Kenalkan, Bu, Namanya Sepi.

Saya rasa saya baik-baik saja. Saya juga tidak sangka bisa cepat berkarib dengan hati sendiri. Tapi ternyata saya baik-baik saja.

Kalau dulu saya bilang, luka itu mestilah kita bawa lari, ternyata trik itu sudah renta. Bukan zamannya lagi. Luka kini mestinya dirasa-rasai, diicip-icipi. Bukan cuma agar kita ngerti rasanya, tapi biar kita paham kapan kita kurang luka, kapan kita mabuk luka. Supaya kita tahu kapan kita mesti memutuskan. Pilihannya toh cuma dua: rela, atau terus-terusan berduka.

Saya baik-baik saja. Setidaknya ibu sudah tahu. Tapi tetap saja, matanya mengumpulkan khawatir. Tiap kali saya mesti berangkat kerja, pagi-pagi betul ia sudah merapikan sarapan. Hati-hati. Serupa merapikan pecahan hati anak sendiri. Pas malam baru sepenggalan, suara ibu sudah kedengaran di telepon genggam. Ia bicara pelan, “Di mana kamu menghabiskan stok kecewa hari ini?” Di dalam pikiran saja, Bu. Biasanya saya jawab begitu.

Tapi, ada sederetan hari yang tahu-tahu nonjok. Saya refleks mengaduh, tapi nyatanya tidak sakit.

“Haha, dengar bocah. Kemandirian itu sulit, tapi bisa juga dipelajari. Hidup itu kan bukan nyuapin manja.” Sumpah saya tidak tahu suara siapa itu. Tapi saya tahu betul maksud dia apa.

Saya sementara memang sendirian, tapi semoga tidak kesepian…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s