Waktu yang Tepat untuk ke Sawarna

Kapan waktu yang tepat untuk datang ke Pantai Sawarna?

Belakangan, itinerary Sawarna kerap disebut-sebut. Masih perawan dan seolah berada di private island, begitu kata orang-orang yang pernah ke sana. Sebelum overrated, saya bergegas menuju ke sana ala ransel.

Saya berangkat tepat di awal 2011; tertanggal 1 Januari. Dari Jakarta sekitar pukul 10.00, saya akhirnya sampai di Desa Sawarna sekitar pukul 16.00. Itu pun setelah harus berganti bis dua kali dan sekali elf, dilanjutkan ojek motor menuju penginapan yang diinginkan.

Sawarna terletak di bagian selatan Banten. Untuk bisa sampai ke wilayah ini, kita akan melewati Pelabuhan Ratu, Pantai Citepus, Pantai Karang Hawu, dan Cimaja.

Jika pada 2009 penginapan masih minim, tahun ini, pilihan menginap lebih banyak, mulai dari losmen, sampai homestay. Karena tepat dengan perayaan Tahun Baru dan pengunjung sedang ramai, saya tidak punya banyak pilihan dan akhirnya menginap di Penginapan Widi. Di sebelah kanan penginapan terhampar sawah-sawah yang sudah lewat masa tanam dan tinggal menunggu panen. Sementara di depan penginapan, jajaran pohon kelapa menjadi penyempurna pemandangan.

Sayang, awan gelap menyambut saya sore itu. “Cuaca memang begini belakangan, Neng,” kata Aa Dian, orang dari Penginapan Widi yang menjemput saya di Simpang Ciawi, setelah turun dari elf. Sejak itu, saya putuskan untuk menjadikannya guide saya selama di Sawarna.

Meski mendung, saya masih juga bersikeras menuju pantai dan menunggu senja. Sial, belum sampai 10 menit sampai di Pantai Pasir Putih yang hanya berjarak 200 m dari Widi, hujan turun. Gerimis, lalu menderas. Ketika sampai di Widi lagi dengan kuyup, Aa Dian tersenyum kasihan. Di teras Widi, kami ngobrol.

“Patokannya itu, kalo lagi banyak bule yang dateng, berarti cuaca lagi bagus, Neng. Kalo sekarang, liat aja, kebanyakan lokal,” kata Aa Dian.

“Biasanya kapan banyak bule datang, A’?” kali ini suara saya.

Mulai Maret, lebih banyak orang asing yang berdatangan, begitu jawab Aa Dian. Berarti setelah bulan Maret adalah waktu yang pas untuk ke Sawarna.

Seperti halnya Cimaja yang terletak hanya beberapa jam dari sana, Sawarna juga menjadi surfing point yang diincar wisatawan asing. Dengan mengandalkan tiga pantai yang berair jernih, berpasir putih, serta ombak yang ciamik (Pasir Putih, Pantai Ciantir atau Tanjung Layar, dan Legon Pari), Sawarna cocok untuk Anda yang senang berselancar air atau sekadar ngojay.

Hari pertama memang agak mengecewakan karena hujan. Tapi, hari kedua, tahu kalau langit sedang tidak bisa diharapkan, saya fokus untuk caving. Saya ditemani Aa Dian mulai menjelajah pukul 10.00. Rencana awal, pukul 08.00 sudah berangkat, tapi pagi 2 Januari itu, lagi-lagi hujan turun.

Ibu Widi si empunya penginapan mengingatkan kepada Aa Dian dalam bahasa Sunda. Artinya kira-kira, kalau air di gua terlalu tinggi, jangan paksakan untuk masuk. Aa Dian mengangguk dalam, dan debaran di dada saya mulai terasa.

“Mau naik motor atau jalan kaki, Neng?” Aa Dian menawarkan. “Naik motor paling cuma sepuluh menit. Jalan kaki setengah jam, tapi bisa lewat sawah sekalian nyebur kali.”

Sudah bisa ditebak, saya memilih pilihan kedua. Hari masih gerimis. Sementara Aa Dian menyiapkan petromak, saya menyiapkan payung besar kotak-kotak hijau pinjaman dari Ibu Widi. Dalam hati saya kurang begitu yakin, apa petromak itu cukup untuk menerangi gua nanti dan kenapa tidak memilih senter. Ketika saya tanya soal itu, Aa Dian malah tertawa, “Wah, petromak malah lebih terang dibanding senter, Neng.”

Sepanjang perjalanan, menapaki jalanan aspal, Aa Dian bercerita banyak. Aa Dian memang orang asli Sawarna. Lahir dan tumbuh di rumah yang sekarang ia diami, tepat di depan Penginapan Widi.

“Nama Sawarna itu asal muasalnya bukan dari desa atau pantai, tapi justru nama kali. Itu yang orangtua saya bilang. Artinya, sewarna atau satu warna.”

Setelah melewati petak-petak sawah, susur kali, dan menyeberang jembatan gantung, kami sampai di mulut gua yang kelihatan begitu pendek. Dari luar, yang bisa saya bayangkan hanya gua yang kecil dan sempit, juga gelap. “Ini namanya Gua Lalay. Dari bahasa Sunda yang artinya ‘kelelawar’,” A’ Dian kembali bercerita.

Memasuki Gua Lalay, gua ini tidak sesempit yang saya bayangkan. Lebarnya ada sekitar dua rentangan tangan orang dewasa. Dan, petromak yang dibawa Aa Dian sungguh bisa diandalkan. Selain bisa jelas melihat batu-batuan gamping di kanan-kiri gua, berkat cahaya petromak itu, hasil foto sangat bagus dan lebih alami, walaupun tanpa bantuan blitz. Bravo!

Sekitar 200 meter pertama, bagian dasar Gua Lalay adalah pepasiran. Oleh karena hujan terus sedari malam, ketinggian air di dalam gua sebatas lutut orang dewasa. Setelahnya, pasir-pasir itu mulai digantikan lumpur yang ketebalannya semakin meningkat. Stalaktit dan stalakmit yang terbentuk di Gua Lalay tidak tajam.

Menurut Aa Dian, ini karena aliran air yang menetes terlampau deras. Jadi, bentuknya cenderung tumpul dan besar-besar.

Sebenarnya, panjang keseluruhan Gua Lalay sekitar 1.000 meter. Tapi, berhubung ketebalan lumpur semakin meningkat ketika semakin dalam menjelajah gua, saya menyerah di meter (sekitar) 500.

Selain Lalay, ada dua gua lagi di desa ini; Gua Kadir yang ada di sebelah Barat Lalay dan Gua Camaul yang agak jauh. Hanya saja, karena siang itu juga saya harus kembali ke Jakarta, perjalanan disudahi sampai di Gua Lalay ini saja. Saran saya, sempatkan waktu minimal 3 hari 2 malam saat berkunjung di Sawarna. Lalu, pilihlah musim yang cerah agar pantai tidak mengecewakan.

Rute menuju Sawarna:

Dari Terminal Lebak Bulus, naik bis AgraMas Jurusan Lebak Bulus-Bogor, turun di Terminal Baranangsiang, Bogor. Waktu perjalanan: 1 jam. Harga: Rp11.500.

Dari Terminal Baranangsiang, naik bis MGI Jurusan Bogor-Pelabuhan Ratu, turun di Terminal Pelabuhan Ratu. Waktu perjalanan: sekitar 3 jam. Harga: Rp25.000 (AC), Rp20.000 (Ekonomi).

Dari Terminal Pelabuhan Ratu, naik Elf Jurusan Pelabuhan Ratu-Bayah, turun di Simpang Ciawi atau Gapura Sawarna. Waktu perjalanan: sekitar 2 jam. Harga: Rp15.000.

Dari sana, naik ojek menuju penginapan yang diinginkan. Waktu perjalanan: 30 menit. Harga: Rp25.000.

Sumbangan di Gua Lalay: Rp2.000/orang

2 Comments Add yours

  1. bleetzi says:

    weekend ini saya mau ke Sawarna nih…semoga bisa dapat cuaca bagus. btw, thanks atas sharing rute nya….

    1. Atre says:

      anytime🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s