Will You Still Love Me If I’m Not Pretty?

Musibah itu datangnya tidak pernah bisa dicegah. Peribahasa lama bilang, “Sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya bakal jatuh juga.” Artinya, tidak ada manusia yang benar-benar selamat dari lara. Ini saya percaya betul. Saya bahkan terlalu percaya, bahwa tiap-tiap musibah atau kesedihan, menyempil hikmah dan kebahagiaan. Koreksi saya kalau Anda tidak setuju.

***

Minggu malam, selepas pulang dari melihat jenazah Pak Bayyin Nur, wapemred Majalah Audiopro, di Kelapa Gading, saya sampai di Ragunan, turun dari TransJakarta. Tidak sendirian, ada Keriting bersama saya. Celoteh-celoteh ringan jadi teman kami sembari menunggu angkot untuk bisa sampai ke rumah saya. Jaraknya hanya tinggal 10 menit dengan angkot.

Angkot datang. Ia kosong; hanya ada saya, Keriting, dan si supir. Hal tidak biasa pertama: saya dan Keriting biasa turun di shelter busway Mangga Besar, tapi malam itu tidak. Hal tidak biasa kedua: saya biasa duduk di sebelah Keriting, tapi malam itu tidak–saya di bangku 4, Keriting di bangku 6.

Apa yang terjadi selanjutnya terlalu cepat bagi saya untuk diantisipasi. Hal terakhir yang saya tahu, angkot ini naik trotoar dan menabrak lampu jalan hingga roboh. Setelahnya, tahu-tahu saya terduduk di dasar angkot dengan wajah tidak bisa digerakkan. Saya bersila lemas. Dengung di telinga saya datang sekali-sekali. Pandangan buram–baru saya tahu setelahnya kalau kacamata saya mencelat entah ke mana. Nyeri menjalar di wajah sebelah kiri. Caci-maki Keriting ke si supir mulai kedengaran hanya sayup-sayup. Saya tidak pingsan, tapi saya tahu ada yang tidak beres.

Beberapa menit kemudian, saya digotong keluar angkot oleh beberapa orang yang saya tidak kenal siapa. Tas ransel kesayangan saya putus sebelah. Denging di telinga masih datang berkelanjutan. Di leher, saya mulai merasakan ada sesuatu yang mengalir. Saya didudukkan di semacam teras berubin keramik putih. Warga setempat mengerumuni saya. Astaghfirullah, astaga, ya ampun, dan ungkapan kaget lainnya sampai di telinga saya. Kedengaran pelan. Saya masih sadar.

Saya tidak merasakan kehadiran Keriting sampai beberapa lama setelahnya. Ia kehabisan napas, tidak bisa mengendalikan emosi.

“Aku kenapa, Ting?” lirih.

Keriting tidak pernah bisa berbohong, tapi sebetulnya saya berharap dia berbohong saat itu, mengatakan kalau saya baik-baik saja, cuma memar, atau sebangsanya. Kenyataannya tidak. Dengan nada panik, ia bilang, “Tre sabar ya Tre, pipi kamu robek, sayang. Panjang banget sayang. Dalem…”

Saya semakin lemas, tapi saya masih tidak pingsan. Lalu, Keriting pergi lagi. Ia mulai menyebut-nyebut nama ibu saya, nenek saya, abang saya, tante saya, siapa tahu ada yang mengenali karena rumah saya memang sudah tidak jauh dari tempat kejadian. Dan, betul, akhirnya mereka sadar asal-usul saya.

Berikutnya, susul-menyusul, saya terbaring di sebuah mobil. Ibu dijemput di rumah dan sudah ada di pangkuan saya. Keriting masih kelihatan di pandangan saya. Keduanya berduka. Saya baru menangis gila-gilaan saat sudah ada di UGD RS Marinir Cilandak.

Tiga suster jaga membersihkan pipi saya dengan muka pias. Mereka berdengit tiap beberapa menit sekali. Seandainya saya punya sisa tenaga, saya bisa jadi menyumpal mulut mereka dengan kain kasa. Bukan menenangkan, malah membuat saya semakin lemas.

Saya hanya punya dua opsi. Dokter jaga mengatakan ini kepada Keriting dan ibu. Pilihannya: jahit biasa malam itu juga atau bedah plastik yang baru bisa dilakukan besok paginya karena menunggu si dokter bedah. Pilihan kedua diambil. Bukan saya yang mengambil keputusan. Itu ibu. Mungkin ibu tidak rela anak bungsunya ini penuh sisa jahitan macam Frankenstein.

Keriting sering tidak ada di samping saya malam itu. Ia pontang-panting mengurus biaya RS dan mengurus kamar. Ibu juga sama, repot membicarakan biaya dengan abang saya yang menyusul datang. Saya cuma ditinggal dengan tiga suster pias di ruang UGD. Tapi, sakitnya mereda, setelah diinfus dan pipi saya diberi alkohol lalu diperban seadanya.

***

Panjang luka saya ternyata 15 cm, dari samping mata kiri memanjang sampai dagu. Sementara, bedah plastik yang dilakukan esok harinya jam setengah 7 sampai 10 pagi, dibuat dua lapisan. Lapis pertama dengan benang jahit yang nantinya menyatu dengan daging. Lapis kedua akan dibuka beberapa hati setelah operasi. Total, 32 jahitan. Kedalaman luka hampir 2 cm.

Tangis saya sudah tidak ada. Yang tersisa cuma khawatir dan krisis percaya diri. Will he still love me in, even in my very worst?

…continue!

2 Comments Add yours

  1. nita says:

    Ka.. biaya operasi jahit nya semua berapa yaa??

    1. Atre says:

      Kalau ditotal-total, sekitar Rp10 jutaan, belum termasuk obat-obatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s