Cara Kerja Mimpi

Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana cara kerja mimpi. Tapi, ia kadang-kadang menghadirkan orang yang paling kita rindu tepat waktu. Menyelamatkan kita dari mengapung yang berkepanjangan.

***

Lelaki ini siapa, saya sudah tidak peduli. Orang asing atau bukan, tidak lagi penting. Dalam sembab saya, yang jelas hanya ia yang ada. Ketika semua suara menyodorkan pilihan untuk mencoba kesempatan kedua, ia dengan tenang mengatakan, “Kamu tau yang paling baik.”

Saya memandangi keping-keping merah yang berserakan di halaman. Saya menyapunya hati-hati dan mengumpulkannya. Dalam hati berujar, apa yang sudah hancur tidak akan mungkin bisa kembali utuh. Di sapuan terakhir, saya sudah tahu, apa yang paling baik untuk saya. Alih-alih menyimpan keping-keping itu, saya membuangnya di tempat yang paling baik untuk diri saya dan untuk kepingan itu. Sebuah kotak bernama masa lalu.

Saya masih menangis. Nyaris setiap hari saya tersedu-sedu ringkih. Tapi masih, di balik kacamata saya yang berembun air mata, yang kelihatan hanya si lelaki pemberi senja. Ia ternyata masih mengada. Ia kadang-kadang membantu saya merapikan apa yang berantakan. Kadang-kadang ia mengulurkan tangan untuk membantu saya berdiri.

Siapa ia, saya sudah tidak peduli lagi. Tapi pertanyaan lalu berbalik, siapa saya? Ternyata ia juga tidak peduli. Tidak ada lagi yang penting. Yang penting cuma saat ini dan segala kehangatan yang tidak terkatakan. Lalu saya lupa, saya luka.

***

Malam itu, demam saya tinggi. Yang ada hanya hidung yang tersumbat, pening di tengah dahi, dan suhu tubuh yang melonjak. Lelaki pemberi senja ada di seberang sana, jauh di timur. Suaranya seperti biasa, kedengaran letih tapi menyenangkan dan selalu bisa menenangkan.

Sampai saya sudah tidak sanggup akan sakit, saya tertidur–setelah angan-angan melayang ke Banda Neira dan mengkhayalkan kami bertemu malam itu juga.

Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana cara kerja mimpi. Tapi, ia kadang-kadang menghadirkan orang yang paling kita rindu tepat waktu.

Lelaki itu muncul dalam mimpi saya malam itu. Meski mimpi, terasa saya senang bukan main. Meskipun, plot mimpi itu sangat kacangan. Sungguh kacangan.

Kami berjalan dalam malam. Tangannya yang besar lengket di tangan saya yang hanya secuilnya. Kami memandang ke depan, di jalan setapak yang di kanan-kirinya dijejali rumah. Hingga sampailah kami di depan sebuah rumah besar berdinding bata. Saya mengingatnya seperti rumah dalam setting Letters to Juliet di Paris. Tua-tua keladi, makin tua makin menarik hati.

Saya tersenyum. Lelaki pemberi senja itu juga demikian. Tangan kami masih saling menggenggam. Dan, ini bagian paling kacangan dalam mimpi ini (maafin! :D). Entah bagaimana rumah besar itu tidak kami masuki. Kami malah … mmm … terbang. Iya, maaf kalau terlalu fantasi. Tapi, kami tiba-tiba terbang. Di sini, tawa kami pecah. Entah karena apa. Mungkin kesenangan karena angin yang menyibak-nyibak keras rambut kami. Mungkin juga karena sadar bahwa ini sungguh-sungguh menggelikan; masa’ kita tiba-tiba terbang, tjuk? Atau, mungkin karena memang tidak perlu ada alasan untuk berbahagia.

Hingga kami tiba di sebuah padang rumput luas. Langit sedang cerah, sama seperti hati saya (saya tidak tahu sama sekali bagaimana hati -nya). Bintang di mana-mana. Tapi kami tidak rebah menikmati semua. Kami masuk ke sebuah rumah kayu. Saya langsung mengingat rumah mungil itu sebagai rumah manis Anna dalam Closer.

Tidak banyak yang kami lakukan. Hanya tertawa-tawa (masih) tanpa alasan. Bisa jadi ini yang disebut Paulo Coelho dalam The Alchemist. “When two people fall in love, past and future dissapear.

Tapi saya tidak tahu apa saya jatuh cinta. Saya juga tidak tahu apa ia jatuh cinta. Tapi saya tahu ia adalah hal yang paling saya inginkan saat ini untuk nanti. Tapi segalanya masih terlalu banyak tapi. Dan tiap-tiap tapi ini menunggu jawabannya sendiri.

Ah, betapa curangnya mimpi. Ia kemudian berhenti ketika saya dan lelaki itu memeluk malam kencang-kencang. Pagi cepat datang. Mata saya membuka. Tapi pelukannya masih ada. Hangatnya masih terasa. And last night I dreamt that somebody loved me.

6 Comments Add yours

  1. teteh says:

    kalo menurut mata clairvoyant saya… ini pertanda baik. mimpi Anda berarti sesuatu yang baik… akan ada kebaikan bersama si lelaki pemberi senja itu. *acik2.. cwitcwiiiwww..*

    1. Atre says:

      teteh🙂

  2. leonardo says:

    #teamSusahMoveOn

    Temenku ada yang bisa mengingat detail mimpinya –yang kebanyakan ketemu simbol dan moster– dan kemudian menggambarkan ke buku catatan mimpi miliknya.

    Anda, berada di level yang berbeda. Tulisan yang keren, Tre!

    1. Atre says:

      …beserta arti mimpinya tah?

  3. Citra Rahman says:

    Kata ‘tjuk’ ituu…ah biarlah…

    1. Atre says:

      kenapa cit, kata ‘tjuk’-nya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s