Jelajah Pulau Rinca untuk Bertemu Komodo

Kabut tipis masih melela. Jam 6 kala itu. Tapi, seisi kapal bernama Fadaelo sudah bersiap menginjak tanah. Hari itu, 27 Oktober 2011, sebelas orang siap trekking di Pulau Rinca, pulau yang ada di sebelah barat Pulau Flores.

@lesmanadadang, salah satu pejalan sudah siap trekking.

Rinca dari gerbang Loh Buaya terlihat hijau. Banyak pohon rindang. Air lautnya juga gelap kehijauan. Menurut survei di tahun 2010, Pulau Rinca menjadi kediaman sekitar 1.300-an komodo.

Loh Buaya adalah gerbang masuk menuju Rinca yang dilewati grup tersebut. Salah seorang di antara sebelas adalah seorang perempuan kurus berambut pendek. Punya pekerjaan sebagai reporter media online.

Perempuan ini gugup menghadapi trekking. Bukan karena mereka memilih rute medium track selama 1,5 jam (yang jelas-jelas lebih jauh daripada short track yang hanya 30 menit). Tapi, lebih karena akan melihat kadal purba dari jarak sedekat mungkin dengan mata kepala sendiri.

Seperti pepatah “show must go on“, perjalanan harus dimulai. Jam 7, rombongan yang totalnya terdiri dari 5 perempuan dan 6 lelaki itu berkumpul di bawah gate bertuliskan Loh Buaya.

Selamat trekking!🙂

Adalah Rama, naturalist guide atau ia menyebut dirinya sendiri ranger, yang bakal memandu kita selama di Rinca.

Ranger kita: Rama.

Rama sudah menunggu di gerbang, dan mulai memandu. Pertama, ke pos jaga Loh Buaya Taman Nasional Komodo. Butuh waktu berjalan sekitar 10 menit. Dari gerbang, kita akan dipertemukan pada jalanan bertanah merah, dengan di sisi kirinya bukit berbatu dan pepohonan hijau.

Perjalanan menuju pos jaga belum setengahnya, ada teriakan-teriakan kecil, “Ada komodo, ada komodo.” Tepat di padang tanah gemersang, 100 meter dari gerbang. Komodo itu memaksa kita keluar dari jalur setapak yang tersedia.

Perempuan tadi, sama seperti teman-teman yang lain, bersegera mendekat ke titik si komodo sedang berjemur, lalu mengeluarkan kamera. Awalnya hanya satu, dan komodo yang ini betul-betul tidak bergerak.

Komodo pertama yang terlihat di Rinca. Wo hoo!

Ada teriakan lain dari Rama, menunjuk kembali ke arah jalan setapak. Ada komodo lain, berjalan pelan menuju pos jaga. Jalur langkahnya selaras dengan jalur setapak manusia.

“Gila, kita belum juga di-brief Rama soal Rinca!” perempuan itu teriak dalam hati.

Scene yang terjadi setelahnya adalah, rombongan manusia berjalan mengikuti ritme langkah sang komodo yang bergerak pelan tapi stabil dan pasti.

Berburu momen bareng komodo ya, teman-teman?😀

Yang ada di pikiran si perempuan, mungkin juga yang ada di pikiran orang lain, adalah banyak pertanyaan. Bagaimana kalau tiba-tiba si komodo terganggu? Bagaimana kalau dia mengejar salah satu dari kita? Bagaimana cara lari zig zag? Apa yang paling betul kita lakukan? Pohon mana yang kira-kira bisa menyelamatkan kita? Semacam itu. Kekhawatiran yang tidak ada ujungnya.

Itu bisa saja terjadi. Tapi, komodo yang satu itu begitu tenang. Keberuntungan besar buat manusia. Sampai tahu-tahu rombongan sampai di pos jaga.

Ada satu orang dari Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, yang biasa dipanggil Mbak Ayu, mengurusi tiket masuk dan pembayaran kamera/handycam. Oh iya, setiap kamera atau handycam yang memasuki kawasan Taman Nasional Komodo dikenai biaya.

Rama masih muda, asalnya dari Jawa Barat. Kesundaannya kentara betul saat ia bicara soal Pulau Rinca, serta apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di pulau tersebut.

“Wisatawan mau lokal atau asing harus ditemani ranger. Selama di Rinca, nggak boleh ngerokok, bikin api, buang sampah sembarangan, berburu. Nggak boleh ambil apa pun dari sini, termasuk batu. Karena ini grup besar, jangan sampai berpisah. Nggak boleh juga menggoyangkan sesuatu di sini,” Rama menunjuk ke area dadanya.

Perempuan rambut pendek tadi bertanya pada Rama, berarti jangan menggantungkan kamera di leher. Goyangan kamera akan terbentuk di daerah dada. Rama membenarkan.

“Kita memilih medium track. Artinya, kita akan jalan 3 km, berhenti di hunting place. Kalau banyak air, biasanya akan banyak komodo di siang hari. Tapi, ini wildlife ya, bukan kebun binatang, tergantung keberuntungan saja (apakah kita akan bertemu lebih banyak komodo atau tidak),” Rama menunjuk-nunjuk denah lokasi Loh Buaya berukuran besar.

Rama lalu memberi tanda untuk memulai trekking. Ia bersama seorang ranger lagi. Mereka sudah membawa kayu berbentuk serupa ketapel berukuran besar. Gunanya, untuk melindungi dari serangan komodo. Hanya kayu? Itu cukup untuk tindakan preventif. Bagaimana bisa? Hidung komodo sangat sensitif. Jika disundul-sundulkan dengan barang keras, semisal kayu, mereka kegelian dan lari. Tidak dinyana, ‘kan?

Si perempuan berambut pendek kini sudah siap trekking. Kegugupannya mulai pudar dan dia mulai punya gambaran akan perjalanan penuh jompakan adrenalin kali ini.

Melewati papan pengumuman besar, perempuan ini melihat kertas berisi kuantitas komodo di TN Komodo. Sumbernya adalah panitia New 7 Wonders of Nature yang sempat kontroversial beberapa waktu belakangan. Kertas itu menyatakan, populasi komodo di Pulau Komodo berjumlah 1.288, sedangkan di Rinca, Gili Motang, dan Nusa Kode berturut-turut sebanyak 1.336, 83, dan 86. Entah apa ini valid, atau tidak.

Rombongan bergerak ke kawasan perumahan–jika bisa disebut demikian. Hanya sekitar 5 menit dari pos jaga, berdiri rumah-rumah berbentuk panggung, yang masing-masing rumah kayu beratap ijuk dan punya tanda khusus bertuliskan nama ruang, semisal dapur, guest house, ada pula kafetaria dan front office.

Perempuan tadi menganggap, petualangan alam bebas resmi dimulai ketika melihat 6 komodo berukuran besar (bisa disebut berumur tua?) berkumpul tidak jauh dari rumah dapur. Keenamnya terlihat tenang. Kesebelas anggota rombongan juga tenang; memotret, berbisik, merekam, hingga hanya memandang tanpa kedip.

Trekking berlanjut. Memasuki lebih dalam hutan Rinca, yang dominan ditemui adalah pohon-pohon berdaun jarang dan beranting banyak. Tapi, jalan setapak sudah tersedia. Kita hanya perlu mengikuti rute. Sampai akhirnya di tengah hutan, tepat di depan kita, ada seekor komodo besar berjalan pelan.

Pohon-pohon di Rinca.

Semua orang nyaris jejumpalitan, tapi Rama yang memimpin rombongan menenangkan. Jangan berisik dan jangan lari, itu intinya.

Komodo pimpin trekking🙂

Yang berkelebat di benak si perempuan kurus adalah, pertama, betapa ternyata komodo itu cantik. Cara mereka berjalan sungguh anggun dan tertata. Kedua, “Oke, sebisa mungkin jangan terlalu dekat, jaga jarak, jaga jarak,” benaknya. Sudah sekitar 100 meter komodo itu ada di depan rombongan, tiba-tiba dia berbelok ke kanan, menerabas pepohonan. Dia menghampiri sebuah sarang. Sepersekian detik setelahnya, kedengaran suara langkah si komodo itu bergegas panik, menjauh dari sarang. Rombongan ikut panik. Rupanya, si komodo itu dipaksa menjauh dari sarang oleh si empunya sarang.

Pohon lontar, bidara, jarak, sampai jamur yang tumbuh di atas kotoran bisa dilihat sepanjang perjalanan. Khusus di puncak bukit Rinca, pinus-pinus berdiri tegak. Mereka tidak tumbuh dengan rapat, sehingga bukit Rinca seperti tergarang. Di tanah, rumput-rumput yang mengering tumbuh tidak beraturan. Mereka berwarna kecoklatan.

Puncak bukit Rinca.

Bukit itu lumayan menjadi klimaks di Rinca. Rama lalu memandu kita balik ke pos jaga. Di tengah perjalanan, sebelas orang ini bertemu sungai yang sudah kering. Ia kini jadi jalan setapak. Tanda bahwa itu dulu adalah sungai hanya tersisa dari banyaknya batu kali besar-besar yang ajeg di tempatnya.

Terik tidak lagi terlalu menyengat. Di beberapa bagian hutan, tumbuh pohon-pohon tinggi yang berdaun. Seolah menjadi penyelamat siapa pun yang habis digarang di puncak bukit.

Sembari trekking, Rama bercerita, “Kira-kira 2 hari lalu, ada ranger digigit. Bukan di Loh Buaya, tapi di Loh Baru (Sok Niu). Dia bawa tamu dari Afsel, mau buat film tentang komodo. Biasanya orang-orang kayak gini nggak mau lihat komodo tiduran, maunya agresif. Nah, itu juga tugas ranger.

Semua orang bertanya-tanya, tapi ada satu yang bersuara, “Gimana cara bikin agresif? Dan, apa etis ranger melakukan itu?”

“Caranya, kirim-kirim bau makanan. Biasanya, ranger yang diminta kayak gitu akan dibayar lebih.”

Pikiran perempuan itu berkelebat lagi. Apa lah arti bayaran lebih kalau-kalau agresivitas si komodo bikin maut datang lebih cepat? Detak jantung perempuan itu berdetak lebih cepat. Bukan lagi gugup, tapi excited.

Tidak jauh dari waktu yang sudah diperkirakan, serombongan ini menghabiskan waktu untuk medium tracking nyaris 2 jam. Setiba di komplek rumah panggung, titik start trekking, para komodo masih berkumpul di depan “dapur”. Kali ini lebih banyak; sampai 8 komodo.

Perempuan berkacamata itu memandangi air liur yang keluar dari mulut komodo-komodo itu. “Gila, air liur ini, nih, yang berbahaya; mengandung 50-80 jenis bakteri. Menyebabkan infeksi yang bisa jadi berujung kematian. Saya takjub!”

Perempuan kurus berkacamata punya nama Astri. Lengkapnya Astri Apriyani.

(^_________^)

5 Comments Add yours

  1. Giri Prasetyo says:

    komen basi: ‘tulisanmu bagus mbak atre!’

    1. atre says:

      basi dari mana? means a lot, Giri! thanks…😀

  2. Jadi bagimana kelanjutan kisah si perempuan itu? apakah diculik oleh komodo? haha.

    Tulisannya bagus mba astri, alurnya enak dibaca. Btw mba mirip banget sama temen saya😆

    1. Atre says:

      perempuan itu akhirnya hidup bahagia selama-lamanya sama si komodo. ehehe…makasih ya sudah mampir mbaca. seneng deh!😀

      aku mirip siapose sih, si temen kamu itu?

      1. wah wah ntar anaknya jadi si komo dong?

        Mirip temen di kampus, ada dua pula yang mirip haha,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s