RIP, Grandma

Pagi masih terlalu pagi ketika hari ini saya melangkahkan kaki ke rumah nenek, ibu dari ayah, di Jatipadang Putra, Pasar Minggu. Saya biasanya hanya bertemu Ma Am setahun sekali, setiap Lebaran. Kali ini, belum lagi hari raya, tapi saya harus ke sini. Ma Am berpulang di usia 75. Sakitnya sudah macam-macam; maag kronis ditambah lever dan darah tinggi.

2 Agustus 2011, jam 20.00, ia meninggal dalam perjalanan ke Rumah Sakit Cilandak. Sebetulnya saya pun sudah dengar kabar kematian ini semalam. Tapi, baru sempat datang pagi hari berikutnya. Malam tadi, tidak ada sedih. Saya menganggap aneh diri saya sendiri. Cucu macam apa yang tidak merasakan sedih ketika ditinggal nenek sendiri. Saya pun tidak bisa menjelaskan apa-apa.

Menyibak kain transparan putih dari bagian kepalanya, kelihatan wajah tirus Ma Am. Tulang pipinya menonjol, dan kulitnya putih pias. Dingin, dingin sekujur badannya. Dia terlihat damai.

Setelahnya, bagai slide show film, berbagai kilasan masa kecil saya bersama Ma Am bergantian muncul di bayang. Sedikit yang masih saya ingat. Yang paling jelas, dia tidak pernah jahat. Sayang betul dia dulu pada saya, memeluk dan memangku saya saat saya masih usia SD, bahkan sampai saat orangtua saya berpisah.

Ketika semua orang menyerang ibu, Ma Am satu-satunya orang yang memilih untuk melindungi ibu. Dia lebih tahu mengenai perceraian karena ia toh mengalaminya. Bahwa lelaki yang berselingkuh bukan karena perempuan yang tidak becus mengurus si lelaki. Bahwa bukan perempuan yang salah jika menjadi pihak pertama yang meminta cerai dari lelaki karena tidak berbahagia. Bahwa bukan egois namanya jika perempuan meminta cerai dari lelaki, dan bukan pula artinya tidak memikirkan masa depan pada anak-anak–karena sebetulnya kadang-kadang perceraian adalah jalan keluar terbaik untuk si perempuan DAN anak-anak.

Kilasan lain muncul bertubi-tubi berikutnya. Saat pertama kali saya muncul kembali di rumah Ma Am, setelah bertahun-tahun marah pada kondisi. Pelukan hangatnya, senyumnya, kegesitannya menyajikan segala hidangan yang dia punya.

Setiap kali saya dan dua kakak datang ke rumahnya pas hari raya, ia selalu memandangi wajah kami satu-satu ketika baru datang. Mempertanyakan pada batinnya sebuah pertanyaan besar macam, “Apa yang dipikirkan ayah sampai-sampai berpikir untuk tidak memikirkan kami”.

Ketidakberdayaan atas perceraian orangtua saya seperti menyiksa Ma Am sampai akhir hidupnya. Dan, saya terbayang matanya yang selalu berkaca setiap memandang saya. Kemudian, terbayang keteduhan di setiap usapannya di punggung saya. Juga, ciuman di pipi saya yang tidak pernah alpa. Setelahnya, tahu-tahu ada aliran air yang panas di kedua pipi saya.

Saya sudah pernah membayangkan, jika lebaran nanti saya bertemu Ma Am, ia pasti akan minta diceritakan serinci-rincinya soal luka di pipi saya. Saya juga sudah membayangkan reaksinya. Dia akan mengelus luka saya seolah itu akan langsung sembuh karena usapannya. Lalu, ia akan menenggelamkan saya dalam pelukannya. Tapi, saya tidak bisa cerita. Nenek saya yang itu sudah tidak ada.

Saya keliru. Ternyata, saya kehilangan. Selamat istirahat dalam damai, Ma Am. Sampai jumpa lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s