*lesap*

Bagi sebagian orang yang punya mimpi, semakin hari, hidup menjadi sebuah panggung pertunjukan yang mementaskan lakon tiada habis. Bagi orang-orang yang hanya hidup dari hari ke hari, bisa jadi hidup menjadi ladang persawahan yang di satu kali menghasilkan panen berlimpah, di kali yang lain kere karena panen rusak-hama. Di antara kedua ranah itu, saya tiba-tiba punya pikiran kecil; bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak bermimpi dan tidak terlalu hidup?

Jika Anda bertanya pada saya di kategori manakah saya berdiri, saya bisa jawab, di antara sisi pemimpi dan sisi pelaku hidup harian. Tidak pernah punya ambisi yang besar, saya hanya punya rencana yang kecil-kecil, remeh-temeh. Setengah-setengah. Tapi, kemudian, baru saja semalam saya berpikir, hidup kadang-kadang tidak bisa dikotak-kotakkan dalam kategori ‘kasar’ macam yang saya bilang di atas.

Ada kalanya, di satu waktu kita berada di satu kotak, di sisi lain di kotak berbeda, dan di waktu yang lainnya lagi, kita tidak berada di mana-mana.

Menjadi tiada.

Saya mencintai ketiadaan, karena berkat ia lah maka ada meng-ada. Mendadak, jika hidup rasanya terlalu bising dan pusing, ketiadaan bisa jadi sahabat paling setia. Ia muncul di sela rasa ngilu karena penat dan otak letih karena padat.

Para pemimpi pasti punya batas lelah. Orang-orang yang hanya hidup dari hari ke hari juga pasti pernah berpikir soal hidup yang berjalan sangat lambat. Sementara, mereka yang berada di ranah bukan-di-mana-mana pun tidak akan tahan akan yang namanya bosan. Sama seperti cinta yang kian hari kian usang, hidup pun begitu adanya. Ia lusuh, semakin berdebu.

Saya sebetulnya tidak tahu mau dibawa ke mana arah pembicaraan ini. Yang jelas, di antara pusing dan letih, saya lalu menjadi iri pada mereka yang mati muda. Bahwa maut sepertinya menjadi perpisahan yang indah antara manusia yang bosan dan hidup yang berdebu. Toh, meninggalkan lebih mudah daripada ditinggalkan.

Chairil Anwar lalu seolah berbisik di telinga saya, “Sekali berarti sudah itu mati, Tre.” Dan, saya lalu tersenyum simpul, memikirkan mati.

One Comment Add yours

  1. nevy says:

    “saya lalu menjadi iri pada mereka yang mati muda” ih-ih, kita sama nih ngirinya😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s