Mak Jogi: Hikayat Jenaka Kebanyakan Kritik

Indonesia Kita biasa menyelipkan bumbu dagelan dibalut kritik dalam setiap pementasan mereka. Sampai Butet Kertaradjasa yang rutin kebagian membuka acara, menggelontorkan pertanyaan masyarakat, “Kali ini lucu nggak?” Sayang, untuk kali ini, kritik sosial dan politik di dalamnya ibarat kita makan manisan setoples penuh; maghtegh.

Tagline pertunjukan ini adalah Hikayat Jenaka untuk Indonesia. Temanya sendiri adalah kebudayaan Melayu. Jika dijabarkan, pertunjukan ini berupaya menggambarkan berbagai wajah kebudayaan dan tradisi Melayu sebagai salah satu identitas bangsa Indonesia.

Pertanyaannya, apalah yang Anda tahu soal kebudayaan Melayu? Bahasa Melayu yang merupakan akar bahasa Indonesia? Betul. Tari zapin juga betul. Nasi lemak atau lemang duren, iya juga. Itu saja? Jawabannya, tentu saja tidak. Dan, awalnya saya pikir, Anda bisa mendapatkan banyak pengetahuan soal Melayu lebih dari yang Anda kenal selama ini lewat pementasan di GBB, TIM, 26 Juli malam. Tidak terlalu keliru, tapi tidak juga sepenuhnya baru.

Indonesia Kita melalui pementasan hikayat dikombinasikan tetarian mementaskan Akar Melayu Mak Jogi (Hikayat Jenaka untuk Indonesia). Hikayat ini menceritakan seorang perempuan penari legendaris kerajaan bernama Mak Jogi (Tom Ibnur) yang pergi ke berbagai tempat di Indonesia untuk mencari air 7 muara atas titah Baginda Raja (Pepy Chandra) di negeri Sepancung Daun. Ide ini muncul karena belakangan raja kerap bermimpi aneh, yaitu kerajaannya kejatuhan cahaya. Dianggap sebagai jalan keluar dan meredakan keresahan Raja, perjalanan ke Padang, Dieng, dan Kalimantan dilakoni Mak Jogi, ditemani asistennya, Bujang (Udin Semekot), dan utusan dari kerajaan; Hang Dagang (Joned), Hang Panglima (Ramon Damora).

Di perjalanan, rombongan ini bertemu banyak orang; Nyi Towok (Didik Nini Thowok), Pertapa (Wisben), dan putri cantik yang akhirnya ikut serta kembali ke kerajaan. Tapi, masalah muncul ketika Mak Jogi hanya membawa 3 dari 7 sumber air yang diminta. Mak Jogi diputuskan dihukum mati, bersama Bujang yang meminta diri untuk turut dihukum bersama Mak Jogi. Beruntung, Awang Pengasuh (Hoesnizar Hood), pengasuh Raja sejak kecil, menjelaskan secara bijak soal air 7 muara itu. Bahwa, 4 air suci tersebut tidak harus berupa air, tapi ada dalam kerajaan, Putera Mahkota, puteri yang dibawa Mak Jogi dari negeri seberang, serta seorang anak yang nantinya akan lahir jika putera mahkota dan puteri bersatu. Dengan demikian, mimpi Raja tidak perlu lagi dikhawatirkan karena Raja sudah akan memiliki penerus kerajaan.

Keheranan awal yang muncul adalah soal pemilihan tokoh utama Mak Jogi yang adalah lelaki. Lebih dari sekadar menghasilkan kejenakaan, ada alasan di balik ini. Tokoh Mak Jogi diambil dari kata Mak Joget, tokoh perempuan dalam cerita-cerita Melayu yang biasanya ditampilkan melalui musik dan tari. Nah, biasanya tokoh ini memang diperankan oleh laki-laki. Tugasnya, menyambung cerita dari adegan ke adegan lain dengan cara jenaka. Sayang, kejenakaan Mak Joget di Mak Jogi tertutup oleh karakter-karakter lain yang jauh lebih mengocok perut, seperti Tukang Cerita dan asistennya, Hang Dagang, Awang Pengasuh, atau Pertapa. Ini menyebabkan, peran Mak Jogi yang seharusnya adalah peran utama, menjadi tidak dominan/menonjol. Bukan pertanda baik.

Effendi Gazali menyita perhatian saya paling banyak, seperti Hanung Bramantyo dalam Laskar Dagelan atau Mahfudz MD dalam Kartolo Mbalelo. Ia memerankan karakter Penasehat Raja, selalu satu frame dengan Hang Dagang, Hang Panglima, Penyair Kerajaan (Hasan Asphahani), Awang Pengasuh, dan Baginda Raja. Melihat track record-nya sebagai seorang pakar komunikasi politik yang kerap mengkritik pemerintah (salah satunya melalui acara yang digagasnya, Republik Mimpi, yang pernah tayang di MetroTV), Effendi Gazali melalui mulut Penasehat Raja senang menyelipkan isu-isu politik atau sosial Indonesia ke atas panggung, mulai dari presiden kita yang lebih suka mengeluarkan album musik daripada menyelesaikan masalah negara, sampai kasus Nazaruddin dan Sari Roti.

Satu jam pertama, Penasehat Raja masih menyenangkan di mata saya. Sindiran-sindiran untuk pemerintah atau celetukan soal tokoh tertentu masih manis kedengarannya. Tapi, rupa-rupanya, Penasehat Raja tidak terlalu bisa kontrol diri. Kritik-kritik begitu gencar dilancarkan. Hilang sudah manis, yang ada malah mual karena kemanisan.

Beruntung, ada Agus PM Toh dan Gareng Rakasiwi sebagai Tukang Cerita dan Asisten Tukang Cerita yang menyelamatkan suasana. Agus PM Toh sudah kita kenal sebagai pendongeng asal Aceh yang kerap menggunakan peralatan sederhana sebagai properti dongeng. Namanya mulai mencuat sejak tsunami Aceh pada 2004. Sementara, Gareng Rakasiwi adalah salah satu komedian lulusan IKIP Jogja yang tergabung dalam Trio GAM, bersama Wisben (Pertapa) dan Joned (Hang Dagang). Perpaduan Melayu-Jawa ini solid. Meski kerap bantah-bantahan, dua orang yang bertindak sebagai narator ini mampu menyambungkan cerita dengan jelas dan tetap segar.

Mak Jogi tidak cuma soal hikayat dan lawakan. Dalam pertunjukan 2,5 jam ini, terdapat pula nyanyian indah dari Radja Hafizah yang melagukan di antaranya “Selendang Delima” dan “Tanjung Katong”, gesekan biola yang syahdu dari Hendri Lamiri dalam “Hang Tuah”, musik dengan penata musik Yasser Arafat di sepanjang pertunjukan, dan tidak ketinggalan, tetarian. Untuk musik, selain memasukkan unsur Melayu yang kental, Yasser juga menyelipkan musik dari berbagai daerah, sesuai dengan daerah-daerah yang dikunjungi Mak Jogi dalam cerita. Lalu, untuk tari, ada Tom Ibnur, Hartati, dan Didik Nini Thowok yang masing-masing punya kekhasan koreografi, melihat Tom dari Melayu, Hartati besar di Sumatera Barat, sedangkan Didik dari Jogja. Tarian Melayu klasik, semacam Tari Jogi (tari pergaulan), Rentak Zapin, Tari Sekapur Sirih, sampai tari yang sudah dikembangkan seperti Tari Tanjung Katung, dipresentasikan dengan begitu kaya.

Jadi, sebetulnya penonton berhak untuk santai sejenak dengan rentak-rentak tari dan musik Melayu yang menggoyang, lalu buang dulu jauh-jauh urusan negara. Kami berhak lho, Effendi Gazali.

Photo by Hapis Sulaiman

*Artikel ini juga dimuat di http://www.areamagz.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s