Mengingat Kartini Lewat Museum RA Kartini

Ke mana ingatan Anda tertuju jika mendengar nama kota “Jepara”? Sebagian mungkin menjawab ukiran/pahatan kayunya. Sebagian yang lain bisa jadi menjawab, “Kartini.”

Ya, ini memang kota kelahiran perempuan Indonesia penggagas emansipasi wanita itu. Dan, di kota ini, ada museum yang mengabadikan hidupnya. Mari berkeliling Museum RA Kartini.

Alun-alun kota Jepara, Jawa Tengah, pada sore tertanggal 31 Januari 2011 kelihatan sepi. Cuaca hangat. Jalanan lengang. Paling-paling hanya dua-tiga motor atau sepeda yang mondar-mandir tidak berisik.

Berjalan sedikit dari Alun-alun, saya menuju Museum RA Kartini. Keberadaannya tidak terlalu menonjol. Museum ini sebentuk rumah dengan halaman tidak seberapa luas.

Yang bikin kita tahu itu adalah museum adalah sculpture Kartini sebatas dada di pelataran, grafiti sosok Kartini di tembok depan museum, serta papan nama bertuliskan “MUSEUM RA KARTINI jl alun alun Jepara” di gerbangnya. Begitu tulisannya, sama persis.

Memasuki museum, suasana remang-remang menyambut kami. Pencahayaan agak kurang bagus di sini. Bau lembap dan apak juga tercium. Mengingatkan saya pada bau kertas dari buku tua di rumah.

Baru kemudian, seorang pria berperawakan pendek-kurus-rambut belah tengah menyapa, “Selamat sore, Mbak. Selamat datang.” Kami membalas sapaannya, dan dia kemudian menyodorkan tiket masuk. Lho, ternyata bayar, dalam hati saya. Harganya Rp1.500. Luar biasa murah. Dan, luar biasa sepi. Praktis, kala itu hanya ada kami, bertiga.

Pria tadi rupanya memutuskan menemani tur kami selama di Museum Kartini. Aduh, saya lupa tanya namanya. Karena dia seperti sudah asyik bicara, bicara tentang apa pun yang ada di museum itu. Saya hanya tinggal mengikuti, mengangguk-angguk, sesekali mengambil gambar.

“Museum Kartini didirikan pada 1974. Tapi, baru selesai pembangunannya dan diresmikan pada 1977. Museum ini mendapat bantuan dana dari Jenderal Soeharto, lalu diresmikan Bupati Jepara saat itu, Bapak Bupati Suwarno Djojo Mardowo,” tutur pria berkemeja itu dengan dialek ngapak-ngapak.

Di ruang pertama, kami langsung menemukan ukiran Garuda “Bhineka Tunggal Ika”, yang bersisian dengan poster-poster berisi asal-usul dan sejarah Jepara. Di sebelahnya, saya sempat kaget melihat lukisan RA Kartini dalam ukuran super besar. Masih di ruang yang sama, kita bisa melihat berbagai benda milik Kartini, seperti meja-kursi kerja, meja-kursi ruang tamu, hiasan meja, bothekan (semacam lemari berlaci-laci untuk aksesori), foto-foto hitam-putih Kartini dan keluarga, sampai dakon (congklak). Bagian yang menginspirasi, ada beberapa quote Kartini yang diukir dalam pahatan kayu.

Beralih ke ruang selanjutnya, yang saya temukan adalah berbagai koleksi dari R.M.P. Sosrokartono, kakak Kartini. Sempat bingung dengan keberadaan ruang kedua ini karena sudah tidak lagi ‘bicara’ soal Kartini. Tapi, saya punya pemakluman sendiri, “Mungkin masih ada ikatan keluarga dengan Kartini dan Raden Sostrokartono termasuk orang hebat.”

Dari koleksi yang ada di Museum Kartini, saya jadi tahu bahwa kakak Kartini ini merupakan lulusan Universitas Leiden-Belanda. Ia juga menguasai 9 bahasa asing timur, 17 bahasa asing barat. Ya benar, orang hebat.

Memasuki ruang ketiga–yang diisi koleksi kuno peninggalan sejarah, seperti koleksi Gong Semat, Yoni, patung-patung batu, lukisan-lukisan, sampai tulang ikan raksasa bernama Joko Tuwo yang ditemukan di perairan Karimun Jawa–, pemakluman saya habis. Ini sama sekali tidak berkaitan dengan Kartini. Ditambah, di ruang keempat, isinya adalah ukiran dan pahatan khas Jepara, anyam-anyaman dari bambu, serta alat transportasi. Bukannya tidak menarik, tapi saya jadi penasaran sendiri kenapa campur aduk begini.

Saya lalu bertanya kenapa pada sang guide. Ia menjawab jujur, “Koleksi-koleksi yang kaitannya dengan RA Kartini itu sangat sedikit. Karena itu, agar museum ini penuh, kami lalu memasukkan juga koleksi-koleksi lain.” Saya masih belum paham. “Berarti seharusnya nama museum ini bukan Museum Kartini dong, ya?” tanya saya sedikit menekan. Tapi, pria itu hanya tersenyum kecil, dan berkata ringkas, “Tapi, inti dari museum ini tetap Kartini.”

Pukul 17.00. Saatnya museum tutup. Pas sekali, tur kami juga baru selesai. Keluar dari museum itu, kawan saya bertanya–entah kepada saya atau kepada dirinya sendiri–, “Kalo tiketnya aja segitu murah, gaji mas tadi berapa, ya?” Sunyi. Saya tidak bisa menjawab. Entahlah, apa ia dapat jawaban di dalam diamnya. Yang jelas, pertanyaan itu cukup mengganggu kami.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s