Mata yang Marah

Ada mata yang begitu banyak menyimpan kemarahan. Mata-mata yang ketika Anda melihatnya – walaupun hanya sejentikan waktu -, terasa ada godam yang memukul-mukul balik bola mata Anda. Rasa perihnya bahkan bisa terasa sampai ke tulang sendi.

Ahmad Tohari pernah bilang melalui salah satu cerpennya, ada mata-mata yang memang enak dipandang, ada mata-mata yang tidak enak dipandang. Saya sering melihat mata yang enak dipandang. Meski jarang bisa ditemukan di jalanan asing di kota besar, setidaknya kita bisa menemukan mata yang enak dipandang pada orang yang kita sebut kawan, pada mereka yang kita hayati sebagai keluarga, atau pada seseorang yang paling renjana dalam hidup kita.

Pagi ini, saya menemukan (satu lagi) mata yang tidak enak dipandang. Mata yang penuh kemarahan. Mata yang bahkan tidak kuat untuk saya perhatikan benar – walau sebentar. Di atas bis rakyat, Kopaja P20.

Bis yang saya naiki ini penuh sesak. Saya sendiri kedapatan berdiri di area depan bis, Dari pantulan kaca spion sebuah bis, lelaki yang ada di balik kemudi bis tersebut menatap lurus ke jalan. Mimiknya tidak terbaca. Datar. Ia tidak bicara sama sekali, hanya mendengus kecil-kecil-kecil.

Tidak ada yang aneh sampai ketika bis ini berjalan. Saya adalah orang yang percaya, bahwa cara menyetir seseorang sedikit-banyak menggambarkan suasana hati atau karakter orang tersebut. Apa pun itu jenis kendaraannya. Dan, bapak supir bis ini saya bisa bilang, suasana hatinya tidak karuan. Atau, memang begitulah ia. Ia salip sana, salip sini. Ngerem mendadak, ngegas pol-polan, semua serba tidak teratur.

Saya perhatikan satu-satu wajah beberapa penumpang. Sebagian besar memang tidur. Tapi, mereka yang sadar, semua memicingkan mata. Seperti ingin marah, tapi tertahan di tenggorokan. Saya tidak ingin marah. Saya cuma melanjutkan pengamatan dan menikmati segala bentuk emosi yang ada di atas bis pagi ini.

Hingga akhirnya saya kedapatan bersirobok mata dengan bapak supir melalui kaca spion yang ada di atas kepala si supir. Dan, saya memalingkan mata cepat-cepat, menjauhi matanya. Ada marah yang sangat dalam di matanya. Saya jelas tidak tahu apa yang membuat dia marah. Saya juga tidak tahu apakah ia hanya hari ini saja marah. Atau, apakah ia sudah memendam marah ini seumur hidupnya?

Kemarahan itu lalu menjalar ke sebagian besar penumpang. Karena bapak supir melampaui batas pemakluman orang-orang atas konsep “menyetir yang aman”. Mata marah jadi banyak. Tidak cuma mata si bapak supir. Saya jadi ngeri sendiri. Betapa mudah seorang manusia memarahkan matanya. Betapa kita lebih senang untuk memilih menjadi sebal dan marah, ketimbang mengademkan yang marah dan sama-sama adem.

Saya tengok lagi dengan takut-takut kaca spion tadi. Saya tidak lagi menemukan mata marah itu. Ia sedang asyik menatap lurus ke depan. Pertanyaan kecil muncul, apa sesulit itu menjadi bahagia, dan melupakan kemarahan?

Ah, saya cuma mau membuat mata saya menjadi mata yang enak dipandang, bukan mata yang menyimpan kemarahan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s