Jejak Langkah di Pulau Komodo

Pohon jarak jadi pemandangan paling setia ketika kita sampai di Pulau Komodo. Oleh karena musim panas, pohon ini meranggas, seperti jati. Dan, seluruh pulau gemersang kecoklatan.

Saya tiba di Pulau Komodo lepas tengah hari, setelah sebelumnya menjalani medium trekking di Rinca. Jarak tempuh dari Rinca ke Komodo tidak jauh, dengan satuan waktu yang tidak terlalu pasti. Yang jelas, ngobrol-ngobrol serasa sebentar ketika tahu-tahu kita sampai di pintu masuk Komodo; Loh Liang.

Tiba di Pulau Komodo.

Sedari dermaga, kering sudah kelihatan. Pohon-pohon tidak berdaun. Yang tersisa hanya ranting-rantingnya. Tapi, perairan di sekitar Pulau Komodo berwarna biru. Begitu pun langit. Dengan kombinasi pasir yang putih dan awan-awan gemuk yang juga putih, pintu masuk ini Komodo kelihatan sangat cantik.

Kala itu masih Oktober, tanggal 27. New 7 Wonder masih gencar berpromosi. Berpengaruh juga pada pulau ini. Di mana-mana bisa kita temukan spanduk dan poster promosi dan dukungan untuk Pulau Komodo.

Saya dan (masih dengan) teman-teman @KeluaRumah mengambil short track. Short saja, karena medium track di Rinca sebelumnya lumayan makan energi. Short track pun jangan dianggap remeh, mengingat medan yang gersang, dengan matahari yang luar biasa terik.

Ketika dua ranger sudah mengambil tongkat pemandu di raknya, itu artinya perjalanan kita dimulai. Sepanjang jalan setapak memasuki hutan di Komodo, yang bisa kita lihat hanya pohon-pohon kering. Kebanyakan pohon jarak dan lontar. Ada pula pohon kapas, yang mengering dan gembulan kapasnya terbang di udara. Pohon jarak, seperti jati, bisa meranggas. Itu sebabnya kita hanya bisa melihat ranting, tetapi tidak daun.

Pohon jarak yang berdaun jarang; merontok.

Sementara lontar, menurut ranger yang bernama Tajudin, adalah makanan pokok orang Komodo. Lontar ditumbuk, lalu keluar air, dan diperas. Sarinya lah yang dikonsumsi.

Ini Tajudin, salah satu ranger.

Memasuki hutan semakin dalam, jika beruntung, akan kelihatan rusa berkeliaran. Setelahnya, kita akan sampai di sebuah pertigaan. Setelah papan kayu peringatan bertuliskan Keep Silent, kita lalu akan menemukan papan penunjuk jalan; kiri Hutan Asam (50 m) dan kanan Banu Nggulung (1,4 km).

Beruntung, hari itu, tidak jauh dari pertigaan, ada dua komodo sedang beristirahat di bawah pohon besar. Menurut Tajudin, dua komodo ini berusia sekitaran 30 tahun. Jika komodo rata-rata bisa hidup sampai 50 tahun, berarti komodo-komodo ini bisa disebut tua.

Oleh karena dry season dan tanah sungguh berdebu, begitu pula kelihatannya kulit komodo-komodo ini. Mereka kotor oleh debu dan kulitnya bergelambir. Tapi, kuku-kuku sungguh besar dan hitam. Terlihat sangat kuat.

Dua komodo ini sungguh tenang. Diam di tempatnya. Siang hari memang waktu untuk mereka beristirahat, seperti tidur. Karena panas, mereka akan memilih tempat di bawah pohon untuk beristirahat.

Komodo tua.

Masih menurut Tajudin, Taman Nasional Komodo berpenduduk 4 ribu lebih orang. Mereka berdiam di Rinca, dalam dua kampung. Dan di Komodo, dalam satu kampung. Mayoritas adalah nelayan. Di samping itu, mereka senang berkerajinan, membikin suvenir patung komodo, mulai sebesar kelingking hingga seukuran komodo dewasa. Di Komodo, ada satu tempat khusus menjual suvenir-suvenir ini. Dan konon, setelah trekking, kita akan mampir.

Meninggalkan dua komodo tua beristirahat, saya dan kawan-kawan lanjut menapak hutan. Di dalam hutan, terik tidak terlalu membakar. Vegetasi yang bisa kita lihat di dalam hutan Komodo sungguh beragam, seperti pohon tua berusia ratusan tahun, hingga pohon besar berakar lilit. Semua tidak saya tahu namanya, bahkan Tajudin.

Tidak sampai satu jam, kita sampai di puncak Sulphurea Hill Top. Keseluruhan Komodo bisa kelihatan dari puncak ini, bahkan hingga laut. Masih dengan keadaan tanah dan rerumputan yang kering serta pohon-pohon yang hanya tersisa rerantingan, Sulphurea Hill Top bukan tempat tepat untuk berteduh. Apalagi kita sampai di tengah hari, saat matahari berada tepat di atas kepala.

Sampai di Sulphurea Hill Top.
Laut dari puncak bukit Komodo.
Para perempuan #PetualangACI!🙂

Setelah mendapatkan foto-foto yang diperlukan, saya turun puncak. Kontur tanah masih berdebu, keras, ditambah berbatu. Hati-hati memilih pijakan kaki.

Meski pemandangan dominan masih pohon jarak dan lontar, di beberapa bagian, saya sempat menemukan pohon srikaya (tapi kering). Ada sebuah jembatan pula yang di bawahnya hanya tersisa bebatuan, tanpa air. Setelah jembatan kecil itu, kita tiba di pinggir pantai. Bertemu kembali dengan rusa-rusa dan satu ekor komodo, saya berjalan di jalan setapak menuju tempat penjualan suvenir.

Rusa di tepi pantai.

Tidak seramai yang saya kira. Hanya diwadahi tenda dan etalase-etalase kayu sederhana, tempat ini bahkan masih minim penjual. Topeng-topeng, jimbae, patung-patung komodo beragam ukuran, kaus, tidak banyak juga jenis suvenir yang ditawarkan. Masih banyak yang mesti dibenahi, Komodo.

3 Comments Add yours

  1. Leonardo says:

    gw iri, tre. asli.

    1. Atre says:

      ayo, packing!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s