Jaksel 00.00

Jam 12 malam di Jakarta Selatan. Angkutan umum Pasar Minggu- Lenteng Agung sudah tidak ada. Tukang-tukang ojek di pangkalan juga sudah pulang, menggondol polusi udara di ransel dan uang yang tidak seberapa. Saya lalu celingukan, bagaimana bisa sampai rumah.

Mobil dan motor pribadi hanya sesekali permisi di atas aspal. Menguning di bawah sorot lampu jalan yang tinggi, lalu menghilang dalam gelap.  Karena suasana hati sedang baik, saya melangkah pelan-pelan menyusur trotoar. Jalan kaki sampai rumah.

Melihat diri sendiri dari ujung rambut hingga kaki, saya pikir saya bisa baik-baik saja berjalan sendiri tengah malam itu. Ketakutan macam-macam saya tangkis. Lebih percaya, bahwa Ibukota–apalagi kampung sendiri–tidak akan terlalu bengis. Saya mulai berjalan tidak tergesa, dan nyaris tidak bersuara.

Nyatanya, Jakarta belum tidur di jam 12 malam. Meski jalan raya nyaris selalu kosong, tidak demikian dengan para penghuni tepi jalan. Di 100 meter pertama, tiga lelaki muda di seberang jalan duduk-duduk. Ada gerobak nasi goreng serta tukangnya sedang mengoseng-oseng. Mereka terbahak beberapa kali, lalu menyadari keberadaan saya dan nyeletuk, “Sendirian, Mbak?” Yang ditanya cuma tersenyum dan meneruskan langkah agak lebih cepat. Benak saya di titik ini bimbang, apa saya mengambil keputusan tepat.

Ketakutan cuma muncul serupa buih di campagne yang botolnya baru dibuka. Sedetik kemudian ia hilang ditimpa udara malam yang kala itu sejuk. Di tengah perjalanan, ponsel berderak-derak. Ada WhatsApp dari entah siapa. Saya tidak terlalu berani mengeluarkan ponsel dari tote bag, melihat di jarak 50 meter ada seorang lelaki paruh baya duduk di depan warung indomie rebusnya yang belum tutup. Untung, melihat saya lewat, dia hanya diam dan mengikuti saya dengan pandangannya. Meski tatapannya menusuk, tapi saya masih tidak merasa terancam.

Deru napas saya mulai kedengaran payah. Bukan karena letih, tapi karena pikiran-pikiran buruk yang tidak terkontrol. Adrenaline rush. Sudah setengah jalan, angkot betul-betul tidak muncul. Lalu saya merasa, jalan satu-satunya ya menyelesaikan perjalanan sampai tiba di rumah.

Dan, beruntung, tidak ada hal buruk terjadi. Jakarta malah kelihatan begitu bersahabat di tengah malam ini. Begitu juga orang-orangnya. Selepas tukang indomie bermata elang, saya masih bertemu beberapa orang. Tukang tambal ban berbenah membereskan “ban-ban luar” motor dagangannya ke dalam lapak. Tukang nasi goreng yang lain sibuk sendiri, berjongkok menggosok-gosok penggorengannya di belakang gerobak. Kosrek, kosrek, kosrek.

Sepi kembali. Lampu jalan di beberapa titik mati. Meninggalkan jalan aspal ini menampakkan siluetnya; berkelok-kelok tipis. Telinga saya menangkap suara jangkrik dan bel sepeda. Sedetik kemudian, sepeda ontel tua menyisip dari arah belakang saya. Ontelnya punya ‘penumpang’ yaitu panci aluminium di rangka kayu. Bapak tua tukang siomay ternyata. Tenang dia mengayuh, tidak menengok, lalu hilang.

Hampir 500 meter kemudian, rumah kecil saya sudah kelihatan. Lampu jalan sudah tersedia. Melirik ke jam di pergelangan tangan kiri, saya berdecak senang, “15 menit, cepat juga.” Sembari membuka gerbang rumah, saya tersenyum simpul. Kok perjalanan semacam begini menyenangkan? Patah hati jadi tidak terlalu ada artinya lagi :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s