Ahmad Tohari dan Sang Penari

Menemui pengarang asal Tinggarjaya, Banyumas, ini pada 2 November 2011 di Warung Soto Nikmat, Taman Ismail Marzuki, saya sempat mengulik isi kepalanya soal Sang Penari.

Sang Penari rencananya akan ditampilkan serentak 10 November 2011. Disutradarai Ifa Isfansyah, film ini diadaptasi dari trilogi novel karya Tohari berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Nama-nama pelakon yang terlibat di dalamnya, antara lain Oka Antara, Prisia Nasution, Lukman Sardi, dan Slamet Rahardjo. Untuk musik, ditangani Titi dan Aksan Sjuman.

Sang Penari, seperti yang terjabar dalam Ronggeng Dukuh Paruk, mengisahkan kehidupan Dukuh Paruk yang miskin. Gairah warga kampung mulai kembali menggeliat ketika–setelah puluhan tahun kosong–terlahir seorang penari ronggeng yang kenes dan muda. Namanya Srintil. Dan, di sinilah alur cerita Sang Penari bergulir; mulai dari Srintil akhirnya resmi menjadi ronggeng, Rasus yang mencintai Srintil tapi memilih pergi jadi tentara karena Srintil menjadi milik banyak orang, hingga kelompok ronggeng Dukuh Paruk terseret di dalam ‘lubang’ komunis.

Lepas dari nama-nama yang sudah disebut sebelumnya, ada nama lain yang juga penting merayakan lahirnya film ini. Yaitu, Ahmad Tohari. Ia adalah sang pengarang Ronggeng Dukuh Paruk. Beruntungnya saya, sempat berbincang-bincang dengan pengarang kelahiran 13 Juni 1948.

Sang Penari sebentar lagi resmi tayang di bioskop-bioskop. Bagaimana Anda melihat film ini?
Sebelumnya, sudah ada pertemuan intensif antara saya, produser, dan sutradara. Dalam pertemuan itu, sudah saya beri mereka sikap dasar, bahwa semua orang punya hak menafsirkan teks saya, termasuk sutradara. Jadi, sutradara membaca novel saya, lalu punya tafsiran sendiri. Itulah yang difilmkan.

Melihat karya ini, saya tidak punya tuntutan apa pun, tidak punya ekspektasi apa-apa. Kalau punya suatu ekspektasi, berarti saya adalah pengarang kecil. Lha iyalah, memaksa orang atas tafsiran saya. Dalam bayangan saya, Srintil agak kecoklat-coklatan, tapi kalau dalam bayangan Anda Srintil putih, maka saya paksa kamu? Tidak bisa. Asal, kambing jangan ditafsirkan sebagai kerbau. Itu sudah kelewat batas. Akhirnya, saya melihat film ini ya melihat karya orang lain. Tentu saja, saya mempunyai catatan-catatan. Tapi pada umumnya, inti film ini sudah mewakili novelnya; dalam hal melukiskan penderitaan Dukuh Paruk. Malah di dalam film justru lebih dramatis.

Tapi, dalam proses pembuatan film ini, apa para pelaku yang terlibat dalam Sang Penari urun rembuk atau minta saran kepada Anda?
Saran, iya. Tapi, ada beberapa saran yang memang tidak bisa dilaksanakan. Misalnya, harus musim kemarau di tanah yang kering. Tapi, ternyata mereka mendapat tanah kering, tanah yang sangat mewakili, tapi kemarau tidak datang-datang. Jadi, suasananya tetap hijau.

Oh, mungkin ingin mendapat efek tanah-tanah meretak seperti yang tercitra dalam novel?
Iya, mereka padahal sudah menunggu 6 bulan. Ternyata, tidak kering-kering juga. Kemiskinan orang-orangnya juga hanya terwakili oleh pakaian, tapi orang-orangnya subur. Mas Slamet Rahardjo gemuk. Orang kampung miskin tapi gemuk-gemuk. Saya maklum, itu agak sulit dicapai.

Minta saran melalui apa?
Mereka datang, karena syutingnya pun banyak di daerah rumah saya (Tinggarjaya, Banyumas). Tapi, ada rumah tahanan yang syutingnya di Tegal. Karena, yang dulunya pabrik gula, sekarang sudah jadi mal.

Komentar Anda soal Srintil dan Rasus pilihan Ifa Isfansyah; Oka Antara dan Prisia Nasution?
Boleh. Dalam artian, pantas. Apalagi Ifa memang mengaku, dia melihat novel ini dari kacamata generasinya, bukan dari penulisnya. Misalnya, dalam film ada adegan mesra, ada ciuman, ciuman modern. Kalau dia mau tanya saya, ciuman nggak ada. Zaman dulu, kalau mau mesra banget, ya, cium pipi, bukan cium bibir.

Bagi pencinta Ronggeng Dukuh Paruk, pasti penasaran soal upacara bukak kelambu dalam film. Bagaimana Anda melihatnya?
Kasihan itu. Ifa melukiskannya ekstrem, habis-habisan. Tapi dia berhasil menimbulkan kesan betapa Srintil tersiksa ketika melayani Rasus, atas permintaan Srintil sendiri sebelum benar-benar bukak kelambu. Setelah itu, ketika bukak kelambu ada dua kambing jantan, waduh…

Apa yang bikin Anda senang dengan adanya film ini?
Inilah ya, mudah-mudahan generasi muda punya gambaran tentang kekejaman yang pernah dilakukan oleh tentara pada masa itu. Supaya kita bisa melihat tentara dengan sikap kritis, karena kegagahan mereka juga brengsek.

Ada yang membuat Anda khawatir?
Ya tentu saja, saya akan dapat kepungan dari orang-orang ortodok. Bikin film yang ada ciumannya, dan semacam itu.

Cukup soal Sang Penari. Waktu dalam hidup Anda sekarang habis untuk apa?
Saya memimpin majalah lokal bulanan. Namanya Ancas. Sudah 20 bulan umurnya, dan saya tidak digaji. Majalah ini berbahasa Banyumasan. Isinya tentang laporan singkat, berita-berita kesenian, banyak. Di dalamnya ada 7 orang. Yang senior, ada 3.

Dan, ini menyita?
Ya karena ternyata yang berkualitas redaktur cuma satu; saya. Sisanya ya wartawan-wartawan zaman sekarang.

Zaman sekarang macam apa?
Wartawan zaman sekarang kan sudah puas kalau tulisannya dimengerti. Tidak memperdalam kemampuan berbahasa sehingga sajian bahasa itu elegan. Paling-paling asal taraf baik dan benar, itu sudah.

Bagaimana dengan karya sastra Anda selanjutnya?
Sebetulnya, saya ingin menunaikan amanat Pak HB Jassin, yang sudah 24 tahun saya abaikan. Yaitu, supaya Ronggeng Dukuh Paruk itu dijadikan tetralogi. Nah, kenapa saya membiarkan amanat itu terbengkalai, karena saya memang tidak siap. Dalam bayangan saya, ya, novel ini selesai ketika Srintil menjadi gila. Tiba-tiba, HB Jassin mengatakan, kalau menjadi tetralogi, buku keempat bisa melukiskan penderitaan Goder. Ingat Goder? Goder bisa jadi mewakili anak-anak dari orangtua PKI, yang hidupnya terabaikan.

Di akhir seruputan jus mangganya, sekaligus di akhir kalimat, tatapan Pak Tohari kosong sejenak. Mungkin berpikir lagi; soal Srintil, Rasus, terutama Goder.

*Artikel ini juga terbit di areamagz.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s