Tidak Ideal, tapi Kontekstual

Bahwa sesungguhnya kebahagiaan itu (juga) sangat kontekstual.

Awal Juni saya berangkat ke Bandung. Kerja. Wawancara. Menemui dua arsitek yang kebetulan berdomisili di sana. Yang satu bernama Yu Sing Lim, yang dikenal dengan karya-karya rumah tumbuhnya yang berbudget terjangkau. Satunya lagi Sarah Ginting, perempuan Batak menyenangkan yang realistis. Saya dan empat kawan seharian bicara soal arsitektur hunian dan kaitannya dengan perilaku orang-orang yang ada di bawah atapnya.

Bicara panjang-lebar, sampai akhirnya kedua arsitek tersebut sepakat, “Nggak ada rumah yang ideal.” Ideal itu sendiri bukan sebuah konsep yang kontinu, permanen. Tidak bisa jika sekali ideal, akan selamanya ideal. Sederhananya, ideal hari ini belum tentu ideal lima tahun lagi.

Yu Sing malah sempat menegaskan, “Saya nggak berani pake kata ideal. Mungkin lebih tepat kontekstual.” Kontekstual. Kini kita berhadapan dengan sebuah konsep kata yang tidak ajeg. Ia selalu sesuai konteks. Sementara konteks itu sendiri berubah-ubah dan sangat relatif. Tapi masuk akal. Ideal bagi saya belum tentu ideal bagi orang lain. Ideal bagi arsitek, belum tentu ideal bagi wartawan. Seterusnya, seterusnya.

***

Jakarta. 21 Juni 2012. Badan saya letih nggak ketulungan. Biasa, didera deadline habis-habisan. Tapi saya mulai senang mengerjakan apa yang saya kerjakan saat ini, asal saya bisa menulis. “Menulis adalah sebuah keberanian,” Pram bilang. “…Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari,” beliau meneruskan.

Tapi hari itu saya letih sekali. Penulis kadang-kadang butuh jeda jauh dari tinta. Penulis seharusnya punya waktu-waktu tertentu untuk jauh dari kata. Tapi, tidak bisa. Seolah kini, tidak-melakukan-apa-apa menjadi sebuah kemewahan yang sulit dirasakan.Lalu, wajah Yu Sing membayang. “Nggak ada rumah yang ideal, yang ada kontekstual.” Ternyata, begitu pula kebahagiaan.

Setiap orang punya kebahagiaannya masing-masing. Pada satu manusia pun, kebahagiaannya 10 tahun yang lalu belum tentu tetap menjadi kebahagiaannya hari ini. Bahwa kebahagiaan itu sendiri begitu relatif, begitu kontekstual–memakai istilah Yu Sing.

Di suatu masa, kebahagiaan Mohtar Lubis di era-era tertentu mungkin sangat kental kaitannya dengan penegakkan hak-hak asasi manusia di Indonesia. Tidak cuma di kalangan kelas menengah ke atas, tapi juga bawah. Namun, bisa jadi, beberapa tahun setelahnya, kebahagiaan utamanya bukan lagi hanya tentang itu.

Kebahagiaan Putu Wijaya dulu mungkin adalah ketika tulisan-tulisannya tampil di Tempo dan dibaca banyak orang. Kini mungkin bukan itu lagi. Mungkin kebahagiaan paling besar adalah ketika ia bisa mampu membuat pementasan teater yang diperhitungkan dunia.

Kebahagiaan Sapardi Djoko Damono dulu mungkin adalah menjalin kata per kata menjadi sajak manis yang – tidak ia perkirakan – diingat sepanjang masa. Tapi kini mungkin kebahagiaan terbesarnya adalah bisa berkumpul bersama keluarga di hari tua, dengan kesehatan yang cukup, dan di sisi lain masih bisa berdiskusi cerdas dengan mahasiswa-mahasiswanya di kampus.

Bisa jadi. Semua itu bisa jadi. Tapi bisa juga tidak. Itu hanya ada dalam pikiran saya.

Tapi yang jelas, kebahagiaan memang tidak ideal. Ia betul kontekstual–setidaknya bagi saya.

Dulu, ketika masa sekolah, kebahagiaan terbesar saya adalah juga angan-angan terbesar saya: memiliki keluarga utuh, lengkap, dan sempurna. Tapi, hal itu tidak lagi menjadi kebahagiaan terbesar saya, mengingat itu tidak akan pernah terjadi. Lalu, lulus kuliah, kebahagiaan terbesar saya adalah berkesenian; musikalisasi puisi, teater, membaca sastra, sampai bermimpi ingin menjadi wartawan Kompas. Harian Kompas. Tapi itu bukan lagi kebahagiaan utama saya sekarang.

Semakin kita mendewasa, kebahagiaan itu rasanya tidak perlu lagi yang besar-besar. Sebab, kebahagiaan itu sebetulnya sangat sederhana. Ya memang, saya sudah menjadi wartawan sekarang. Tapi bukan itu. Bukan karena kebahagiaan itu sudah tercapai lantas ia tidak lagi menjadi kebahagiaan. Cenderung karena kebahagiaan itu sendirilah yang mengubah wujudnya. Walaupun menulis tetap menjadi kebahagiaan saya selamanya.

Kini, saya bisa bilang, kebahagiaan buat saya sekarang bukan lagi persoalan negara, bukan juga persoalan cita-cita, tapi pada siapa ingin saya menghabiskan waktu bersama. Rasanya sudah sangat cukup, jika di waktu yang sedang capek-capeknya ini, ada orang yang bisa dimintai peluk. Ada lelaki yang mengatakan “I love you” berulang-ulang sampai saya tertidur pulas. Ada yang menyodorkan kopi hangat di sela saya mengetik transkrip wawancara yang banyak. Ada ia di ujung hari di setiap hari-hari letih saya. Saya rasa itu sangat cukup.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s