[Fiksi] Menjadi Manusia

…Serentak, semua yang terikat pada saya terlepas. Saya sudah lupa caranya bisa menenangkan orang lain yang butuh saya ada. Dunia malah jadi semakin egois. Sebab, yang ada cuma saya dan segala urusan kesayaan saya.

“Ga apa-apa, mungkin sekarang saatnya kamu nenangin diri kamu sendiri. Atau, waktunya orang lain yang nenangin kamu,” seorang kawan bilang begini.

Saya menanggapi hambar. Seluruh pikiran saling susul. Bagaimana jika peran saya di dunia ini memang sudah habis? Bagaimana jika tidak ada lagi yang merasa saya berarti? Bagaimana kalau fungsi saya habis sementara hidup saya belum?

Saya lalu ingat apa yang ibu bilang, “Hidup itu bukan masalah kesempurnaan, bukan selalu kelihatan kuat setiap saat. Hidup itu tentang bagaimana kita tetap bisa menjadi manusia setelah berbagai cobaan datang dan kesulitan mencoba menjatuhkan.

“Kadang-kadang kelihatan lemah itu baik, Ibu?” bisik saya. “Ya, itu baik, lalu bangkit setelahnya. Tandanya kita masih manusia.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s