“Belajarlah Menulis dari Tukang Obat,” Kata Putu Wijaya

Dalam batuk, lelaki yang identik dengan ascot cap-nya ini tampil ke muka forum. Mengenakan celana panjang dan kemeja hitam, ia sibuk mengangkat-angkat alis, mengulik MacBook silver di hadapannya.

Putu Wijaya pada 16 April lalu main-main ke Jalan Panjang. Meski sakit, ia memaksa diri untuk mengisi kelas menulis kami. Di hadapan 12 orang, dunia menulis yang pernah PW cicipi, digelar. Pengalamannya menguar-nguar mengisi kelas.

PW bicara tentang apa pun perihal menulis; bagaimana cara menulis yang baik, mengakali deadline, mengontrol mood, dan lain sebagainya. Tidak secara kikuk atau penuh rangkaian formalitas. Selayaknya berlakon, ia mengambil hati kelas dengan penuturan materi yang berplot dan bertokoh.

“Ada seorang penulis. Ia tahu betul sebenarnya apa yang ingin dia tulis. Tapi ia masih ke lapangan, mengecek; benar nggak apa yang dia mau tulis. Dia lalu menulis. Setelah menulis, mencari bahan, dan meracik, ia serahkan tulisannya kepada atasannya,” suara PW.

Seisi kelas hening. Sesekali PW terbatuk-batuk. Maaf, kurang sehat, katanya sungkan. Ia siap memegang sapu tangan handuk untuk mengurangi dengungan batuknya. Setelah reda, ia melanjutkan.

“Redaktur bilang, ‘Bagus, tapi tulisanmu tidak menarik. Coba diperbaiki.’ Penulis itu bingung. Dia sudah kerja dua hari, mencari bahan banyak sekali, membuat perbandingan-perbandingan. Ia berkonsentrasi mati-matian, menyesuaikan apa yang mau dia tulis dengan kesepakatan dalam rapat. Semua ada dalam tulisan itu. Tapi kenapa tulisan itu masih ditolak?” masih suara PW.

Saya mengerti benar apa yang dirasakan oleh tokoh penulis dalam cerita PW. Saya pernah dalam posisi tersebut. Tulisan ditolak karena tidak menarik, walaupun rasanya semua nyawa sudah diserahkan untuk tulisan tersebut. Apa yang kurang? Ini pertanyaan saya, dan mungkin juga pertanyaan 11 sisa orang yang ada di kelas ini.

PW tidak lantas segera menjawab. Ia masih memasukkan drama dalam ‘pelajaran’ menulis ini. Tokoh penulis digambarkan menemui pacarnya, sampai pacar tersebut berkata, “Ini tulisan bagus, oke, dua jempol.” Belum puas, penulis ini juga menemui sahabatnya dan mendapati komentar, “Ini tulisan bagus.”

Tulisan sang penulis akhirnya didiamkan begitu saja. Penulis tidak memperbaiki tulisan tersebut. Ia masih berharap atasannya membaca sekali lagi dan melihat lebih jelas apa yang ingin si penulis bicarakan.

Si penulis menunggu waktu atasannya membaca tulisannya sekali lagi. Atasannya memang membaca, dan ia tahu, tulisan itu tidak diperbaiki. “Komentar saya adalah, tulisan kamu bagus, bahasanya bagus, sasarannya tepat. Tapi anak muda, bagus saja tidak cukup. Perempuan cantik saja tidak cukup untuk bisa jadi pacar kamu. Dia mesti punya daya pikat.”

Tokoh atasan, melalui mulut PW, meneruskan, “Bergurulah kepada tukang obat.”

Seisi kelas seketika melongo tidak tersamarkan. Berguru pada tukang obat? Jelas, kami membutuhkan sedikit pemahaman di sini. PW juga ngeh sekali, kalau 12 orang di hadapannya mengernyit tanda tak mengerti. Maka, ia segera meneruskan materinya.

Seorang tukang obat di pinggir jalan adalah seorang guru. Guru yang menjelaskan pada kita bagaimana caranya membuat berita, kata PW demikian.

“Tukang obat sebelum menjual obat, kita tahu apa yang dia jual itu bohong. Mereka bilang, pil itu obat cuci darah, dan lain-lain. Tapi ternyata kebohongan sendiri bisa dibeli orang. Caranya, tukang obat biasa memukul kentongan di awal jualan. Ia cari keributan. Ketika orang melihat dia, ia lalu mengeluarkan ular agar orang-orang berkumpul. Setelah orang berkumpul, ia main sulap, kalau perlu sampai berakrobat.”

“Tukang obat butuh waktu 2 jam untuk mengumpulkan orang, sampai keringat bercucuran, sampai orang-orang tertawa. anehnya, orang2 padahal tau tukang obat ini tukang bohong tapi tetap mampir. Lalu di saat tepat, ketika semua orang sudah terpaku padanya, ia lalu mengeluarkan dagangannya. Mungkin hanya 5-10 menit, sesudah itu cepat-cepat obat-obat itu dimasukkan lagi. Ularnya keluar lagi, akrobat lagi, orang diberi hiburan lagi. Jadi, ia memiliki strategi, taktik, dan kemampuan-kemampuan lain selain jual obat.”

…Sebuah tulisan tidak ditentukan oleh berapa lama ia ditulis. Bukan juga ditentukan oleh apa saja isinya; mana penting, mana tidak. Sebuah tulisan menarik kalau di dalamnya ada emosi, kalau di dalamnya ada rasa.

Saya jadi teringat analogi di awal tulisan ini. Bagi perempuan, tidak semua lelaki cakep itu menarik. Dan, tidak semua perempuan cantik juga menarik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s