[ That is Life ]

Ibu, saya capek. Apa pantas? Saya bahkan sudah tidak tahu lagi apa yang pantas atau tidak. Capek itu tiba-tiba keluar dari sela jari; minta ditampung, tapi ternyata tidak ada tangan siapa pun yang bersedia menampung. Hingga akhirnya ia jatuh begitu saja ke tanah. Berserakan. Kesepian.

Ibu, badan saya nyeri. Dunia di sekitar saya rasanya berputar-putar tidak karuan. Bau-bau amis, bangkai, dan hangus matahari ganti-ganti tercium. Tetap saja, semua itu tidak ada yang membikin senang. Goncangan tidak juga mau berhenti. Mungkin sampai saya mati kehabisan napas. Atau, mati karena nyawa saya sudah dibunuh-bunuhi semua.

Ibu, bukankah Ibu pernah bilang, bahwa setiap cerita itu punya bentuk “tamat” sendiri-sendiri. Sama seperti ketika Ibu bilang, setiap akhir adalah awal. Dan ketika Ibu bilang, di setiap akhir terowongan panjang, selalu ada cahaya. Saya takut, Bu. Takut tidak bisa menghadapi bahwa hidup ini harus dijalani sendiri. Bahwa tidak semestinya saya punya rasa capek ini. Bahwa penyesalan–seperti tabiat jeleknya yang sudah-sudah–datang terlalu belakangan. Kebingungan malah jadi teman paling akrab saat ini.

Ibu, saya cuma mau bahagia. Itu sudah. Tapi kenapa untuk menjadi bahagia saja begitu susah?

“…karena ini hidup,” Ibu berbisik tenang di telinga saya. Setelahnya, saya langsung bisa rebah, meski masih dalam sisa-sisa sembab.

Sendiri.
Baik-baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s