Tari Caci: Perang dalam Hujan

Yosef Tukis, pria kelahiran 1938, sepanjang hidupnya tinggal di Kampung Melo. Ini adalah nama sebuah kampung di Desa Liang Ndara, Kecamatan Sanonggoang, Manggarai Barat, NTT, Indonesia. Ia berada di garda depan, orang yang pertama kali menyambut saya dan 10 kawan beperjalanan di kampung tersebut. Ia kepala desa Kampung Melo.

Ketika pada 5 November 2011 datang ke Melo, kami menemukan Yosef Tukis dan warga kampung sudah berpakaian rapi; pakaian adat. Para perempuannya berkebaya kuning cerah dan berkain tenun hitam dengan benang-benang warna-warni, dipercantik hiasan kepala. Sementara, para pria punya dua ‘seragam’ berbeda. Yang pertama, berkemeja putih dan bercelana hitam yang diselimuti tenun. Sisanya, bertelanjang dada, bercelana putih, dilengkapi kain tenun songket bercorak, dan berbuntut tegak di bagian belakang, serta panggal (penutup kepala).

Panggal mengandung arti lima dasar kepercayaan orang Manggarai. Bagian tengahnya melambangkan rumah gendang, yaitu pusat persatuan masyarakat Melo tempat terselenggaranya berbagai acara persembahan. Bentuk panggal adalah kerbau. Perlambang lelaki harus berani, serupa kerbau.

Yosef Tukis sendiri lain dari yang lain. Pria berair muka tenang ini berkemeja putih, bercelana putih dengan kain tenun songket ditambah keris di lingkaran pinggangnya, juga bertutup kepala bercorak batik. Kain berwarna kuning dan oranye terselempang di bahunya.

Langit kelihatan mendung. Siang menjelma serupa sore. Matahari raib, berganti awan-awan hitam menggayut. Kami diarahkan masuk ke rumah kayu berpanggung dan beratap ijuk, yang sehari-harinya adalah Taman Bacaan Pelangi. Ini adalah sebuah rumah baca khusus untuk anak-anak yang tinggal di desa-desa kecil di Indonesia Timur. Taman Bacaan Pelangi di Kampung Melo sudah beroperasi sejak Maret 2010.

Ada semacam upacara penyambutan sebelum Caci disuguhkan. Yosef Tukis memimpin ritual ini. Ia berbicara dalam bahasa Flores. Untuk kemudian, Mikail Nongko (local guide) menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia. Sambutan warga Melo sungguh sederhana, tapi mengesankan. Kami diberi sepaket pinang-kapur dan segelas tuak untuk dicicipi, lalu beberapa lembar uang juga diserahkan. Resmi sudah, kami diterima di kampung tersebut.

Gerimis turun tepat setelah upacara penyambutan selesai. Enam perempuan masih duduk di atas balebale kayu, memegang alat musik pilihan sendiri; gendang, gong, dan gamelan kayu. Mereka ditimpa hujan. Kendiki (cambuk), giling (tameng), dan koret (penangkis) tergeletak di atas batu. Basah.

Yosef Tukis bercerita. “Tentang Caci, kehidupan manusia dulu berada dalam satu pulau, (yang asalnya) dari berbagai pulau. Awalnya tidak harmonis. Selalu ada perang tanding, baku musuh, tapi satu waktu tetap ada perdamaian. Perdamaian ini mungkin ilham dari leluhur untuk mendamaikan situasi yang tidak aman, membuat suatu persembahan yang di dalamnya ada Caci juga.”

Di luar itu, hujan semakin deras. Caci ditimbang-timbang hendak dibatalkan. Selama ini, tidak pernah sekalipun Caci dimainkan ketika hujan. Tapi, ternyata memang selalu ada yang pertama untuk setiap hal. Yosef Tukis memberikan izin. Caci tetap diselenggarakan. Gairah menguar di Kampung Melo yang tanahnya basah sore itu. Semangat Caci semakin lengkap dengan kopi Flores yang disuguhkan panaspanas dan sebotol tuak.

Sukma Dede, seorang kawan, menjadi pembuka Caci. Ia didaulat mencambuk warga Melo sebagai tanda Caci dimulai. Sore itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Caci ditarikan dalam hujan.

Tujuh lelaki berkemeja putih menjadi pengiring nyanyian sepanjang Caci, dan jagoannya adalah empat lelaki. Mereka adalah para pelaku Caci yang sudah siap dengan kendiki, giling, dan koret di tangan. Iring-iringan musik dari tetabuhan gendang dan gong mengeras.

Gerakan tari mereka dirancang serupa sebuah gerakan tidak harmonis; gerak baku, gerak berkelahi. Tapi, yang sebenarnya, itu merupakan gerakan cerminan kegembiraan, sesuai dengan makna Caci itu sendiri, yaitu meluapkan kegembiraan terhadap sang pencipta dan keluarga. Tidak cuma melakukan koreografi yang kelihatannya tidak selaras, para penari Caci juga saling mencambuk dengan kendiki (pecut).

“Caci ini baku pukul. Tapi, apakah dia kena atau tidak, luka atau tidak, tidak ada rasa dendam. Setelah selesai Caci, tidak ada rasa dendam. Caci bukan pertandingan,” suara Yosef.

Tanah sudah basah, nyaris menggenang. Para penari Caci, serta para perempuan penabuh gendang dan gong kuyup tidak karuan. Tapi, semangat mereka tidak padam. Kami yang menonton dari gazebo beratap jerami di pinggiran desa geleng-geleng kagum.

Kopi Flores sudah tidak lagi panas. Sebotol tuak juga sudah habis setengahnya. Caci selesai dengan seluruh pelaku tari berjalan riang sembari (masih) bernyanyi-nyanyi menuju rumah adat mereka. Namun, ternyata pertunjukan masih berlangsung. Para perempuan yang tadinya berada di balik gendang dan gong turun ke medan tari. Mereka menarikan sebuah tarian cantik berkoreografi teratur. Namanya Tari Nundu Dake. Bagian paling menyenangkan adalah ketika para perempuan penari Nundu Dake menarik kami ke ‘panggung’ tari, dengan melingkarkan kainnya ke leher kami. Dalam hujan, kami menari bersama. Meski kuyup, ini
adalah pengalaman sangat menyenangkan yang bisa jadi tidak bisa diulang kembali.

Nundu Dake selesai ketika semua orang sudah basah oleh kegembiraan. Belum selesai. Ternyata masih ada tari selanjutnya; Tektek Alu.
Biasanya, Tari Tektek Alu ditarikan ketika malam bulan purnama oleh lelaki dan perempuan yang mencari pasangan atau jodoh. Kalau Caci dimainkan di siang hari saat panen, malam harinya Tektek Alu. Tapi, kali ini berbeda.

Tektek Alu serupa permainan lompat alu. Batang-batang bambu yang dipegang di masing-masing ujungnya dibentuk menjadi rangkaian persegi sejengkal di atas tanah. Para penari mesti melompati bambu-bambu tersebut sesuai irama, tanpa terjerembab.
Dan, Tektek Alu kali itu lagi-lagi melibatkan kami untuk turun serta dalam permainan. Hujan, tawa renyah di wajah semua orang, suara ketukan bambu, dan cecipratan air adalah citraan terakhir yang saya ingat dari Kampung Melo. Menyenangkan!

Tentang Caci
Caci adalah sebuah tarian tradisional Melo yang berawal dari tarian yang dimainkan saat peresmian kampung baru, yang menyuguhkan persembahan bernama Berilka. Berilka ini dilengkapi Caci. Setelah itu, karena Manggarai bertani dan berkebun-ladang, Caci kemudian jadi suguhan kala syukur panen. Lalu, berkembang menjadi pergelaran hiburan saat acara perkawinan, menerima pejabat, acaraacara keagamaan, dan kini menyambut tamu-tamu atau wisatawan.

4 Comments Add yours

  1. ganteng says:

    Katanya bisa sampe salah satu ada yang meninggal ya? Terus setelah itu seakan gak terjadi apa-apa, malah pada pesta. Apa itu zaman dulu ya? hemm. Anyway nice writing kk🙂

    1. Atre says:

      zaman sekarang, belum pernah denger ada yang sampai mati. mungkin dulu, kenapa akhirnya ada Caci. karena Caci sebetulnya untuk melerai peperangan dan melenyapkan dendam dengan tari-tarian, Wira. ndak ada dendam dalam Caci.

      soal tulisan, makasih yak. masih banyak belajar nih! kritik dong!🙂

      1. ganteng says:

        oalah disuruh kritik, saya aja kalo nulis cuma asal pake feeling haha. Kritik foto aja yah, kalo buat portrait mau motong kepala jangan sampe jidat haha, kalo kepotong bagian rambut dikit malah bagus. (foto 3)

      2. Atre says:

        SIAPPPPPPPP!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s