Manits…

Ini malam Senin. Angin sedang kencang. Dari kamar saya, kedengaran risik-risik dedaunan di luar. Sebelum menuliskan ini, saya sedang tenggelam dalam sebuah buku. Buku tentang kamu, yang juga dipinjami kamu.

Sampul hijau tua buku ini serupa lumut. Ia juga lusuh, penanda usia. Semakin banyak halaman yang dihabiskan, semakin jari saya gemetar dan otak saya melayang entah ke mana. Buku ini tidak saya lanjutkan.

Yang muncul adalah pernyataan dan pertanyaan. Rindu adalah ungkapan paling jujur dari saya hari ini. Senyummu itu brengsek, menyeringai kecil, tapi ngangeni. Pertanyaannya, apa hanya butuh waktu semalaman saja untuk saya akhirnya dihantui kamu selamanya? Padahal, kamu sudah menyatakan, “Saya lebih suka tidak acuh pada orang yang acuh pada saya.”

Masih bengong sendirian di kamar, ini sudah pukul setengah 3 dini hari. Saya sekarat, saya pikir. Mati langkah. Skak mat. Rindu busuk. Sementara, tidur nyenyak dan tidur cukup jadi sebuah hal yang mahal belakangan. Jadilah, hidup ini sedang senang betul menyiksa saya.

Cukuplah saya tahu kamu itu ada. Cukuplah saya tahu kamu di sana saat saya butuh. Tapi, ini yang paling brengsek. Entah saya yang cupu tidak berani, atau kamu yang gila-gilaan cuek tak peduli.

…dan, hari saya jadi begitu bolong.

Tidak bisakah kita bicara, tentang apa saja yang bisa kita bicarakan semalam suntuk? Tidak bisakah kamu ada, barang sesekali saja ada ketika saya rasanya mau mati diracun jenuh? Saya butuh kamu.

…Kamu tiada, manits.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s