erwin pamit. Tapi, pikiran saya masih bermain-main. Di satu sisi, saya mengagumi Pak Ahmadi yang berupaya sangat keras untuk mencari nafkah. Tapi, di sisi lain, saya menyayangkan usaha Pak Ahmadi bisa melunturkan kemurnian adat orang Baduy Dalam. Ah, di mana saya harus ‘berdiri’? Bingung juga.

*Ket.: Saya tidak memiliki potret dari Pak Ahmadi sebab di Baduy Dalam tidak boleh memotret.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s