Jubing dan Ratusan Orang di Kaki Langit

“Ini semua gara-gara kamu,” tiba-tiba Ananda yang jadi MC mengajak saya bicara. Dia di atas panggung, saya duduk di karpet, di garda depan panggung, lesehan. “Kamu jangan motret aja dong ah. Saya jadi GR,” ia ngeles karena salah ucap; harusnya Bing Slamet jadi Bing Slamit. Saya malu, sementara semua penonton ngakak.

Malam itu, 3 Maret 2011, halaman Bentara Budaya Jakarta (BBJ) penuh orang. Entah sejak jam berapa. Yang jelas, ketika saya datang sekitaran jam setengah 8 malam, dari anak kecil sampai sesepuh sudah ramai. Semua orang ini punya keinginan yang sama: nonton Jubing.

Setelah Wandy Gaotama (produser) naik panggung untuk “perayaan simbolik” peluncuran album keempatnya, Jubing memulai acara. Tanpa ba bi bu, track “Sinaran” dimainkan. Pilihan yang tepat, saya rasa. Track yang ada di dalam album pertama Becak Fantasy ini, selain memang sudah familiar di telinga karena pernah dipopulerkan Sheila Madjid, juga bertempo cepat. Membuat semua orang yang ada di BBJ punya kesempatan untuk ‘memanaskan’ diri.

Apa alasan di balik penamaan album Kaki Langit? Kata Jubing, “Saya inginnya nggak ada kata fantasy-fantasy lagi. Lama-lama nanti jadi gitaris fantasy.” Disambut cekakakan semua penonton.

Dalam konser ini, Jubing punya banyak track yang ditampilkan. Semua terbagi jadi tiga bagian besar: hasil cipta sendiri, recover/recycle, dan tribute to Indonesia’s legend. Karyanya pun masih terbagi lagi; melankolia dan total swinging. “Wangi Hujan”, “Lament” yang sebenarnya adalah lagu ratapan, “Prelude to the Falling Leaves”, dan “Song for Renny” (track khusus untuk istrinya, Renny) mewakili sisi romantisisme dan melankolis Jubing. “Sailor’s Jig” yang terinspirasi Popeye, “Fatman Blues”, “Kaki Langit” mengajak Anda joged. Untuk “Fatman Blues”, track ini merupakan dedikasi untuk Jaya Suprana. Lalu, “Kaki Langit” diakui Jubing menjadi lagu yang paling lama proses pembuatannya; sekitar 2 tahun. Inspirasinya muncul ketika ia naik bis melewati padang kering di tempat terpencil, tidak ada tanaman, dan di sekelilingnya kaki langit.

Untuk recycle, ada “Magnificent Seven” yang ada dalam album Becak Fantasy, “Mission Impossible” dalam Delman Fantasy, “We Are the Champions”, dan “Black Bird”-nya The Beatles. Dua track terakhir ada di album terbaru Jubing.

Selalu, di setiap albumnya, pasti ada track apresiasi untuk musisi legend Indonesia. Konsernya kali ini memasukkan “Bengawan Solo”, “Rek Ayo Rek”, “Ayun Langkahmu” yang dipopulerkan Yopie Latul, dan “Gembira Berkumpul”, “Nonton Bioskop” yang dinyanyikan Benyamin Sueb. Berturut-turut, track ini merupakan penghormatan Jubing untuk Gesang, Is Haryanto, Elfa Secioria, AT Mahmud, dan Bing Slamet.

Jubing tidak sendirian malam ini. Bukan karena ditemani Ananda yang sukanya mbanyol. Tapi, Reda Gaudiamo dan Didit, violis muda Indonesia, juga turut naik panggung. Kerja sama Jubing dengan Reda sudah dimulai sejak mereka sama-sama kuliah dan manggung bareng. Mereka biasa membawakan musikalisasi puisi. Sementara dengan Didit, Jubing bilang, “Dulu pernah ada event bareng Didit, event bank. Lama-lama cocok.”

Kolaborasi Jubing dengan Reda menampilkan “Aku Ingin” dan “Gadis Kecil”, dua musikalisasi puisi dari sajak Sapardi Djoko Damono. Lalu, “Black Bird”, “Gembira Berkumpul”, dan “Nonton Bioskop” Reda mengisi vokal. Track yang disebut pertama diaransemen Ags Arya Dipayana. Ia adalah sastrawan Indonesia yang beberapa hari sebelum konser baru meninggal. Ini juga sebuah tribute untuknya.

Di bagian akhir, Didit bergabung bersama Reda dan Jubing. Sudah beranjak dewasa ternyata dia, itu yang pertama muncul di benak saya. Charming, singkatnya. Sontak, ia menambah warna pada konser malam itu.

Didit punya aransemen yang unpredictable dan ear catching. “Nonton Bioskop” paling banyak mendapat respons. Dan, ngomong-ngomong soal tribute, Didit punya tribute sendiri. Ananda memberikan bocoran, track “Untukku Selamanya” khusus untuk perempuan yang ada di hati Didit. Namanya Karina. Kebetulan, malam itu si perempuan hadir. Entah di mana adanya. Baru setelah konser selesai, Didit kelihatan menghampiri dua orang perempuan. Wajahnya familiar. Yang satu, Intan Nuraini, si pemain sinetron itu. Dan, satu lagi Karina, yang ternyata adik dari si pemain sinetron. Jadi, berapa perempuan dari bangku penonton yang patah hati malam itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s