Wisata Bencana yang Sendu ke Merapi

Akhir April 2012, saya ke Yogyakarta lagi. Kali ini pasca erupsi Merapi di tahun 2010 yang sempat meluluhlantakkan tidak hanya Kota Jogja secara fisik, tapi juga hati banyak orang Indonesia.

Saya ingat betul, seluruh Indonesia berduka kala itu. Tanpa kecuali, bahkan kita yang tidak tinggal di kawasan Jogja dan sebetul-betulnya tidak kehilangan keluarga atau harta-benda. Tapi, ini bukti, orang Indonesia masih punya hati. Bahwa kita masih merasa bersaudara–meski belakangan ini kita sering lupa (FPI dan perusuh tak geunah di luar sana mungkin bisa dengar?).

Awalnya, ini seperti trip yang sangat biasa, sangat senang-senang. Saya dan kawan-kawan Intisari mampir di banyak tempat yang notabene “tempat wisata mainstream“. Contohnya ya, Gudeg Yu Djum, Gudeg Pawon, Malioboro, Perkebunan Salak Sleman, dan lain-lain. Semua seperti yang tadi saya bilang, seperti selayaknya trip yang sangat biasa. Sampai akhirnya kami ke Merapi.

Sudah dua tahun sejak erupsi, Merapi sudah berstatus aman. Tapi, desa-desa di kaki gunung sudah tidak ada. Rata. Yang ada hanya pasir vulkanik hitam di mana-mana. Pohon-pohon jadi minoritas. Gersang jadi juara.Ini bahaya, hati saya sudah memperingatkan. ‘Itinerary‘ ini berbahaya, saya yakin.

Tujuan kami adalah Kaliadem. Sejak dari satu titik–yang saya lupa namanya–, kami sudah diajak naik jeep. Bagian ini sebetulnya menyenangkan. Ini kali pertama saya ber-jeep ria ramai-ramai (total ada lima jeep). Sensasinya membikin nagih. Tapi lalu, di perjalanan, kami melewati kamp-kamp pengungsian, rumah-rumah gubuk sementara, hingga sampai di padang pasir vulkanik yang luas–sejauh mata memandang. Sementara, Merapi kelihatan gagah agak di jauh jangkauan mata.

Perjalanan ini membikin pusing. Bukan cuma karena track off-road yang berkerikil naik-turun, tapi juga karena senang-sendu harus dirasakan berganti-ganti dalam interval yang sangat pendek. Tujuan kali ini membikin limbung. Di satu sisi, Merapi tetap indah meskipun hanya berpasir hitam. Di sisi lain, timbul ingatan, berapa manusia yang kehilangan nyawa di sana. Tulang-belulang ternak juga masih berceceran di sini-sana.

Kami masih juga sempat berhenti. Perasaan saya sudah tidak karuan. Di sela melihat batu besar berbentuk manusia yang unik, mata saya tidak mau lepas dari celuk kosong yang dulunya adalah Kali Gendol. Lahar dingin sempat mengalir deras di sana. Muncul lagi ingatan tentang berapa banyak nyawa dan harta benda terseret bersama arus lahar dingin.

Di antara para wisawatan yang sedang lava tour, tiba-tiba muncul seorang perempuan–penduduk lokal–yang sibuk sendiri. Ia mencangkuli pasir, mencari sesuatu. Beberapa dari kami (Intisari) tidak tahan untuk tidak bertanya.

Nama ibu itu, jujur, saya lupa. Yang saya ingat hanya artinya, yaitu “diperam”. Apa bahasa Jawa untuk “diperam”? Ya mungkin itu benar namanya. Setelah sedikit ditanya sedang apa, ia menjawab dengan tidak pernah meninggalkan senyum dari wajahnya. Ia menjawab, “Mencari pupuk.”

Rupanya, salah satu titik di padang pasir vulkanik itu dulunya adalah rumah si ibu. Letaknya tidak jauh dari batu besar berbentuk wajah. Kenapa ia tekun mencangkul di sana? Katanya, ia sedang menggali dan mencari pupuknya yang berkarung-karung dikubur dalam tanah. Soal letak, ia sendiri tidak tahu pasti. Ia hanya menduga-duga, sekiranya di spot ia mencangkul itulah, tempat dulu pupuknya dikubur. Ia hanya mengandalkan insting.

Pupuk-pupuknya itu ia butuhkan untuk memulai lagi hidup baru. Ia ingin mulai menanam. Daripada membeli (tidak ada uang), ia kembali dari kawasan pengungsian untuk mencari pupuk-pupuknya yang terkubur. Kami tidak yakin bahwa pupuk itu masih ada. Tapi, ibu ini yakin. Ia terus menggali. Sudah satu meter cerukannya.

Sekitar satu jam setelahnya, ia masih mencangkul. Tidak ada tanda-tanda karung pupuk yang si ibu maksud. Kami juga masih mengelilingi lubang yang ia buat, sedikit-banyak juga ikut berharap bahwa akan menyembul berkarung-karung pupuk tepat di titik acak yang dipilih si ibu. Betapa hebat sebuah keyakinan; ia menular sangat cepat, membuat yang tadinya tidak percaya bisa berubah percaya.

Ketika kami sudah harus pergi dari Kaliadem, si ibu itu juga berhenti mencangkul. Peluhnya sudah di mana-mana.

Sudah cukup untuk hari ini. Saya bisa balik lagi besok. Begitu kira-kira katanya, dalam bahasa Jawa.

Dia tidak menyerah. Dia masih yakin. Dia hanya mencoba realistis. Besok bisa dicari lagi. Dan, setelahnya, saya pribadi di sepanjang perjalanan balik menyelesaikan lava tour ini, tertegun. Guru itu ada di mana-mana, tidak hanya di sekolah. Hiduplah sebenar-benarnya sekolah. Dan, sebenar-benarnya guru adalah ia yang menularkan paham baik dengan tanpa pamrih, bahkan tanpa bermaksud menggurui.

Perjalanan ini jadi tidak terlalu sendu-sendu amat pada akhirnya.

Buka mata, guru itu bisa ada di mana-mana🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s