Senayan Bergema Karena Bruno!

Kawasan Senayan padat pada 5 April lalu. Seolah semua orang menuju ke satu titik; Tennis Indoor. Bruno Mars dijadwalkan konser malam itu.

Setengah jam dari waktu dimulainya konser, Tennis Indoor sudah memadat; tribun atau festival. Kebanyakan yang datang, sudah bisa ditebak, adalah para muda-mudi. Dengan wajah penuh gairah (berlebih), mereka menunggu stage beraktivitas.

Setengah jam sudah berlalu, mulai kelihatan excitement berkurang. Mungkin ganti dengan bosan. Di beberapa titik di festival, para penonton duduk-duduk santai–walaupun lebih banyak yang memutuskan berdiri. Sementara di tribun, pergerakan sepi.

Lewat beberapa menit dari jadwal, stage masih gelap. Sesekali sempat ada manusia muncul. Sorak-sorai sudah bergema, tapi meredam lagi karena ternyata itu ‘hanya’ kru.

Konser akhirnya betul-betul dimulai. Gebukan drum dan petikan gitar sahut-sahutan. Tapi, saya tidak melihat pria yang identik dengan fedora-nya itu di atas panggung. Astri Darmayanti yang berdiri di sebelah saya mendekat ke telinga kiri saya, berbisik, “Dia main drum.”

Opening yang tidak biasa. Lalu, setelahnya saya baru tahu kalau lelaki kelahiran 8 Oktober 1985 ini memang berasal dari keluarga yang dekat dengan seni. Ibunya seorang penari hula dan ayahnya pemain perkusi. Dan, sejak kecil, ia sudah diperkenalkan pada berbagai jenis musik, seperti reggae, rock, hip hop, dan r ‘n b.

Tidak lama setelah jam session sekilas itu, Bruno menampakkan diri, meninggalkan set drum di belakang. Dengan wajah sumringah, pria yang baru berusia 25 ini menyapa penonton. Jeritan bergaung lagi. Lantai ruangan bergetar. Telinga saya pengang.

Setelah itu, sampai sekitar satu jam ke depan, jeritan dari area penonton tidak pernah reda. Malah lebih menggila. Berturut-turut, Bruno membawakan lagu-lagu dari album debutnya, Doo-wops & Hooligans.

Baru sekali ini saya mendengarkan Bruno Mars dengan sepenuh niat. Dan, entah karena aura live performance yang biasa memunculkan keajaiban atau memang begitulah ia adanya, musikalitas Bruno Mars terasa kuat. Apalagi setelah tahu, ia selalu punya andil di setiap lagu sebagai pencipta.

Seperti “The Other Side”, “Billionaire”, “The Lazy Song”, “Count On Me”, dan “Grenade”, dinyanyikan. Khusus “Our First Time”, Bruno membawakannya dengan sangat menggoda. Dan, di sini saya baru sadar, betapa perempuan Jakarta (atau Indonesia) begitu mudah dirayu. “Nothing On You”, “Marry You”, dan “Just the Way You Are”–sudah bisa ditebak–mendapat jeritan paling banyak dan sing a long paling menggema. Sebagai encore, setelah “we want more” bermenit-menit, dipilihlah “Runaway Baby”. Bruno Mars pecah, kata gadis muda bernama Ayas. Kata saya, bolehlah.

Photo by Sofyan Effendi

*Tulisan ini juga dimuat di http://www.areamagz.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s