Berhadapan dengan Komodo

Ada keheningan mendalam di malam 26 Oktober 2011. Mikail Nongko mengumpulkan 11 anggota trip Bajo di dek bawah Fadaelo yang berisi kursi-kursi dan meja panjang berbahan kayu. Semua duduk, terkecuali Mikail.

Tim @KeluaRumah masih hidup di kapal. Malam itu, Fadaelo lepas jangkar di Teluk Loh Buaya. Tempat ini hanya lazim jadi tempat berlabuh saat malam. Siang tidak. Alasannya, karena inilah tempat terdekat untuk sampai ke Rinca. Dan memang, besok kami dijadwalkan berturut-turut ke Rinca, Komodo, Pink Beach, lalu Nisa Purung (Strawberry Sundae).

Mungkin ini ritual, atau istilah lebih netral adalah prosedur. Mikail bicara banyak malam itu. Utamanya, soal segala persiapan dan pengetahuan tentang ora–sebutan penduduk asli kepulauan Komodo untuk komodo.

“Menurut survei 2010, di Rinca ada 1.300 komodo. Di Komodo, 1.200-an.” Mikail kembali bersuara.

Komodo bukan binatang yang suka berjalan bersama. Mereka cenderung individualis, dan bisa hidup hingga 50 tahun. Psst, mereka bisa lari hingga 18-25 km/jam. Semakin kecil, semakin cepat.

“Mereka adalah binatang kanibal,” Mikail meneruskan. Setelahnya kami tahu, setelah bertelur (biasa 15-30 telur sekali melahirkan), komodo betina akan menjaga telurnya hingga 3 bulan ke depan. Sampai menetas. Namun, lepas dari itu, sang betina bisa jadi memburu anaknya sendiri untuk dimangsa.

Terbayang lidah para komodo menjulur-julur. Konon, ketika terjulur, komodo sedang mengenali bau apa pun. Untuk kemudian, memilih mangsa. Mereka punya daya penciuman yang ‘tembus’ mulai lima hingga belasan kilometer. Semua tergantung arah mata angin. Saya lalu memikirkan, akan sebesar apa sindrom “adrenaline rush” yang mungkin terasa nanti. Tidak bisa dibayangkan, ternyata.

“Komodo tidak pernah tinggal di satu tempat. Pagi hari kita bisa lihat dia di satu tempat, sorenya tidak ada. Sama saja seperti manusia, komodo mulai beraktivitas jam 6. Pagi hari mereka butuh panas. Siang bisa dijumpai di savana. Kalau kepanasan, mereka istirahat. Tapi kadang-kadang mereka tidak tidur. Mereka hanya bikin kamuflase, siapa tahu ada binatang lewat di depannya. Mereka akan mangsa,” masih suara Mikail.

Komodo punya dua cara memangsa. Sistemnya bisa menangkap lalu langsung dimakan, atau mengikuti jejak arah binatang setelah sebelumnya mereka gigit. Cerdik, dalam hati saya.

Sepanjang penjelasan Mikail, sebagai backsound, sebelas dari kita yang mendengarkan membentuk suara gumaman. Sesekali, pertanyaan-pertanyaan muncul untuk Mikail. Semisal soal tips kalau-kalau kita dikejar komodo. Mikail punya jawaban jelas: naik pohon atau lari zig-zag.

Sesekali, tawa kami memecah hening. Lebih karena perbenturan antara Mikail yang punya pola pikir sederhana dengan kami yang pola pikirnya sangat “kota” (baca: kompleks).

“Kalau bisa, besok pas trekking, semuanya pakai celana panjang, ya?” suara Mikail kedengaran serius.

“Kenapa, Pak? Takut digigit komodo?” seseorang menyambut.

“Bukan, itu biar kita nggak digigit nyamuk.”

Tawa pecah. Mikail selalu sukses mengendurkan ketegangan kami.

Perkenalkan, Mikail Nongko, tour guide kami yang kadang mengejutkan🙂

Saya tidur cepat malam itu, tidak lama setelah briefing kelar. Besok akan jadi hari penuh adrenalin, saya pikir. Gairah itu bahkan sudah dimulai ketika saya memejamkan mata di kamar kapal. Wo hoooo!

Next: Trekking di Pulau Rinca dan Komodo!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s