Report: Hidup Karna dalam Monolog

Karna (Sitok Srengenge) - foto oleh Hapis Sulaiman

Perang Kurukshetra menjadi mula pementasan ini. Perang besar ini ‘ditembakkan’ ke dinding, melalui grafis video digital berteknik video mapping.

Panggung malam itu penuh kubik-kubik anak tangga dan 4 pintu bersebelah-sebelahan. Warna putih mendominasi. Jay Subiakto sebagai penata panggung memilih konsep minimalis untuk setting, dan memaksimalkan visualisasi digital sebagai background panggung. Unsur modern bercampur baik dengan epos klasik ini.

Konsep pemanggungan Karna ini adalah monolog. Alur cerita akan mengalir melalui pemonolog-pemonolog yang totalnya ada 5 orang; Radha, Radheya, Resi Parasurama, Kunthi, dan Surtikanti. Setelahnya baru saya tahu, menurut Iswadi Pratama (asisten sutradara), kepada 4 orang ini dengan Radheya dikecualikan tentu saja, Radheya mengirimkan surat sebelum ia bertempur di Kurukshetra. Surat-surat inilah yang menjadi benang merah alur cerita Karna selama 1 jam 45 menit ini.

Perang Kurukshetra lalu selesai ditampilkan di dinding. Setelahnya, lampu menyorot ke pintu paling kanan (dari penonton). Radha yang berkebaya merah dan bersongket muncul. Radha adalah istri dari Adirata, seorang kusir kereta di Kerajaan Hastinapura; ibu dari Radheya, yang juga kita kenal sebagai Karna. Radheya sendiri bermakna “anak Radha”.

Setelahnya, terjadi flashback. Radha menjadi pemonolog pertama. Radha mengaku tidak tahu apa yang terjadi pada Radheya. Sudah nyaris 30 tahun Radha tidak bertemu dengannya.

“Radheya, anak saya, tidak mungkin hilang. Tapi, saya tahu, dia tidak akan kembali. Lagipula, apalah arti kembali.”

Namun demikian, anaknya–yang lebih suka ia panggil dengan Radheya ketimbang Karna–masih menyurati. Radha pernah menerima sepucuk surat dari Awangga. Radheya diangkat menjadi adipati, dan orang-orang Kurawa menamainya Karna. Adipati Karna. Kenapa Karna? Karna bermakna “terampil”. Nama ini dicap kepada Radheya karena ia hebat dalam memanah, melebihi murid-murid resmi Drona, kecuali Arjuna.

Masih dalam surat, Radheya lalu menyebut nama sebuah tempat yang belum pernah Radha dengar sebelumnya; Kurukshetra. Kata orang-orang, itu adalah nama medan perang besar. Nantinya akan terjadi pertempuran antara Kurawa dan Pandawa. Ribuan orang akan mati, dan Radheya dipersiapkan untuk memimpin pertempuran tersebut.

“Saya tidak tahu apa yang terjadi. Selalu saja ada pertempuran. Raja-raja menghendakinya.” mimik Radha sendu.

Radha lalu berkisah, sedari kecil, cita-cita Radheya paling besar adalah menjadi ksatria. Dari umur belasan tahun, ia sudah bisa membuat busur panah sendiri, dan tidak pernah takut berkelahi. Para ksatria dianggapnya manusia paling sempurna. Sampai ia akhirnya bertanya, apakah anak sepertinya–yang hanya anak kusir–bisa jadi ksatria? Radha dan Adirata (suaminya) belum memberitahu Radheya bahwa ia “anak dapat”.

Seisi gedung pertunjukan hening. Musik menjadi perangkat paling minim yang digunakan, walaupun tetap jadi unsur penting. Sementara, tata lampu menjadi pendukung utama menciptakan suasana “gelap” pementasan Karna. Video mapping masih sesekali muncul menjadi latar.

Sitok Srengenge sebagai Radheya lalu menyembul dari balik pintu kedua. Ia-lah pemonolog kedua. Sembari memainkan tombak besar di tangan, Radheya mengenakan kostum perang, serupa pakaian adat Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat, dilihat dari penutup kepala yang berbentuk jaring-jaring kayu yang meninggi.

Radheya membawa tombak. Ia dapat tombak itu dari seorang pertapa yang memberikannya pada Radheya, setelah Radheya menolongnya. Kata pertapa itu, tombak ini diasah pada kuku Batara Indra. Saya lalu ingat cerita Mahabharata. Mungkin, tombak ini maksudnya adalah pusaka Indrastra bernama Vasavi Shakti yang berupa konta (tombak). Saya yakin benar, karena kemudian Radheya berkata, tombak ini begitu sakti tapi hanya bisa digunakan sekali, setelah itu ia akan meluncur tak kembali.

Panggung kembali gelap. Radha muncul lagi. Video mapping kini menggambarkan sungai berwarna hijau di kaki Radha. Ibu Radheya ini lalu bercerita, bagaimana Adirata yang adalah kusir kereta di Kerajaan Hastinapura menemukan sebuah bayi di tepi Sungai Aswa.

“Sejak saat itu saya tahu, saya bisa jadi ibunya, lebih baik daripada ibu yang melahirkannya dan membuangnya. Anak dapat,” Radha bergumam sendiri.

Gong berbunyi. Video latar membentuk pohon-pohon. Panggung ‘berpindah’ ke hutan. Whani Darmawan sebagai Parasurama menjadi pemonolog ketiga yang muncul. Sejak saya sadar, alur cerita tidak jauh berbeda dari Mahabharata, tidak ada salahnya kalau kita mengintip jati diri Parasurama melalui epos tersebut. Parasurama adalah seorang resi, murid dari Drona yang mengajarkan para pangeran Pandawa.

Parasurama yang mengenakan jubah dari kain yang saya kenali sebagai songket itu selalu membawa tongkat bermata besi. Whani Darmawan kelihatan sangat santai membawa peran Parasurama, sembari sesekali memilin-milin tongkat tersebut. Kecakapan Whani bermonolog dan keluwesannya dalam beradegan membantu saya mencitrakan bagaimana sebetulnya sosok dan pembawaan resi kala dulu. Sehingga ia berhasil keluar dari ke-whanidarmawan-annya dan seutuhnya menjelma Parasurama.

Cerita pertama Parasurama adalah soal kabar kematian Karna. Ada seorang perwira pasukan terdepan Kurawa yang diutus untuk menemui Parasurama. Berita yang perwira itu bawa adalah gugurnya murid Parasurama, Karna, dalam Perang Kurukshetra ketika melawan Arjuna. Lehernya tertebas panah. Karna lalu tumbang di atas kereta perang yang tergelincir dan terhempas dalam lumpur.

Jika membaca Mahabharata, Anda pasti tahu, kematian Karna persis seperti kutukan yang pernah dilontarkan Parasurama dan seorang brahmana. Ketika resi ini tahu bahwa Karna telah menipunya–mengenai asal-usul dan jati diri–, Parasurama pun mengutuk Karna. Jika suatu hari nanti Karna menghadapi pertarungan hidup-mati melawan seorang musuh terhebat, Karna akan lupa terhadap semua mantra yang telah ia ajarkan. Sementara, seorang brahmana mengutuk Karna setelah Karna menabrak mati seekor sapi milik brahmana ketika mengendarai kereta. Brahmana itu mengucap kutuk untuk Karna, bahwa jika suatu hari ia berperang melawan musuh paling hebat, kelak roda keretanya akan terbenam ke lumpur. Sejak ini saya mengingatkan diri sendiri, bahwa alur cerita Karna tidak bisa tidak terkait dengan Mahabharata.

Lampu hanya menyala satu. Tepatnya menyorot ke pintu ketiga, ke arah Parasurama. Seperti Radha, Parasurama lalu teringat surat-surat yang pernah ditulis oleh Karna untuknya. Tiga kali ia menulis, kata Parasurama. Karna menulisnya dari Awangga, mungkin 3 pekan setelah ia diangkat sebagai adipati. Surat ini dititipkan Karna kepada Surtikanti.

Setelahnya Parasurama mengingat masa lalu saat pertemuan pertamanya dengan Karna, di gerbang timur pertapaannya. Dulu itu, Parasurama menduga, anak muda yang datang ke pertapaannya ini datang dari pertapaan yang terancam. Tapi, lalu muncul keraguan.

“Ada yang menyita perasaan, menggangguku. Pandangan anak ini setengah angkuh setengah tak tentram. Ia seperti sedang dirundung sesuatu yang berat. Siapakah namamu, aku bertanya. Radheya, Yang Mulia, jawabnya. Berapakah umurmu? 19 tahun. Dari pertapaan manakah asalmu. Dia seperti tak hendak mengatakan dari mana ia berasal. Baru kemudian ia menjawab dengan pelan,’Hamba datang dari pertapaan Ratnagiri (…) yang telah dihancurkan.”

Parasurama tahu Karna berbohong, tapi ia toh tetap menerimanya sebagai murid. Sampai suatu hari Parasurama tahu betul Karna seorang pendusta. Itu saat Parasurama keletihan di tengah hutan dan Karna menawarkan diri untuk menjaga gurunya itu selama sang guru tidur di paha Karna. Parasurama lelap, dan baru terbangun saat ada goncangan dari arah Karna. Rupanya, lelaki muda itu roboh, muntah darah, karena rupanya ia digigit ular. Ia lalu meracau, dan dari racauannya itu Parasurama tahu, anak muda yang menjadi muridnya itu bukan Brahmana, tapi berasal dari kasta Ksatria–walaupun Karna tetap mengaku, ia bukan Ksatria. Setelahnya, Parasurama tidak ingin melihat Karna lagi di perguruannya.

Baru dalam surat, Karna mengungkapkan apa yang ia tidak ungkapkan hari itu.

“Guru, Parasurama, hamba memang berdusta, tapi hanya dalam satu perkara dan bukan perkara lain. Hamba telah menutupi kebenaran (?), tapi hamba tidak mengerti kebenaran apa yang hamba tutupi ketika tuan mengatakan hamba seorang ksatria…” suara Karna.

Ruang pertunjukan Salihara begitu hening. Suara batuk dan dehaman di kanan-kiri saya jadi begitu jelas kedengaran. Panggung menggelap, juga sunyi tanpa lagu. Hingga tiba-tiba di pintu keempat, muncul perempuan paruh baya. Ia Kunthi.

“Aku terdiam ketika ia memanggilku Baginda Kunthi. Hamba punya seorang ibu, katanya. Ia istri seorang kusir kereta.”

Keheranan paling besar yang muncul dari batin Radheya adalah, kenapa Kunthi, ibu para Pandawa, mengirim utusan untuk memanggilnya, yang adalah seorang perwira musuh. Tidak ada satu orang pun yang tahu alasannya, bahkan para pangeran Pandawa. Utusan itu lalu berkata, “Ia ingin memberitahu hal tentang tuan yang tuan tidak tahu.” Inilah yang akhirnya menggerakkan Radheya untuk menemui Kunthi di sebuah kuil. Dan, di sinilah Radheya tahu, ia anak Kunthi, dari kehamilannya dengan Batara Surya.

“Hamba bukan anak yang hilang. Hamba anak yang dihilangkan,” Radheya menusuk hati Kunthi dengan pernyataan ini.

Saya pribadi sempat terkagum sesaat, ketika tiba-tiba Radheya muncul tidak dari balik barisan pintu. Tapi, ia muncul di atas, seolah panggung itu punya dua lantai. Walaupun masih, tata lampu berpendar sangat minim, hingga di beberapa bagian, wajah para pelakon tidak tampak.

Radheya masih bicara sendiri. Pertemuannya dengan Kunthi tidak mengubah apa-apa, rupanya. Radheya tetap berperang di pihak Kurawa, melawan adik-adiknya sendiri. Menurut Radheya, takdir sudah berkata, ia harus membunuh Arjuna, atau dibunuh Arjuna.

Musik lirih lalu berdengung mengisi ruang pertunjukan. Dari kanan panggung muncul perempuan cantik bercepol tinggi dan berkemben batik. Ia Surtikanti, istri Radheya. Sama seperti Radha dan Parasurama, Surtikanti pun menerima surat. Radheya pamit. Ia mengatakan, ia mungkin mati di medan perang Kurukshetra. Ia lalu menceritakan asal-usulnya kepada Surtikanti. Bagaimana ia dibuang, lalu akhirnya dirawat oleh Ibu Radha, hingga baru sebelum Kurukshetra ia tahu, ia adalah anak Batara Surya dan Kunthi. Dengan suara berat dan paras sedih, Surtikanti membacakan surat tersebut.

Pada akhirnya, “Seseorang ada karena tindakan, seseorang menjadi karena pilihan. Bukan karena ia selesai dirumuskan.” ucap Karna.

Entah apa yang pada akhirnya membuat saya merasa perlu memasukkan banyak sekali kata-kata monolog dalam tulisan ini. Goenawan Mohamad sebagai sutradara dan terutama penulis naskah sukses besar, menurut saya. Ia membuat perjalanan hidup Karna begitu mudah dicerna. Membuat penonton mengerti, Karna memilih tetap berada di pihak Kurawa karena punya alasan kuat, dan semua tergambar logis. Di luar itu, rangkaian kata yang dibuat GM membuat monolog ini terasa hidup, bermakna dalam, hingga akhirnya berkesan dan quotable.

Selama hampir 2 jam, saya melupakan keberadaan Sita Nursanti, Niniek L. Kariem, Whani Darmawan, Sitok Srengenge, dan Putri Ayudya. Yang muncul di panggung hanyalah Radha, Kunthi, Parasurama, Radheya, dan Surtikanti. Cukupkah ini menggambarkan betapa baiknya mereka berlakon?

Applause besar juga harus disampaikan pada Citra dan Jay Subijakto. Nama pertama bertanggung jawab atas kostum indah dan megah sepanjang pementasan tersebut. Dengan cerdas, Citra tidak cuma menampilkan Jawa di atas panggung, tapi juga kostum yang terpengaruh pada budaya Maluku.

Sementara Jay, harus diakui berhasil memasukkan kita ke dalam perenungan melalui video mapping dan setting yang minimalis-fungsional.

Satu yang mengganggu pikiran saya, apakah Karna boleh keluar dari Salihara, untuk bisa lebih megah lagi ditampilkan? Ruang pertunjukan Salihara, seperti yang kita sama-sama tahu, begitu mungil. Dan, Karna sepertinya butuh panggung lebih besar.

*Tulisan ini juga terbit di areamagz.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s