Siapa Dia yang Disebut Pahlawan?

Ralph Waldo Emerson said, “A hero is no braver than an ordinary man, but he is braver five minutes longer.” Singkat kata, ia bilang, antara pahlawan dan orang biasa, hanya dibedakan oleh nyali. Tapi, siapa itu Ralph Waldo Emerson, sampai-sampai quote-nya ini jadi terkenal?

Ralph Waldo Emerson adalah seorang dosen, pembikin esai, dan sajak yang memimpin gerakan transcendetalism di pertengahan abad 19.

Transcendetalism itu sendiri adalah sebuah kelompok gagasan dalam sastra dan filsafat yang berkembang di era 1830-an dan 1840-an, sebagai protes terhadap keadaan umum kebudayaan dan masyarakat, serta khususnya kondisi intelektualisme di Universitas Harvard dan doktrin gereja Unitarian di Harvard Divinity School.

Emerson bersama Henry David Thoreau, Margaret Fuller, dan Amos Bronson Alcott menjadi tokoh utama gerakan ini.

Apa lantas ia menjadi pahlawan? Mungkin, bagi kalangan tertentu, para pembaca esai, atau kaum akademisi untuk kepanjangan sejarah dari gerakan transcendetalism yang ada di masa kini, ia bisa jadi pahlawan. Apalagi, jejak-jejak kreatifnya masih bisa dilihat melalui berbagai esainya yang dimasukan dalam koleksi kumpulan esainya; Essays: First Series dan Essays: Second Series. Kemudian, pemikirannya menjadi dasar filosofi Immanuel Kant, dan kemudian filsuf-filsuf idealis Jerman serta penganut paham Kant.

Chairil Anwar lalu datang, melalui sajaknya “Maju”, mensejarahkan bait “sekali berarti sudah itu mati”. Bait ini pada akhirnya jadi fenomenal karena sang pemilik bait mati di usia muda. Ia lahir pada 28 April 1949 di Medan, dan meninggal 26 tahun kemudian karena sakit paru-paru. Tapi sampai kini, selang 36 tahun setelah kematiannya, Chairil masih diingat. Berkat semangatnya yang tercermin dalam sajak-sajaknya, termasuk juga bait fenomenal yang disebut sebelumnya.

Apa lantas Chairil Anwar bisa disebut pahlawan? Sekali lagi tergantung, pada siapa kita bertanya. Jika pada pencinta sastra, sosok penyair ini mungkin berpengaruh besar dalam hidup mereka. Entah apa pengaruh itu lalu bisa disebut kepahlawanan? Tapi, Chairil Anwar, dan juga Gie–yang sama-sama meninggal di usia muda–menjadi pembangkit spirit generasi muda. Kasusnya bisa apa saja. Mulai dari perjuangan bebas bersuara, berpendapat, hingga perjuangan hak asasi manusia.

Masih di dunia kepenyairan, jauh setelah era Chairil Anwar, lahirlah Widji Thukul. Penyair bernama asli Widji Widodo ini lahir di Solo. Selain menulis sajak, ia juga adalah seorang tukang pelitur di perusahaan mebel dan aktivis.

Pendidikannya hanya sampai kelas 2 Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Solo Jurusan Tari. Konon, ia tidak punya uang untuk melanjutkan sekolah. Ayahnya bekerja sebagai penggenjot becak. Meski begitu, ia sudah mulai menulis sajak sejak SD, baru kemudian teater di masa SMP. Tapi, ia kemudian dinyatakan hilang pada 2000. Setelah pada zaman Orde Baru ia diculik dan dilenyapkan oleh kaki tangan rezim tersebut. Sebabnya ‘hanya’ karena sajak-sajak dan aktivitasnya di dunia politik. Ia terjun dalam Jaringan Kesenian Rakyat (Jaker), underbow dari Partai Rakyat Demokratik (PRD)–sebuah partai politik yang lahir, dibesarkan, dan berbasis anak-anak muda dipimpin oleh Budiman Sujatmiko.

Suara Wiji Thukul memang lantang. Ia mungkin satu-satunya penyair di era orde baru yang membikin sajak-sajak yang lugas bersuara melawan rezim Orde Baru. “Hanya ada satu kata: lawan” menjadi bait paling klimaks (dalam “Peringatan”) dari sekian banyak sajaknya. Atau lihat juga sajak “Buron” dan [Tanpa Judul]. Semua kritik dan perlawanan Wiji Thukul dengan sasaran tembak pemerintah di era Orde Baru tertembak tajam. Dan, di tangan penyair, fakta sosial bisa jadi kekuatan yang luar biasa. Bahkan berhasil membuat pihak berkuasa resah. Hingga akhirnya Wiji butuh dilenyapkan, dan betul saja, sampai kini, kabarnya tidak pernah kedengaran lagi.

Apa lantas Wiji Thukul menjadi pahlawan? Bagi siapa? Bagi rakyat kecil yang terwakili oleh sajak-sajak dan pergerakannya, tentu saja ia pahlawan. Ia lalu menjadi sosok yang menyulut nyali, bahwa lebih baik melawan dan merdeka daripada diam dan terkekang.

Kita lalu mengenal nama-nama seperti Teuku Umar, Pangeran Diponegoro, Jenderal Sudirman, Christina Martatiahahu, I Gusti Ngurah Rai, dan lain-lain. Dalam buku sejarah, kita tahu mereka dinobatkan sebagai pahlawan Indonesia. Mereka melawan kolonialisme zaman itu, ketika peperangan artinya masih senjata lawan senjata. Mereka pahlawan, tentu saja, bagi bangsa Indonesia. Tapi, apa lalu mereka juga pahlawan bagi bangsa lain di luar itu? Mungkin, jawaban orang Eropa tidak.

Aung San Suu Kyi asal Myanmar atau Bunda Teresa (Albania). Keduanya sama-sama perempuan dan sama-sama memperjuangkan perdamaian negaranya masing-masing pada khususnya, dan dunia pada umumnya. Nama mereka mendunia, tapi apa lantas masyarakat dunia menyebut mereka pahlawan? Bagi banyak orang mungkin iya, tapi belum tentu itu artinya semua orang.

Pertanyaan besarnya adalah, apakah pahlawan hanya mereka yang namanya tercatat dalam buku sejarah? Atau, mereka yang sudah berperang mengangkat senjata melawan penjajah (dalam artian harfiah)? Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga punya definisi jelas mengenai entri pahlawan. Artinya, orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yang gagah berani. Itu artinya lagi, definisi ini sebelas-dua belas dengan pendapat Ralph Waldo Emerson.

Kehidupan nyata ini lantas menginspirasi dunia fiksi untuk memotret atau mengimajinasikan tokoh superhero. Anda bisa saja menjadikan Superman, Wonder Woman, Godam, hingga Panji Tengkorak sebagai pahlawan, meski sebatas di dunia fiksi. Sah-sah saja.

Tapi, coba kemudian lihat apa yang dikatakan Sahar A (Social Media Marketing). “There is a hero in each one of us if we are ever faced with any difficult situations heroes are not gone anywhere over time. It has been shown that with extreme situation heroes are born even the ones we never thought could be anything. Look what happened in the firs time in LA this summer, then what happened inthe storms then what happened in Haiti and now Chile, people leave their comfort and justgo for days just to help get peole out of the rubbles. In my book, they are heroes, the ones that saved the dog from the LA river are heroes, the communities t hat opened their doors and hearts for the people displaced because of the fires and storms and gave shelter even to their animals (I live in a horse community) are heroes in my book. My hero in today’s world is every and each one that tends a helping hand to a stranger no matter what their skin color or race or background is.”

Jadi, siapakah dia yang bisa jadi pahlawan? Bisa jadi Anda, tetangga Anda, atau anonymous. Selamat Hari Pahlawan!

Referensi:
http://asepsambodja.blogspot.com/2008/08/wiji-thukul-sekali-berarti-sudah-itu.html
womeninworldhistory.com
KBBI Edisi Ketiga
http://www.ask.com
http://edition.cnn.com/SPECIALS/cnn.heroes/index.html

*Artikel ini juga dimuat di http://areamagz.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s