Istirahat, Tidak Perlu Lagi Cari Tinta

“Ibu, satu lagi wartawan mati hari ini. Bukan karena ia melawan, tapi karena ia diserang.”

Saya lihat wajah Ibu pias. Khawatir. Padahal ia harusnya bisa tenang. Anaknya bukan wartawan yang berada di garda depan kawasan konflik–meskipun saya bergairah sekali akan itu. Namun, ke mana jalannya, saya belum tahu. Dan belum mau.

“Namanya Leiron Kogoya. Usianya masih muda, baru juga 26 tahun. Berita-berita melaporkan, lehernya sebelah kanannya kena tembak, Bu, saat ia ada dalam pesawat Trigana PK-YRF di atas Jayapura.” Ibu mengejang sedikit ketika saya sebut Jayapura. Iya, Indonesia, Bu. Negeri kita sendiri, kata saya.

“Leiron tercatat sebagai wartawan Papua Post Nabire (anak Pasific Post Group) baru 2 tahun. Ibu mungkin tidak pernah dengar.” Ibu menggeleng. Pasific Post adalah surat kabar harian di tanah Papua. “Nah, hari ini, Bu, 8 April 2012, Leiron ditugaskan untuk membantu peliputan seorang rekannya yang lebih dulu berangkat, Franky Felle, di Puncak Jaya.”

Daerah Puncak Jaya memang sedang ramai jelang pemilihan kepala daerah. Leiron datang hendak membantu Franky untuk peliputan tersebut. Pemred Pasific Post, juga yakin mengirim Leiron karena ia adalah putra daerah Puncak Jaya. Aman, mungkin ia pikir. Apa yang terjadi malah sebaliknya. Leiron tewas saat ia belum lagi mulai bertugas. Pesawat rute Nabire-Puncak Jaya itu ditembaki sesaat setelah mendarat di Bandara Mulia Puncak Jaya. Sekitar jam 08.30.

Yang ada di benak saya adalah ketika pesawat perintis jenis Twin Otter itu ditembaki segerombolan orang. Berita-berita rata-rata bilang, kelompok ini tidak dikenal. Tapi tetiba mereka menembaki pesawat. Isinya tidak cuma Leiron Kogoya, pilot bernama Dedy Astek (40), dan co-pilot, Willy Resubun (30). Masih ada penumpang lainnya; Yanti (30) dan Pako Korwa (4). Keduanya juga dikabarkan luka, Bu. Mata kaki kiri sang pilot dan jari tangan kanan co-pilot terkena serpihan peluru.

Pesawat limbung. Kendali Dedy dan Willy pun berantakan karena luka serpihan peluru yang mereka alami. Si burung besi itu lalu mendarat sama sekali tidak mulus. Untuk kemudian menabrak rumah dekat tower bandara.

“Bu, saya tahu seorang wartawan yang mati saat tugas itu punya kebanggaan yang besar. Teman saya bahkan bilang, tingkatnya di atas mati syahid. Dia bercanda, jelas. Namun saya yakin, dia pasti serius soal ‘kemegahan’-nya. Tapi bukankah Ibu setuju, ini bukan cuma soal kebanggaan? Kesedihannya pasti juga luar biasa.” Ibu cuma diam. Menatap mata saya dalam. Mungkin dia menemukan percik di sana, mungkin kuyu.

Yang Ibu tidak tahu, dan rasanya tidak perlu tahu, setiap hari ada saja wartawan yang tewas atau malah diculik lalu hilang dan tidak pernah ditemukan. Aliansi Jurnalis Independen punya catatan soal ini.

Leiron sudah diistirahatkan di Muliambut, Kabupaten Puncak Jaya, tanah kelahirannya. Wartawan kita satu lagi meninggal (semoga) dengan bangga, dalam tugas. Rest in peace.

2 Comments Add yours

  1. khakha says:

    it might be one reason why my mother didn’t allow me to work as a journalist. though, she almost never say it clearly to me before finally I became a teacher.🙂

    1. Atre says:

      tapi, memang kamu awalnya pingin jadi jurnalis? bukan sejak awal passion kamu ngajar?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s