Taman Nasional Komodo dan Kenikmatan Live-on-Board (LOB)

Flores sangat dikenal utamanya karena keberadaan Taman Nasional Komodo yang diresmikan pada 1980. Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar adalah tiga pulau besar di Flores yang termasuk dalam wilayah taman nasional. Ini belum termasuk pulau-pulau kecil bernama, atau tak bernama. Totalnya, TNK memiliki luas total 1817 km².

Pulau-pulau berkomodo jelas menjadi titik wisata paling wajib untuk disinggahi ketika berada di Flores. Perjalanan saya dan teman-teman @KeluaRumah kali ini juga menjadwalkan island hopping ke Pulau Komodo dan Pulau Rinca, di sela itinerary lain, semisal Seraya, Sabolon, Nisa Purung (Strawberry Sundae), dan Pantai Pasir Merah (Pink Beach). Pengalaman baru yang menyenangkan adalah ketika selama island hopping 2D 1N, kami berkesempatan hidup di kapal. Kita mengenalnya dengan istilah liveaboard.

Ini dia Fadaelo! (foto oleh @tempekripik)

Perkenalkan Fadaelo. Ini adalah nama kapal milik Pak Udin, warga Bajo. Dalam bahasa Flores, fadaelo artinya “suka sama suka”. Tapi, untuk urusan kapal, ini artinya adalah sebuah kapal berinterior kayu berwarna coklat dengan kamar 6 dengan AC, dapur, 1 kamar mandi yang dilengkapi shower, serta area balkon berisi 4 kursi malas. Pemilik kapal juga menyediakan sekoci, televisi layar datar, perlengkapan karaoke, juga makan siang, camilan sore, dan makan malam yang kesemuanya lezat. Saya membandingkannya dengan ketinting yang saya sewa ketika keliling pulau di TN Ujung Kulon. Yang ini, jelas jauh lebih besar dan mewah.

Kapal sederhana saat jelajah TN Ujung Kulon.

Di hari pertama memulai hidup di kapal, 26 Oktober 2011, kami ‘lepas landas’ dari Labuan Bajo pagi-pagi. Rute Fadaelo sepanjang hari adalah Sabolon dan Seraya. Kedua pulau ini bisa menjadi contoh tipikal pulau-pulau kecil di Flores; dengan gaya pantai berpasir sangat putih serta air berwarna turquoise. Selain itu, pemandangan bawah laut di sekitar pulau ini sudah terkenal indah, sehingga menjadi titik favorit untuk snorkeling bahkan diving.

Sabolon adalah ke mana Fadaelo pertama kali mengarah. Jika berangkat pagi hari dari Labuan Bajo, Anda akan mendapati perjalanan laut yang tenang. Jujur, saya sendiri tidak sadar berapa lama perjalanan Labuan Bajo-Sabolon. Ini karena seisi kapal asyik bebincang sembari pilah-pilih musik di televisi. Mungkin, sekitar 2 jam, dan tahu-tahu Sabolon sudah di depan mata. Seketika, kKami melonjak senang. Sabolon alamak cantiknya!

Fadaelo berlabuh di tengah, sekitar 200 m dari Sabolon. Dari situ, seisi kapal bersegera memakai masker, snorkel, dan kaki-katak. Air laut cenderung hangat, tidak berarus. Dari titik di mana Fadaelo lepas jangkar, laut masih berkedalaman tidak terhingga. Saya sempat panik melihat kegelapan laut. Tapi, tidak lama, saya sampai di perairan dangkal dengan laut yang biru muda. Di sini, banyak terumbu karang dan karang merah khas perairan Flores bisa Anda lihat. Ikan-ikan beragam warna, mulai dari clownfish, hingga barakuda, bisa Anda temukan. Kalau beruntung, Anda bisa melihat manta ray yang seolah terbang di dalam air. Nagih!

Saya pikir, Anda akan sampai di ‘surga’ ketika Anda tidak berhenti hanya sampai di aktivitas menyelam saja. Karena saya tidak. Area darat Pulau Sabolon sangat potensial membuat Anda ajeg di pulau tersebut. Pasir yang putih dan air laut yang hijau-biru; memotret atau merekamnya dalam format video rasanya tidak pernah cukup.

Sabolon dari sini.

Tapi, hati-hati Anda lupa waktu. Karena, baru saya tahu setelahnya, banyak keindahan lain di kawasan Kepulauan Komodo yang tidak kalah mempesona. Untuk itu, kami segera beranjak untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan kedua; Seraya Kecil.

Fadaelo butuh waktu kurang lebih satu jam untuk sampai Seraya Kecil. Oleh karena Fadaelo tidak bisa mengantar kami sampai bibir pantai, kami akhirnya diantar dengan sekoci. Pulau ini bukan pulau kosong. Seraya Kecil adalah pulau yang menyediakan resort bergaya rumah panggung berdesain natural, serta restoran yang berada tepat di pantai. Menjadikan Anda seolah berada di pulau milik sendiri. Tapi, hati sempat mencelos ketika melihat sekeliling. Semua wisatawan yang datang adalah warga asing. Ke mana orang Indonesia? Kami cuma menunjuk diri sendiri, selebihnya tidak ada.

Kami sampai di Seraya siang. Teriknya jangan ditanya. Tapi, ada satu pohon paling besar di sana. Bisa jadi pohon rindang di bibir pantai ini adalah spot paling favorit untuk siapa pun yang ingin ‘menelanjangi’ Seraya. Saya lalu membayangkan, bagaimana kelihatannya senja dilihat dari pulau ini. Pertanyaan kecil yang tidak terjawab hari itu.

Lupakan soal senja sejenak. Selain pantai dan air laut yang ciamik, Seraya punya keindahan lain. Kontur pulau kecil yang berbukit-bukit memungkinkan Anda yang gemar trekking, bisa punya pilihan aktivitas lain di luar aktivitas air. Yang menjadi kendala hanyalah cuaca. Jika sedang kemarau, daratan Seraya berubah kecoklatan. Pohon-pohon kerontang. Kendala ini juga yang membikin saya gagal trekking, dan akhirnya memilih bermalasan di bawah pohon rindang–yang ternyata pohon asem–yang saya bicarakan tadi.

Hari pertama liveaboard berjalan luar biasa menyenangkan. Jika hari ini pemandangan bawah laut dan pantai yang jadi fokus utama, hari kedua akan menguras adrenalin. Kami akan menjelajahi sepanjang Pulau Rinca dan Komodo untuk melihat dari dekat kadal-kadal raksasa purba bernama latin varanus komodoensis; komodo. Tidak sabar!🙂

Next: Pulau Rinca!

2 Comments Add yours

  1. @tempebacem says:

    Foto pertama cakep

    1. atre says:

      narsis, jeehhhh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s