Turis Paling Baik Menurut Guide di Anyer

Cas cis cus, cas cis cus. Saya lihat lelaki berperawakan kecil dan berjaket hitam sedang menjabarkan panjang-lebar tentang objek wisata yang ada di depannya kepada sepasang petualang asing asal Belanda menggunakan bahasa Inggris. Saat itu, kami sama-sama sedang berada di Ujung Kulon, tepatnya Pulau Cidaon. Dan, berkat Tuhan, kami bertemu lagi di Carita, di tepi pantai.

Namanya Pak Subhi. Tinggal di Desa Sukarame, Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang. Ayah dari lima anak ini sudah sejak 1980-an menjadi travel guide.

“Dari kelas 3 SMP rasanya saya sudah seneng banget sama bahasa Inggris yang didapat di sekolah. Tapi, jadi travel guide baru setelah keluar dari SMA di Bogor. Bahasa Inggris saya jadi lebih lancar karena kerja dua tahun di Duta Besar Venezuela. Rumahnya di sini ini, di Carita.”

Saya mengangguk-angguk terpesona. Rupanya, di kawasan wisata semacam Carita, fasih bahasa Inggris sudah menjadi kewajiban, alias sudah biasa. Lalu, apa sarana yang bisa membuat warga sekitar Carita bisa jago memainkan kata-kata asing itu? Rupanya awalnya ada (bisa disebut) komunitas Komtempar (Komunitas Penggerak Pariwisata) di Banten. Inilah tempat pertama kali Pak Subhi menata karier sebagai travel guide. Di sini, pembekalan akan bahasa Inggris diperhatikan sehingga warga setempat bisa memiliki pekerjaan yang baik, yaitu travel guide untuk orang asing. Tidak bisa dipungkiri, selain prestise yang besar, uang yang didapat dari profesi pemandu untuk orang asing memang lebih besar dibanding jika memandu wisatawan lokal.

Tapi, bagaimana kalau ada wisatawan lokal yang ingin Bapak Pandu? saya tanya begitu. Pak Subhi menjawab, “Wah ya saya antar. Saya bukan guide khusus bule. Hanya saja memang kebanyakan yang datang ke saya itu bule. Apalagi setelah saya sudah tidak di Komtempar dan Black Rhino Turis Informasi, saya lagi freelance. Proyeknya dari mulut ke mulut saja.”

Sekitaran Banten, sebut saja Ujung Kulon, Krakatau, Baduy, Carita dan sekitarnya, adalah destinasi yang biasa Pak Subhi geluti. Saya penasaran, bagi orang asing, tempat-tempat mana saja yang kerap menjadi bahan pujian? Pak Subhi menyebutkan tiga tempat utama. Pertama, Curug Gendang (Air Terjun Carita) yang bisa dicapai satu setengah jam menggunakan ojek motor, mobil, atau sewa angkot. Kedua, Anak Krakatau. Bule-bule suka menginap kalau gunung sedang aktif dan bagus-bagusnya. Misalnya, mereka bisa berangkat sore dengan speedboat dari Carita, sampai di sana satu setengah jam kemudian. Setelah itu, Pak Subhi mengecek apakah Anak Krakatau cukup aman. Kalau memang ternyata aman, mereka bisa menyiapkan tenda dan bule-bule itu bisa melihat Anak Krakatau meletup-letup pada malam hari. Indah sekali, konon.

Melihat raut wajah Pak Subhi, rasanya dia senang sekali menjalani profesi ini. “Iya, karena faktor usia juga, saya sudah tidak kepikiran ganti pekerjaan. Tapi di luar ini, saya juga punya pekerjaan sampingan kalau sedang tidak ada tamu, yaitu mengurusi pemasangan apa saja. Istrinya juga biasa berdagang di Pantai Carita. Dagangannya adalah makanan, seperti gado-gado atau pisang goreng. Cukuplah untuk bisa bikin dapur terus ngebul, candanya.

Iseng-iseng saya bertanya, orang-orang dari negara mana yang paling kooperatif dan mana yang sebaliknya. Dengan sesekali melemparkan lawak, Pak Subhi begitu senang dengan keramahan orang-orang Belanda. Menurutnya, Belanda jadi terbuka seperti itu karena merasa ada sebuah ikatan berkat sejarah Belanda-Indonesia yang telah 350 tahun dijajah. Ada pula kaitannya dengan masalah kekeluargaan. Orang-orang Belanda cenderung lebih penasaran dan excited mengetahui sejarah Indonesia–karena mungkin juga menyangkut nenek moyang mereka, bangsa Belanda. Sementara, untuk yang lebih repot sedikit adalah WN Prancis. Sebab, mereka cenderung keras kepala. Pak Subhi harus pintar-pintar berargumentasi agar bisa ‘ketemu’ jalan yang paling baik.

Di akhir percakapan, saya mencoba bertanya soal faktor yang menghambat perkembangan Banten. Hal yang paling dirasakan Pak Subhi adalah masalah jalan. Akses yang dilewati masih sulit, rusak di mana-mana, dan seringkali malah belum diaspal. Selain itu, kurangnya perawatan fasilitas dan sarana menjadi sebab kenapa di beberapa titik wisata, Banten kurang bisa unjuk gigi. Kalau SDM sudah bagus dan objek wisata terawat baik, wah, Banten bisa jadi sangat ramai.

Dan, sambil membayangkan Banten yang ramai, saya dan Pak Subhi menikmati sore yang mendung di Carita. Betapa bersyukurnya kita punya serombongan travel guide yang bisa menyebarkan keindahan Banten ke seluruh dunia melalui wisatawan asing. Ini toh bukan berarti wisatawan lokal tidak berperan. Bukankah kalau lokal dan asing sama-sama berkumpul, wisata Indonesia malah jadi lebih meriah?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s