Konser Dewa Budjana di Salihara

 

Tertanggal 1 Desember 2010.

Dengan mimik wajah yang masih senyum-senyum sendiri, saya keluar dari gedung pertunjukan. Konser yang barusan saya tonton membuat saya riang-entah-kenapa dan jatuh-cinta-entah-kepada-siapa.

Jam 19.50, saya yang kebetulan memegang tiket untuk area kursi, sudah diperbolehkan masuk ruang pertunjukan di Salihara. Konser salah satu gitaris andal Indonesia yang sekaligus gitaris grup band GIGI, malam ini, 1 Desember 2010, akan saya nikmati. Ya, Dewa Budjana.

Detik-detik sebelum pertunjukan, panggung masih kosong orang. Yang ada hanya sebentuk piano, kendang, keyboard, drum set, bass, suling aneka ukuran, dan beberapa gitar bermacam bentuk. Sementara, di jajaran kursi dan area lesehan, penonton sudah padat dan mulai tak sabaran menanti kemunculan seorang gitaris kalem di panggung. Sebuah kegelisahan massal terbentuk.

Dan, jam 8 tepat, setelah gong berbunyi dua kali, satu per satu sosok memunculkan diri. Dewa Budjana tampak pertama, dengan kemeja batik berwarna biru pupus tanpa lengan dan jeans hitam. Setelahnya, muncul Sandy Winarta yang langsung menuju ke perangkat drumnya, Irsa Destiwi yang segera duduk manis di balik piano, Shadu Shah Chaidar yang pelan-pelan mengalungkan tali bass di pundaknya, Saat yang mengambil tempat di sisi Shadu dan memegang suling putih, Dandy Lasahido yang langsung duduk di hadapan keyboard-nya, serta Jalu yang bersila bersiap di belakang set kendangnya.

Wah, full band, pikir saya. Benak saya lalu ‘lari’ ke gitaris lain yang juga jagoan, Jubing Kristianto. Berbeda dengan Jubing yang selalu tampil solo dan akustikan, Dewa Budjana rupanya lebih suka pertunjukan yang “ramai”.

Setelah announcement “selamat menyaksikan” bergaung di speaker, tanpa ba-bi-bu, Dewa Budjana dkk membuka pertunjukan dengan “Dreamland”, dilanjutkan berturut-turut dengan “Dancing Tears” dan “Lalu Lintas”. Tiga instrumen pertama bisa membangunkan macan tidur, saya kira. Begitu bersemangat dan up beat. Membuat saya ingin menghentak-hentakkan kaki ke lantai keras-keras—hal yang tidak mungkin dilakukan saat ini, di dalam gedung pertunjukan.

Kelar tiga track ini, baru Dewa Budjana ber-ba-bi-bu. Syukurlah. Karena kalau akhirnya Budjana memilih tidak berinteraksi sama sekali dengan penonton, konser ini bisa jadi kehilangan greget; se-meriah apa pun permainan mereka.

“’Lalu Lintas’ itu lagu yang paling lama, buatnya tahun 1987. Selanjutnya, masih ada banyak, nih. Ada ‘Lost Paradise’, ‘Kromatiklagi’, ah, langsung dimainkan saja ya,” tuturnya salah tingkah.

Lalu, pertunjukan berlanjut lagi. Di bagian kedua, jam session antara Irsa, Sandy, dan Budjana begitu dominan. “Lost Paradise”, “Kromatiklagi”, dan “Bunga yang Hilang” sukses bikin penonton larut.

Di sesi selanjutnya, Budjana dkk menampilkan track-track yang lebih melankolis; “Adikku”, “Early Morning”, “Dawaiku”, “Caka”, dan “Lonely”. Slide yang ada di otak saya: saya seolah ada di padang ilalang, dan menari-nari dalam gerakan lambat.

Untuk “Lonely”, sebelumnya Budjana bercerita, “Lagu ini saya ciptakan bareng Saat,” yang ditunjuk hanya senyum-senyum, “waktu kita ada di tengah sawah. Saat ini dari Kalimantan. Uniknya, dia buat suling-sulingnya sendiri. Bentuknya aneh-aneh. Tapi, saya heran, semuanya bisa bunyi,” tutur Budjana terkekeh, masih malu-malu.

Sempat ada trouble pada gitar kecil yang sedang digunakan Budjana ketika menampilkan “Lonely”. Membuat Budjana merasa perlu bercerita, “Entah kenapa, setiap kali saya dan Saat mainin lagu ini, tidak pernah mulus. Sekarang juga begitu. Kenapa, ya?” katanya sambil memandang Saat. Yang dipandang hanya geleng-geleng pelan.

Setelah duetnya bersama Saat, Budjana memainkan berturut-turut “Dedariku”, “Ruang Dialisis”, dan “Rerad Rerod”. Tentang “Dedariku”, Budjana bercerita, “Lagu ini saya buat untuk istri saya,” katanya malu-malu dan langsung disambut keriuhan dari penonton. Di Bali, ada tarian namanya Sanghyang Dedari. Inspirasinya berasal dari sana, katanya. Sementara “Ruang Dialisis” bercerita tentang ayah Budjana yang harus bolak-balik ke ruang dialisis, tempat cuci darah.

Jam 10 malam. Jika sesuai jadwal, sekarang harusnya pertunjukan sudah selesai. Tapi, saya lirik booklet; masih tersisa 4 lagu. Mungkin karena itu juga, akhirnya Budjana mengatakan, “Oke, ini sesi terakhir, ya,” dan bergegas memainkan track-track yang diakhiri “On the Way Home”. Seperti tidak ingin membuat penonton kecewa, Budjana, Saat, Jalu, Irsa, Dandy, Shadu, dan Sandy tampil all out. Sukses bikin penonton melongo dan mencapai klimaks.

Soal teknik permainan, bukan kapasitas saya untuk mengomentarinya. Yang saya yakin, apa yang ada di hadapan saya adalah Dewa Budjana seorang maestro gitar yang sudah punya empat album instrumental dan personel Trisum (bersama Tohpati dan Balawan). Bukan Dewa Budjana gitaris GIGI. Sama saja menurut Anda? Jelas beda, menurut saya.

Jam 10.30 malam, melangkah keluar Salihara, saya senyum-senyum tidak jelas, masih terbawa suasana yang dijejalkan Budjana dkk kepada saya. Lalu, saya ingat statement Rully Annash (drummer The Brandals) saat tahu saya akan nonton Konser Dewa Budjana, “Budjana tuh ‘gila’ lagi mainnya. Waktu dia main di Belanda kalo nggak salah, orang sana aja meringis (kagum, red).” Setelah melihat sendiri konser “serius”-nya ini, saya cuma bisa bilang, “Pantas saja.”

Foto: Komunitas Salihara/Witjak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s