Jalan-jalan di Baduy Luar: Danau Besar dan Jembatan Akar

Baduy paling nikmat jika dieksplorasi dengan berjalan kaki. Karena itu, hari ini, saya trekking di Baduy Luar untuk mengunjungi beberapa titik wisata menarik di Baduy, Banten.

13 Oktober 2010. Hari ini, Bella (partner saya) kurang begitu enak badan. Maka itu, ia tinggal di penginapan, sementara saya bersama Pak Erwin (pemandu) dan Arif, berangkat trekking. 

Sekitar pukul 09.00 kami beranjak. Track yang dilewati adalah jalan naik-turun bukit dan jalan setapak dengan kanan-kiri ladang warga. Destinasi pertama, Dangdang Ageung. Jarak tempuh: 1 jam jalan kaki. Oke, noted!

Mulai lagi kami menerabas hutan, mendaki, menurun, jalan datar, semuanya. Sesekali, Pak Erwin berhenti untuk menyapa dan disapa teman-temannya. Katanya, setiap orang di sini saling mengenal; baik itu orang Baduy Dalam ataupun Baduy Luar. Guyub.

Perjalanan satu jam ke Dangdang Ageung terhitung cepat dan mudah. Setelah bertemu Kampung Sarani, tahu-tahu kami sudah sampai di dangdang (danau) yang kalem. Hm, pandangan saya berkeliling. Tidak ada orang lain lagi selain kami.

“Biasanya memang sesepi ini, Pak?” pertanyaan ini untuk Pak Erwin. Dia menjawab, “Kalau pagi-pagi, suka ada yang mancing atau duduk-duduk, Neng. Nggak sepi banget juga.”

Saya amat-amati Dangdang Ageung yang artinya adalah “danau besar” itu. Mengenai keluasan, ia tidak terlalu luas, serupa lapangan tenis. Nah, tapi mengenai kedalaman, ini yang bahkan Pak Erwin saja tidak berani menebak.

Banyak pohon palem yang mengelilinginya. Bisa dibilang, tema danau ini adalah “hijau”. Air berwarna hijau, banyak pohon berwarna hijau sejauh mata kita memandang, dan rumput-rumput yang lebat menambah kesan hijau tersebut.

“Mau naik getek?” tiba-tiba Pak Erwin menawarkan. Walah, saya kaget. Saya memang sedang bertanya-tanya dalam hati kenapa bisa ada getek di pinggiran dangdang. Saya juga sedang berpikir-pikir, apa iya itu bisa digunakan? Dan, ketika Pak Erwin bilang begitu, terjawab sudah dua pertanyaan saya. “Aman?” tanya saya. Pak Erwin tertawa dan langsung meyakinkan saya bahwa getek yang tersusun dari bambu itu sangat aman.

Saya berpikir lama sekali menyambut tantangan ini. Selagi berpikir, bulu tengkuk saya berdiri tegak. Ah, saya ngeri ternyata. Akhirnya, dengan terpaksa saya menolak tawaran Pak Erwin.

Kami masih duduk-duduk di pinggiran dangdang, dekat dengan pohon palem. Hari semakin terik, tapi pohon palem itu meneduhkan area santai kami. Sampai di tengah keheningan, Pak Erwin bersuara,

“Kata orangtua zaman dulu, di tengah-tengah danau ini, ada semacam pintu yang nembus ke laut.” Wah, soal legenda. Saya suka. “Konon, lubang ini akan membawa kita ke laut di dekat-dekat Banten.” Selat Sunda? saya tebak. Mungkin, kata Pak Erwin. Sampai sekarang pun, orang-orang Baduy masih percaya legenda ini.

“Ada satu legenda lagi. Kata orangtua dulu, di dangdang ini tinggal lembu.” Yang terbayang di otak saya adalah perawakan kambing atau domba. Tapi, ternyata bukan itu. “Lembu itu bukan kambing. Tapi, ular yang besarnya itu bisa segitu (menunjuk pohon besar di depannya).” Ah, serupa anaconda, saya langsung berimajinasi. “Ya ampun, gede banget,” refleks pendamping saya, Arif.

“Dia bukan hewan biasa. Itu penjelmaan Dewa Cai, dewa air.”

Beberapa saat setelah Pak Erwin bilang begitu, tahu-tahu dari pohon palem di sebelah kanan tempat kami duduk-duduk, muncul tiga ular pohon kecil-kecil berwarna hijau muda. Mereka menggeliat ke arah kami. Karena panik, saya langsung mengajak Pak Erwin dan Arif untuk pergi dari sana. Saya bergegas dari tempat itu.

Dengan wajah masih pias, kami beranjak ke Jembatan Akar. Pak Erwin masih juga cerita soal Dewa Cai sembari kami menerabas hutan, memotong jalan, keluar dari jalan setapak, agar kami bisa sampai lebih cepat ke tujuan.

“Dulu, pernah ada anak sekolah dari luar Baduy yang meremehkan, bicara mengejek-ejek lembu di pinggir danau itu. Dia nggak percaya kalau lembu itu ada di danau itu. Tidak boleh itu begitu. Setelah bicara jelek-jelek, anak itu kena celaka, kecebur di danau dan meninggal.” Ah, kalau bisa berkaca kala itu, mungkin wajah saya semakin pucat. Saya diam, Arif juga diam.

Setelah setengah jam, pukul 11.30, menjauh dari Dangdang Ageung, barulah Pak Erwin berhenti berbagi soal legenda. Dia mengubah topik menjadi destinasi kami selanjutnya, Jembatan Akar. Kira-kira tiga jam kita jalan kaki. Track-nya tetap sama; perbukitan dan hutan.

Ketika di jam keempat perjalanan, saya sempat putus asa. Beruntung, kami bertemu Kampung Gerendeng, dan di sini, Pak Erwin punya kenalan. Pak Qodo namanya. Untuk menyegarkan kembali gairah dan stamina, kami istirahat sejenak di rumah itu; ngopi dan minum air putih.

Asyiknya waktu istirahat kami kali ini adalah banyak orang asli yang ada di rumah itu, kebanyakan anak-anak. Jadi, keriaan mereka melihat orang baru tertular pada saya. Mood saya jadi naik, dan semangat muncul lagi.

Kelar istirahat, perjalanan dilanjutkan kembali. Masih ada sekitar 1 jam lagi dari Gerendeng untuk sampai Jembatan Akar. Tapi, perjalanan sudah tidak gering gersang. Dan, akhirnya, dari kejauhan, terlihat akar-akar yang bergerumbul. “Wilujeung sumping,” kata Arif seolah menyemangati saya. Ah, kami sampai di Jembatan Akar. Akhirnya.

Jembatan Akar ini sungguh luar biasa. Ia melilit-lilit membentuk jembatan dari akar pohon yang benar-benar masih hidup, dengan dikombinasi susunan bambu untuk pijakannya. Sama sekali tidak terbayang bagaimana cara mengaitkan akar-akar ini hingga akhirnya membentuk jembatan.

Pak Erwin menyisipkan informasi lagi, “Jembatan ini yang buat Pak Sayunah. Dia tinggal di Kampung Penyerangan, masih harus jalan kaki lagi dari sini.” Konon, usia jembatan yang panjangnya kurang dari 10 meter ini sudah 40 tahun. Di bawah jembatan ini mengalir sungai yang airnya kehijauan.

Menarik. Tapi, kami sudah kesorean, tidak bisa berlama-lama di sana. Sudah pukul 16.00. Lagipula, saya sudah tidak ada daya. Masuk angin kebangetan dan maag kronis jadi penyebab. Maka, dari kampung terdekat dari Jembatan Akar, kami minta tolong dipanggilkan ojek motor. Ojek ini untuk perjalanan pulang kami.

Selayaknya offroad, motor-motor kami melewati jalan-jalan berbatu dan melewati sawah-sawah. Entah apa saja namanya desa-desa itu. Tidak sampai satu jam, dengan bayaran Rp20.000 per motor, kami sampai di Kaduketuk, melewati Ciboleger. Dan, saya langsung rebah lemas. Perjalanan yang luar biasa dengan cerita yang juga brrrr luar biasa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s