Rasanya Kehilangan

Cerita saya soal perjalanan ke Banten sebentar dulu saya abaikan. Tiba-tiba saya ingin cerita hal di luar agenda travel saya itu. Terinspirasi seorang teman kantor.

Namanya, Hanindyo Suropati. Saya biasa panggil dia “Boni” atau “Boncu”, tergantung mood. Beberapa hari yang lalu, Rabu malam, di tengah deadline AREA yang sedang tinggi-tingginya, Boni izin pulang kantor setelah sebelumnya baru kelar liputan. Padahal, biasanya, dia yang paling setia menemani semua kru deadline sampai subuh. Karena semua orang butuh mood booster, dan Boni ini tipikal orang yang punya segambreng berita; bikin kami riang dan segar.

Tapi deadline kali ini lain. Dia bersegera pulang. Baru kemudian setelah Boni hilang, desainer grafis AREA, Tantri bilang, “Bokapnya masuk rumah sakit. Stroke.”

Wah, serangan ini sudah yang kedua kali setahu saya. Dan, lazimnya, serangan yang kedua berakibat lebih parah daripada serangan yang pertama. Setelah mendengar kabar itu, semua kru yang masih tersisa di kantor down, ikut lemas. Tapi, masing-masing pasti berdoa dalam hati untuk kesembuhan ayahnya Boni.

Keesokannya, Boni nggak ngantor. Jumat, 19 November 2010. Hari ini, melalui Twitter, saya mention @bonybonz dan bertanya soal perkembangan ayahnya. Dia membalas, “Masih belum ada perkembangan yang berarti,” dengan keterangan senyum kecut yang menyertai.

Sabtu, 20 November, pagi hari. Hari ini saya iseng ingin tahu kabar ayahnya Boni selanjutnya. Iseng, saya SMS, tanya kabar sang ayah. Dibalas. Isinya, “Bokap udah diberi jalan yang terbaik, Tre.”

Ini sungguh ambigu. Bisa jadi ayahnya sehat kembali, bisa jadi aaaaahhhhh… saya nggak mau menduga-duga sembarangan. Karena itu, saya langsung telepon Boni. Di seberang sana, Boni bersuara selayaknya ia sehari-hari. Suaranya renyah dan riang. Saya tanya apa maksud SMS-nya barusan tadi. Dia bilang, ayahnya baru saja meninggal. Walaupun nada suaranya terdengar baik-baik saja, tapi dia tidak bercanda. Innalillahi wa innailaihi rajiun.

Lalu, apa selesai sampai di situ cerita saya? Bukan itu sebenarnya inti cerita yang ingin saya sampaikan. Tapi lebih kepada penerimaan Boni mengenai “kehilangan” ini.

Sabtu malam, saya bersama banyak anak kantor datang ke rumahnya, membawa ungkapan duka. Dan, apa yang saya lihat adalah Boni yang riang, seperti biasanya ia. Seolah tidak ada rasa kehilangan yang besar baru terjadi. Setidaknya itulah yang kelihatan mata. Sang ibu dan adik Boni juga tidak henti menebar senyum ikhlas. Tenang. Tidak ada raungan atau mata sembab.

Lalu, saya bertanya kepada diri sendiri. “Bagaimana saya menghadapi kehilangan orang-orang terdekat, utamanya orangtua?” Sampai detik ini, orangtua saya masih hidup, walaupun memang salah satunya tidak tinggal bersama saya. Hingga kalau ditanya semacam itu, tidak ada bayangan akan sehancur apa saya. Yang saya yakin, saya tidak akan bisa setenang Boni dan keluarganya. Sama sekali. Tapi, tidak tahu juga akan selemah apa.

Satu hal yang saya yakin, menghadapi kehilangan atau perpisahan itu selalu berat. Apalagi jika hilangnya karena maut. Apalagi jika yang hilang adalah orang-orang yang begitu dekat dengan kita. Karena itu saya selalu berharap, saya akan meninggalkan dan bukan ditinggalkan. Sebab, rasanya ditinggalkan jauh lebih berat.

Begitu banyak reaksi yang manusia perlihatkan untuk menghadapi kehilangan. Apa pun, setiap kesedihan selalu ada ujungnya. Setiap akhir selalu disertai dengan awal yang baru. Jadi, sedihlah sehari dan berbahagialah sisanya.

Foto: Mahargyo Jati Nugroho

2 Comments Add yours

  1. bony says:

    gua baru baca nih, tre….setelah iseng2 googling nama gua….hahaha…makasih lho. Gua tertawa dan bersikap ‘nrimo’ itu emang didikan bokap gua dari kecil. Tapi rasa kehilangan itu masih sampe sekarang, dimana orang yang jadi panutan gua dalam segala hal udah nggak ada. Dan gua nggak bisa jadi kaya dia yang selalu ceplas-ceplos, pinter, bisa nyelesaiin masalah orang, ngecengin orang…tapi begitu dia meninggal yang nangis dan sedih begitu banyak😀

    1. Atre says:

      buset, Bon. ini tulisan lama benerrrrr…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s