[r i p]

Seorang teman menulis, “Galau karena putus asmara itu picisan.” Kalimatnya membuat kesal melonjak hingga tenggorokan–walau kata-katanya bukan dituju khusus buat saya. Saya merasa picisan, dan saya tidak suka disebut picisan.

Pembenaran-pembenaran lalu dijabarkan. Setiap orang cenderung begitu. “Saya paling sakit. Saya lebih sedih. Ah, saya dikhianati, jelas saya yang paling hancur di sini.” Jika sudah diparafrase macam begini, saya tertegun sendiri: kenapa kita bangga membangga-banggakan duka?

Minggu lalu, saya salah satu pembangga-duka itu. Saya merasa benar untuk bersedih, dan terus menangis tidak karuan. Tapi, dini hari tadi Tuhan menggelar kelas privat buat saya. Mata kuliah: lara.

***

Di salah satu rumah di Gang Lumayan, Jatipadang, orang-orang ramai. Semua sibuk dalam pikirannya masing-masing, sembari menatap jenazah yang terbujur di ruang tamu rumah duka. Jenazah bibi saya.

Maut kembali misterius. Ia menjemput bibi tanpa tanda atau sakit. Darah yang bibi muntahkan di akhir napasnya bukan karena ia punya penyakit hati. Tapi entahlah, ia muntah darah banyak sekali, lalu setelahnya tertidur panjang. Wajahnya pucat, tapi tenang.

Satu per satu sepupu saya datang: anak kandung bibi. Di sela ayat-ayat Surah Yassin yang sahut-sahutan, suara sesenggukan hingga teriakan histeris datang dan pergi. Semua suara mengisi telinga saya dengan penuh. Saya coba memejamkan mata, karena frame-frame dalam kepala saya otomatis mem-fast forward; kenangan tentang bibi, pertemuan-pertemuan, hingga saya di minggu lalu yang ringkih tanpa alasan. Ternyata, saya tidak picisan, tapi saya naif.

“Maaf ya, Tjuk, tapi kamu itu mmm childish…,” kata seorang kawan.

Dini hari ini, bibi menyadarkan saya. Ada sebuah lara yang sebenar-benarnya, yang baru boleh betul-betul ‘dirayakan’. Bahwa ada kesedihan yang jauh lebih ‘berhak’ untuk dimanjakan ketimbang kesedihan karena putus asmara.

Innalillahi wa innailaihi rajiun. Semoga bibi tenang di mana pun bibi sekarang berada. Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s