Bahwa Kebenaran Sesungguhnya Sangat Relatif

Propagare. Artinya, memekarkan atau mengembangkan dalam bahasa Latin. Kata ini merupakan asal dari kata yang kita sekarang dengan “propaganda”.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, propaganda bermakna “penerangan (paham, pendapat, dsb) yang benar atau salah yang dikembangkan dengan tujuan meyakinkan orang agar menganut suatu aliran, sikap, atau arah tindakan tertentu.

Dalam Propaganda and Persuasion, Garth S. Jowett dan Victoria O’Donnel berpendapat, propaganda adalah usaha dengan sengaja dan sistematis, untuk membentuk persepsi, memanipulasi pikiran, dan mengarahkan kelakuan untuk mendapatkan reaksi yang diinginkan penyebar propaganda.

Propaganda tidak mengenal salah atau benar. Yang ada hanya mempengaruhi-terpengaruhi. Ia juga tidak objektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak yang mendengar atau melihat.

Media–televisi, radio, surat kabar, majalah, film, video klip musik, internet, dan lain-lain–saat ini dianggap sebagai medium propaganda paling besar. Media merupakan wadah untuk menyebarkan informasi, tidak hanya berita yang terverifikasi dan netral, tapi juga yang memiliki maksud tertentu. Propaganda media.

Begini. Saya ingin mengganggu pikiran Anda sedikit dengan pertanyaan atau fakta sederhana yang jawabannya rumit, atau bahkan tidak ada. Semacam ini.

Tragedi 9/11 WTC. Mana yang Anda percaya? Versi resmi dari pemerintah AS bahwa ini adalah peristiwa pembajakan 19 anggota Al-Qaeda pimpinan Osama bin Laden yang mengambil alih 4 pesawat komersial dari American Airlines dan United Airlines, lalu menabrakkannya ke Menara Selatan dan Utara World Trade Center, juga Pentagon?

Betulkah WTC rubuh karena hantaman pesawat-pesawat tersebut? Profesor Steven E. Jones dari Brigham Young University, Utah, yang melakukan penelitian dari sudut teori fisika mengatakan bahwa kehancuran dahsyat seperti yang dialami Twin Tower hanya mungkin terjadi karena bom-bom yang sudah dipasang pada bangunan-bangunan tersebut. Statement ini sungguh berkebalikan dari hasil penelitian FEMA, NIST dan 9-11 Commision bahwa penyebab utama keruntuhan adalah api akibat terjangan pesawat dengan bahan bakar penuh. Semua penelitian ilmiah Jones tentang 9/11 terdapat dalam “Why Indeed Did the WTC Buildings Collapse?” yang dipublikasikan harian Deseret Morning News yang terbit di Salt Lake City (http://www.deseretnews.com) pada awal November 2010.

Lady Gaga dan freemason. Perempuan penyanyi bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta mulai dikenal setelah album debutnya rilis pada 2008. Siapa pun tahu, penampilan Gaga eksentrik, dengan gaya berpakaian out of the box. Sampai kini, sebanyak 5 Grammy Awards, 2 Guinness World Records, dan beberapa penghargaan lain sudah ia raih.

Semakin tinggi pohon, semakin kencang anginnya. Begitu pula dengan Gaga. Entah sejak kapan, seiring popularitasnya yang naik tajam, Gaga kerap dikait-kaitkan dengan freemason.

Little Monsters–panggilan untuk fans Lady Gaga–mengecam pengecapan Illuminati di ‘tubuh’ Gaga. “Lady Gaga is not a Freemason, she is just different and unique and talented,” ungkap anonim dengan user ID bernomor 914046 di sini.

Freemason sendiri adalah simbolik dari pengertian pekerja keras yang mempunyai kebebasan berpikir. Kata mason berasal dari bahasa Prancis “maçon“. Artinya, “tukang batu”. Bukan sekadar tukang batu, mereka lebih tepat disebut ahli bangunan. Karena keahliannya, konon, mereka kerap mendapat tugas membangun katedral-katedral di seluruh Eropa.

Hexagram–simbol penyempurnaan dari The Sacred Sextum, lingga-yoni, atau cawan dan piramida terbalik–; all seeing eye (familiar disebut mata satu Lucifer atau Mata Dewa Ra); atau piramida yang terdiri dari segitiga sama sisi yang dibangun dari 3 besaran sudut yang sama: 60, 60, dan 60 (mewakili simbol lain yang lebih tegas: 666); adalah beberapa simbol khas freemasonry.

Kembali ke Lady Gaga, simbol-simbol yang disebut pada paragraf di atas sangat sering muncul di setiap penampilan Gaga, utamanya video klip. Khusus untuk kasus Gaga, YouTube bisa jadi merupakan media propaganda paling berpengaruh untuk melimbungkan pikiran. “Alejandro” dan “Judas” kerap disebut-sebut sebagai “statement” Gaga. Bahwa ia meninggalkan Tuhan dan berpaling ke freemasonry. Bahwa jika mendengarkan secara backward, lagu-lagu Gaga menyimpan pesan tersembunyi. Semua analisisnya ada di YouTube.

Madonna. Rihanna. Katy Perry. Beberapa nama itu juga muncul erat kaitannya dengan freemasonry. Semua juga ada di YouTube. Anda tinggal search, play, lalu terpengaruh atau tidak.

Tidak melulu kaitannya dengan worldwide atau national issues, propaganda media mempengaruhi kita setiap hari, pelan-pelan, tanpa sadar, dan hasil akhirnya punya kemampuan mengubah seseorang; gaya hidup, bahkan kepribadian. Sebab, pada dasarnya, propaganda media menyerang otak mamalia melalui media yang sangat menyenangkan dan memanjakan.

Rizki Ridyasmara. Namanya beberapa bulan belakangan muncul ke permukaan. Ia adalah mantan wartawan majalah Sabili. Apa yang membuat namanya kerap dibicarakan adalah buku-bukunya, salah satunya The Jacatra Secret. Sempat disebut sebagai “buku yang tidak dijual di toko buku” karena ketiadaan stok di berbagai toko buku besar, buku ini sempat sold out di cetakan pertama dan baru mulai mudah ditemukan setelah cetakan keduanya rilis; September 2011.

Ingat karya Dan Brown, The Da Vinci Code, bertema freemasonry? The Jacatra Secret serupa itu, tapi bukan berlatar tempat Paris, melainkan Jakarta. Bisakah Anda percaya bahwa Jakarta dibangun atas cetak biru freemasonry Hindia Belanda? Konon, freemasonry di Indonesia dibubarkan pada 1962 oleh Soekarno (presiden saat itu), tapi dilegalkan kembali oleh Gus Dur pada 2000 melalui Keppres No. 69/2000.

Bahwa ternyata di Taman Museum Prasastri Tanah Abang, bertebaran simbol-simbol freemasonry, seperti The Skull & Bone di makam milik Johanna Freder.

Bahwa pelukis Raden Saleh, Raden Adipati Tirto Koesoemo (Ketua Boedhi Oetomo), Raden said Soekanto Tjokrodiatmodjo (Kapolri pertama) merupakan sejumlah tokoh Indonesia yang termasuk dalam anggota kelompok persaudaraan tersebut.

Bahwa Patung Hermes yang terdapat di halaman Museum Sejarah Jakarta juga menyimpan pesan-pesan tersembunyi. Bentuk ular pada tongkat Caduceus (tongkat dengan sepasang sayap yang gagangnya dililit dua ekor ular yang dipegang di tangan kiri Hermes) merupakan bentuk asli dari kelompok rahasia Persaudaraan Ular. Dan, banyak lagi pembahasan mengejutkan mengenai jejak-jejak freemasonry di Jakarta.

Bahwa Adhucstat Logegebouw, atau yang kini digunakan sebagai Gedung Bappenass, di Menteng merupakan gedung bekas Loji Mason Bebas Hindia Belanda. Loji itu berasal dari kata lodge yang artinya sebutan untuk tempat pertemuan kelompok persaudaraan freemason. Konon, gedung ini memiliki ruang rahasia bawah tanah, yang hingga kini masih sebatas “katanya”.

Oleh karena berlatar tempat di Ibukota RI, Jakarta, The Jacatra Secret dengan cepat menjadi sebuah buku yang dicari-cari. Kepentingan tiap-tiap orang berbeda. Ada yang tidak lebih dari sekadar penasaran terhadap isi buku, hingga ada yang terinspirasi untuk menelusuri berbagai kode dan simbol yang terdapat dalam buku, lalu membaginya di YouTube.

Propaganda media tidak cuma memberikan jalan pikiran seseorang ke arah yang diinginkan pihak-pihak tertentu, tapi juga membiaskan kebenaran dan mengaburkan kesalahan. Buku The Jacatra Secret bisa jadi contoh tepat untuk kasus propaganda media paling baru. Pembaca–saya yakin–minimal akan berpikir keterkaitan Jakarta dan freemasonry. Sementara, mereka yang berkeyakinan utuh, akan sama sekali percaya bahwa Jakarta adalah salah satu kota yang kental dengan simbol freemason, selain Washington DC, AS, dan Provence, Prancis.

Bagaimana pikiran Anda pada akhirnya menguasai Anda? Manakah semua hal yang disebut fakta dan versi-lain-dari-fakta tersebut perlu Anda percaya? Terserah mana yang Anda yakini; apakah semua sanggahan soal isu besar, atau pernahkah justru terpikir, semua sanggahan itu dibuat untuk meracuni kebenaran yang sebenar-benarnya? Hanya agar supaya masyarakat dunia tersesat? Entah. Yang jelas, berdasarkan teori relativisme, kebenaran itu relatif. Benar bagi Anda belum tentu benar bagi kami. Beyond that, no one has the right to choose to do what is wrong. Just like Abraham Lincoln said.

 

Referensi:
http://eramuslim.com/
http://www.911sharethetruth.com/
Wikipedia
http://rykers.blogspot.com/2009/01/lambang-simbol-freemasonry.html
The Jacatra Secret
http:youtube.com/
http://mureo.com/
http://www.globalissues.org/article/157/war-propaganda-and-the-media
http://bawelohbawel.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s